Selasa, 31 Desember 2013

Filled Under:

Abdurrahman bin Auf (Apa yang Membuatmu Menangis, Wahai Abu Muhammad?).

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

     Suatu hari, saat kota Madinah sedang dalam suasana aman dan tenang, terlihat dari tempat ketinggian di pinggir kota debu tebal yang mengepul di udara. Debu itu semakin meninggi bergumpal-gumpal hingga hampir menutupi angkasa. Angin yang bertiup menyebabkan gempalan debu dan butiran-butiran pasir sahara yang lembut dan terbang menghampiri pintu-pintu rumah di Madinah, dan berhembus dengan kuat di jalan-jalan.

     Orang-orang menyangka ada badai yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi, kemudian dari balik tirai debu itu mereka mendengar sebersit kabar tentang kedatangan kafilah besar yang panjang. Tidak lama kemudian, tujuh ratus kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan dan mengguncang Madinah. Orang-orang saling memanggil dan mengajak sesamanya untuk menyaksikan keramaian ini serta turut gembira atas kedatangan harta dan rezeki yang dibawa kafilah itu.

     Ummul Mukminin Aisyah, ketika mendengar suara hiruk-pikuk kafilah yang sedang bergerak maju itu, bertanya, “Apa yang terjadi di kota Madinah?

     Ada yang menjawab, “Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya.

     “Jadi, kafilah itu yang telah menyebabkan semua guncangan ini?” Tanya Ummul Mukminin.

     “Benar, wahai Ummul Mukminin. Jumlahnya tujuh ratus kendaraan.

     Ummul Mukminin menggelengkan kepalanya. Pandangannya menerawang jauh seolah-olah sedang mengingat peristiwa yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya.

     Kemudian ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak’.” (hadits dha’if)

     Abdurrahman bin Auf memasuki surga dengan merangkak? Mengapa ia tidak memasukinya dengan meompat atau berlari-lari kecil bersama angkatan pertama para shahabat Rasulullah? Sebagian shahabat menyampaikan cerita Aisyah ini kepadanya, maka ia pun teringat telah mendengarkan hadits ini dari Nabi lebih dari satu kali dan dengan redaksi yang berbeda-beda.

     Sebelum tali pengikat perniagaannya dilepaskan, Abdurrahman melangkahkan kakinya ke rumah Aisyah lalu berkata kepadanya, “Engkau telah mengingatkanku suatu hadits yang tidak pernah kulupakan. Maka saksikanlah bahwa kafilah ini dengan semua muatannya beserta kendaraan dan perlengkapannya, aku persembahkan di jalan Allah Azza wa Jalla,” tambahnya. Seluruh muatan tujuh ratus kendaraan itu dibagi-bagikan kepada seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang agung.

     Peristiwa yang satu ini saja sudah cukup untuk mengukir sebuah gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurrahman bin Auf. Dialah saudagar yang sukses, lebih sukses dari kesuksesan yang pernah ada. Dia merupakan orang kaya dengan kekayaan yang melimpah ruah.dia adalah seorang Muslim yang bijaksana, yang tidak ingin bagian dari keuntungan agamanya hilang begitu saja, dan tidak sudi kekayaannya membuat dirinya tertinggal dari kafilah iman dan pahala surga. Untuk itu, ia mendermakan harta kekayaannya dengan kemurahan hati dan kesadaran nurani.

     Kapan dan bagaimana proses keislaman orang besar ini? Ia masuk Islam sejak fajar menyingsing. Ia telah memasuki Islam pada permulaan dakwah, yakni sebelum Rasulullah memasuki Darul Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para shahabatnya yang beriman.

     Dia adalah salah seorang dari delapan orang yang lebih awal masuk Islam. Abu Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam, termasuk kepada Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidullah, dan Sa’ad bin Abu Waqqash. Tidak ada persoalan yang tertutup bagi mereka, dan tiada keraguan yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah untuk menyampaikan baiat dan memikul bendera Islam.

     Sejak menganut Islam sampai berpulang ke Rahmatullah dalam usia 75 tahun, ia selalu menjadi teladan yang cemerlang sebagai seorang Mukmin yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi memasukkannya ke dalam sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga. Umar mengangkatnya sebagai anggota majelis syura yang terdiri dari enam orang, yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya. Kala itu Umar berpesan, “Rasulullah wafat dalam keadaan ridha kepada mereka.

