بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Setalah ia kembali ke Madinah, ia
mempersembahkan jiwa, harta dan keluarganya untuk kepentingan Islam. Setelah
Rasulullah hijrah ke Madinah, Abu Jabir menemukan nasib bahagianya dengan
bersama nabi, baik siang maupun malam.
Pada Perang Badar ia turut menjadi mujahid
dan bertempur sebagai seorang pahlawan. Pada Perang Uhud, sebelum kaum Muslimin
berangkat perang, telah terbayang di ruang matanya bahwa ia akan gugur. Suatu
perasaan kuat meliputi dirinya bahwa ia tidak akan kembali sehingga hatinya
terasa seperti terbang oleh kegembiraan.
Ia memanggil putranya, Jabir bin Abdullah,
yang merupakan seorang shahabat Nabi yang mulia, lalu berpesan kepadanya, “Aku
merasa yakin akan gugur dalam pertempuran ini, bahkan mungkin menjadi syahid
pertama di antara kaum Muslimin. Demi Allah, aku tidak lebih mencintai seorang
pun selain cinta terhadap Rasulullah selain kepadamu. Aku mempunyai utang, maka
bayarlah utangku dan berwasiatlah kepada saudara-saudaramu agar mereka suka
berbuat baik.”
Pada pagi hari berikutnya, kaum Muslimin
berangkat untuk menghadapi orang-orang Quraish yang datang dengan pasukan besar
dengan tujuan hendak menyerang kota merek yang aman tenteram.
Pertempuran sengit pun berlangsung. Pada
mulanya kaum Muslimin memperoleh kemenangan yang cepat, dan mungkin dapat
menjadi kemenangan telak seandainya pasukan pemanah yang diperintahkan Nabi
agar tetap berada di tempat dan tidak meninggalkan posisi mereka. Mereka
terpedaya melihat kemenangan terhadap Quraish ini, hingga mereka meninggalkan
posisi mereka di atas bukit, lalu sibuk mengumpulkan harta rampasan dari musuh
yang kalah.
Pasukan Quraish, yang bisa mengumpulkan
sisa kekuatan dengan cepat dan melihat barisan pertahanan kaum Muslimin terbuka
lebar, secara tidak terduga menyerang kaum Muslimin dari belakang, hingga
kemenangan kaum Muslimin yang sebelumnya sekarang berubah menjadi kekalahan.
Dalam pertempuran dahsyat ini, Abu Jabir
Abdullah bertempur dengan gagah berani layaknya pertempuran terakhir dalam
mencapai kesyahidan. Tatkala perang telah usai dan kaum Muslimin mengevakuasi
para syuhada, Jabir bin Abu Jabir Abdullah pergi mencari ayahnya dan akhirnya
menemukannya di antara para syuhada itu. Tidak berbeda dengan pahlawan-pahlawan
lain, jasadnya telah dicincang oleh orang-orang musyrik.
Jabir dan sebagian keluarganya berdiri dan
menangisi Abdullah bin Amr bin Haram yang gugur syahid membela Islam. Saat
mereka sedang menangisinya itu, Rasulullah melintas lalu bersabda, “Kalian
menangisinya maupun tidak, para malaikat akan tetap menaunginya dengan
sayap-sayap mereka.”
Keimanan Abu Jubair merupakan keimanan
yang teguh dan kuat. Kecintaan untuk mati di jalan Allah adalah puncak
keinginan dan cita-citanya. Setelah Abu Jabir gugur, Rasulullah pernah
menceritakan suatu berita penting yang melukiskan kerinduan Abu jabir untuk
mati syahid ini.
Suatu hari, beliau bersabda kepada
putranya Abdullah bin Amr bin Haram (Jabir), “Wahai jabir,
tidak seorang pun yang diajak berbicara oleh Allah, kecuali dari balik tabir.
Tetapi, Allah telah berbicara berhadap-hadapan dengan ayahmu. Allah berfirman
kepadanya, ‘Wahai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, niscaya
kuberikan.’
Maka ia berkata, ‘Wahai Rabbku, aku memohon
kepada-mu agar aku dikembalikan ke dunia agar aku dapat mati syahid sekali
lagi.’
Allah berfirman kepadanya, ‘Sudah menjadi
ketentuan dari-Ku, bahwa mereka yang telah mati tidak akan dikembalikan lagi.’
Ia berkata, ‘Bila demikian, wahai Rabbku,
sampaikanlah kepada orang-orang dibelakangku nikmat yang Engkau limpahkan
kepada kami’.”
Maka Allah menurunkan ayat:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ
قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ
يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa
orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi
Tuhannya dengan mendapat rezeki.
QS:Ali Imran | Ayat: 169
QS:Ali Imran | Ayat: 169
فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ
مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ
خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Mereka dalam keadaan gembira
disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang
hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul
mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati.
QS:Ali Imran | Ayat: 170
QS:Ali Imran | Ayat: 170
Ketika kaum Muslimin berusaha
mengidentifikasi para syuhada yang mulia setelah Perang Uhud berakhir, dan
tatkala keluarga Abdullah bin Amr telah mengenali jasadnya, istrinya
menaikkannya ke atas untanya beserta mayat saudaranya yang juga gugur syahid,
dengan maksud akan membawanya ke Madinah untuk dimakamkan di sana. Hal serupa
juga dilakukan oleh kaum Muslimin terhadap keluarga mereka yang gugur. Namun,
seorang juru bicara Rasulullah menjumpai mereka dan menyampaikan perintah beliau,
“Makamkanlah pasa syuhada itu di tempat mereka
gugur.”
Mereka pun kembali dengan membawa para
syuhada tersebut. Rasulullah memimpin proses pemakaman para shahabatnya yang
telah gugur syahid, yang telah memenuhi apa yang mereka janjikan kepada Allah,
dan mengorbankan nyawa mereka yang berharga, demi bakti mereka kepada Allah dan
Rasul-Nya.
Ketika giliran pemakaman Abdullah bin Amr
bin Haram tiba, Rasulullah bersabda, “Kuburkanlah
Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr bin Al-Jamuh di satu liang karena mereka
berdua saling mencintai dan saling menyayangi di dunia.”
Sekarang, selama detik-detik penyiapan
lubang kubur untuk menyambut kedua syuhada yang mulia itu, marilah kita
mengalihkan pandangan cinta kita sejenak kepada syahid yang kedua, yaitu Amr
bin Al-Jamuh.
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
0 komentar:
Posting Komentar