     Cepatnya Abdurrahman masuk Islam itu telah menyebabkan dirinya terus mengalami penganiayaan dan penindasan dari kaum Quraish. Ketika Nabi memerintahkan para shahabatnya hijrah ke Habasyah, Abdurrahman pun ikut berhijrah. Ia kemudian kembali lagi ke Mekkah, lalu hijrah untuk kedua kali ke Habasyah, dan selanjutnya hijrah ke Madinah. Ia ikut bertempur dalam Perang Badar, Uhud, dan peperangan lainnya.

     Keuntungannya dalam perniagaan sangat besar hingga mencapai batas yang membuat dirinya sendiri merasa takjub dan heran, sehingga ia berkata, “Sungguh, aku melihat diriku ini seandainya mengangkat batu niscaya kutemukan emas dan perak di bawahnya.

     Perniagaan bagi Abdurrahman bin Auf bukanlah jenis perdagangan yang tercela maupun monopoli. Bahkan, ia sendiri bukanlah orang yang loba untuk mengumpulkan harta atas dorongan agar menjadi orang kaya. Sekali-kali bukan itu, melainkan suatu amal dan kewajiban yang keberhasilannya akan menambah kedekatan jiwa kepada Allah dan berkorban di jalan-Nya.

     Abdurrahman bin Auf adalah seorang yang kuat emosi jiwanya di mana ia menemukan kepuasan emosinya itu dalam amal yang mulia di mana berada. Apabila ia tidak sedang shalat di masjid dan sedang tidak berjihad di peperangan, ia pasti sedang mengurus perniagaannya yang berkembang pesat, sehingga kafilah-kafilahnya di Mesir dan Syria membawa ke Madinah barang-barang muatan yang dapat memenuhi seluruh Jazirah Arab, baik pakaian maupun makanan.

     Yang menunjukkan kepada kita bahwa ia seorang yang kuat emosi jiwanya adalah ketika kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Rasulullah pada waktu itu menerapkan aturan untuk mempersaudarakan dua orang shahabat, salah seorang dari Muhajirin warga Mekkah dan yang lain dari Anshar warga Madinah. Persaudaraan ini berjalan dengan sempurna hingga membuat hati terpesona. Orang-orang Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah membagi seluruh kekayaan miliknya menjadi dua dengan saudaranya dari kalangan Muhajirin, bahkan istri pun direlakan. Apabila ia beristri dua, ia pun rela menceraikan satu untuk diperistri saudaranya.

     Ketika itu Rasulullah yang mulia mempersaudarakan antara Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’. Marilah kita dengarkan shahabat yang mulia, Anas bin Malik menceritakan kepada kita apa yang terjadi:

     “sa’ad berkata kepada Abdurrahman, ‘Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak harta. Silakan pilih separuh hartaku dan ambillah. Aku juga mempunyai dua istri. Perhatikan yang lebih menarik hatimu dan aku akan menceraikannya, sehingga engkau dapat memperistri darinya.

     Abdurrahman bin Auf menjawab, ‘Semoga Allah memberkahi dirimu dalam istri dan hartamu. Tunjukkanlah letak pasar kepadaku.

     Abdurrahman pergi ke pasar. Ia berjual beli di sana dan mendapatkan keuntungan.

     Kehidupan Abdurrahman bin Auf di Madinah, baik semasa Rasulullah maupun sepeninggal beliau, selalu ditunaikan dengan sempurna untuk memenuhi hak agama ini dan beramal di dunia. Perniagaannya sukses dan menguntungkan. Seperti diungkapkan sendiri bahwa seandainya ia mengangkat baru dari tempatnya, ia pasti mendapatkan emas dan perak di bawahnya. Salah satu faktor yang membuat perniagaannya berhasil dan mendapatkan berkah adalah karena ia sangat selektif untuk berniaga yang halal dan benar-benar menjauhkan diri dari segala bentuk jual beli yang haram.

     Selain itu, faktor lain yang menambah kejayaan dan keberkahan adalah labanya yang bukan untuk Abdurrahman sendiri, malainkan di dalamnya terdapat bagian Allah yang ia penuhi dengan baik. Ia mempergunakan hartanya untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan dan mengeratkan tali persaudaraan, serta menyediakan perlengkapan yang diperlukan tentara Islam.

     Bila total perniagaan dan kekayaan yang lainnya ditambah keuntungan dengan yang diperolehnya dihitung, jumlah kekayaan Abdurrahman bin Auf itu dapat diperkirakan dengan memperhatikan jumlah yang dibelanjakan di jalan Allah, Sang Pencipta Alam Semesta. Suatu hari ia mendengarkan Rasulullah berabda, “Wahai Ibnu Auf, engkau termasuk golongan orang kaya dan engkau akan masuk surga dengan merangkak. Karena itu, pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, agar Dia mempermudah langkahmu.” (hadits dha’if).

     Sejak ia mendengarkan nasihat Rasulullah ini dan menyediakan bagi Allah pinjaman yang baik, Allah justru semakin melipat gandakan kekayaannya hingga berlimpah. Suatu hari ia menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar, kemudian uang itu dibagi-bagikan semua untuk keluarganya Bani Zuhrah, untuk para istri Nabi, dan untuk kaum Muslimin yang miskin.

     Pada kesempatan yang lain, ia menyerahkan 500 ekor kuda untuk perlengkapan tentara Islam. Pada hari yang lain, ia menyerahkan seribu lima ratus unta.

     Menjelang wafat, ia mewasiatkan 50 ribu dinar untuk diinfakkan di jalan Allah. Ia juga berwasiat bagi setiap orang yang ikut Perang Badar dan masih hidup, masing-masing mendapatkan 400 dinar, hingga Utsman bin Affan juga mengambil bagian dari wasiat itu, meskipun termasuk orang yang kaya. Ia berkata, “Harta Abdurrahman bin Auf adalah halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa keselamatan dan keberkahan.

     Ibnu Auf adalah seorang yang mengendalikan hartanya, bukan dikendalikan oleh hartanya. Sebagai buktinya, ia tidak mau celaka dengan dengam mengumpulkannya dan tidak menyimpannya. Bahkan, ia tetap mengumpulkannya dengan tetap merendahkan hati dan dari jalan yang halal. Kemudian harta itu tidak ia nikmati untuk kepentingan sendiri, melainkan untuk dinikmati bersama keluarga, kerabat, rekan-rekan dan masyarakat seluruhnya.

     Karena begitu luas pemberian serta bantuannya, ada yang mengatakan, “Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya kepada mereka, sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar utang-utang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikannya kepada mereka.” Harta kekayaan ini tidak akan pernah membuat kelegaan dan kesenangan pada dirinya selama ia belum menemukan jalan untuk membela agama dan membantu rekan-rekannya. Adapun untuk selain itu, ia merasa khawatir terhadap harta kekayaannya.

     Suatu hari dihidangkan kepadanya makanan untuk berbuka, karena waktu itu ia sedang berpuasa. Ketika pandangannya tertuju pada hidangan tersebut, selera makannya pun bangkit. Namun, ia justru menangis sambil berkata, “Mush’ab bin Umair telah gugur sebagai syahid, dan ia jauh lebih baik daripada aku. Ia hanya mendapatkan sehelai kain kafan, yang jika ditutupkannya ke kepalanya, maka terlihatlah kedua kakinya. Dan jika ditutupkan kedua kakinya, maka terlihatlah kepalanya. Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripada aku. Ia pun gugur syahid dan saat akan dikuburkan hanya mendapatkan sehelai selendang. Dunia telah dihamparkan kepada kami seluas-luasnya dan hasil sebanyak-banyaknya telah diberikan kepada kami. Sungguh kami khawatir bila pahala kebaikan kami telah disegerakan balasannya (di dunia).

     Pada peristiwa lain, sebagian shahabatnya berkumpul bersamanya menghadapi jamuan makan di rumahnya. Tidak lama setelah makanan diletakkan di hadapan mereka, Abdurrahman menangis sehingga rekan-rekannya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Muhammad?

     Ia pun menjawab, “Rasulullah telah wafat dan semasa hidupnya beliau beserta keluarganya tidak pernah merasakan kenyang makan roti gandum. Apa harapan kita bila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan bagi kita?

     Demikianlah, kekayaannya yang melimpah itu sedikit pun tidak membangkitkan kesombongan dan takabur dalam dirinya, bahkan orang-orang mengatakan tentang dirinya, “Seandainya orang asing yang belum pernah mengenalnya kebetulan melihatnya sedang duduk bersama budak-budaknya, niscaya ia tidak bisa membedakan di antara mereka.

     Tetapi, bila orang asing itu mengenal satu sisi jihad Ibnu Auf dan ujian yang dihadapinya, ia pasti langsung mengetahui siapa dia. Misalnya, ia mengetahui bahwa di badannya terdapat dua puluh bekas luka di Perang Uhud dan bahwa salah satu dari bekas luka ini meninggalkan cacat pincang yang tidak sembuh-sembuh pada salah satu kakinya. Contoh lain, beberapa gigi serinya rontok di Perang Uhud, yang menyebabkan kecadelan yang jelas pada ucapannya. Saat orang asing itu tahu salah satu sisi ini, ia pasti menyadari bahwa lelaki yang berperawakan tinggi dengan wajah berseri, kulit halus, pincang, dan cadel sebagai tanda jasa dari Peranh Uhud, itulah orang yang bernama Abdullah bin Auf. Semoga Allah ridha kepadanya dan ia pun ridha kepada Allah.

     Kita sudah terbiasa memperhatikan tabiat manusia bahwa harta kekayaan itu biasanya menyebabkan seseorang berkuasa. Artinya, orang-orang kaya selalu gandrung untuk memiliki pengaruh guna melindungi kekayaan mereka dan melipat gandakan pengaruh itu, selain untuk memuaskan nafsu, demi kebanggaan, dan kepuasan pribadi. Semua ini merupakan sifat yang biasa bangkit oleh kekayaan. Tetapi, bila kita melihat Abdurrahman bin Auf dengan kekayaannya yang melimpah ini, kita akan menemukan manusia ajaib yang sanggup menguasai watak dasar manusia dalam bidang ini dan melangkahinya ke puncak ketinggian yang istimewa.

     Peristiwa itu terjadi ketika Umar bin Al-Khatthab hendak berpisah dengan rohnya yang suci dan memilih enam orang di antara para shahabat Rasulullah agar mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang baru.

     Pada waktu itu, semua jari telunjuk menuju kepada Ibnu Auf. Bahkan sebagian shahabat telah menegaskan bahwa dialah orang yang lebih berhak menjadi khalifah di antara enam orang itu. Namun, ia menjawab, “Demi Allah, seandainya diambilkan pisau lalu diletakkan ke atas leherku, kemudian kalian memasukkannya sampai tembus, itu lebih aku sikai daripada menerima jabatan tersebut.

     Demikianlah, saat awal enam orang terpilih itu mengadakan untuk memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang akan menggantikan Al-Faruq, Umar bin Al-Khatthab. Abdurrahman telah menyatakan kepada rekan-rekannya bahwa ia telah melepaskan haknya yang dilimpahkan Umar kepadanya sebagai dalah seorang dari enam calon yang akan dipilih menjadi khalifah. Dengan demikian, kewajiban mereka untuk melakukan pemilihan itu terbatas di antara mereka berlima saja.

     Sikap zuhudnya terhadap jabatan pangkat ini dengan cepat telah menempatkan dirinya sebagai hakim di antara lima orang tokoh terkemuka itu. Mereka menerima dengan senang hati agar Abdurrahman bin Auf menetapkan khalifah itu terhadap salah seorang di antara mereka berlima. Ali mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah menyifatimu bahwa engkau adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit dan dipercaya pula oleh penduduk bumi.” Ibnu Auf akhirnya memilih Utsman bin Affan untuk jabatan khalifah dan yang lain pun menyetujui pilihannya.

     Itulah hakikat seorang lelaki yang kaya raya dalam Islam. Apakah anda memperhatikan bagaimana Islam telah mengangkat dirinya jauh di atas kekayaan dengan segala godaan dan penyesatan itu dan bagaimana ia menempa kepribadiannya dengan sebaik-baiknya?

     Pada tahun 32 H, tubuhnya berpisah dengan rohnya. Ummul Mukminin ingin memberiknya kemuliaan khusus yang tidak diberikannya kepada orang lain, dengan memberikan usul kepadanya ketika ia masih terbaring di ranjang menuju kematian agar bersedia dikuburkan di pekarangan rumahnya; berdekatan dengan Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Namun, ia memang seorang Muslim yang telah dididik Islam dengan sebaik-baiknya, sehingga ia merasa malu bila dirinya diangkat dan disandingkan dalam kedudukan tersebut. Selain itu, ia telah membuat janji dan ikrar yang kuat dengan Utsman bin Maz’un, yakni jika salah seorang di antara mereka meninggal sesudah yang lain, hendaklah ia dikuburkan di dekat shahabatnya itu.

     Saat rohnya bersiap-siap memulai perjalanannya yang baru, air matanya meleleh sedangkan lidahnya bergerak-gerak mengucapkan kata-kata, “Aku khawatir dipisahkan dari shahabat-shahabatku karena kekayaanku yang melimpah ruah.” Namun, ketenangan dari Allah segera menyelimutinya, lalu senyuman tipis menghiasi wajahnya disebabkan sukacita yang member cahaya dan kebahagiaan yang menenteramkan jiwa.

     Ia memasang telinga untuk menangkap sesuatu seolah-olah ada suara yang lembut merdu yang datang mendekat. Ia sedang mengenang kebenaran sabda Rasulullah yang pernah beliau sabdakan, “Abdurrahman bin Auf di dalam surga.” Ia mungkin juga sedang mendengarkan janji Allah dalam kitab-Nya:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
QS:Al-Baqarah | Ayat: 262




▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

1 komentar:

Copyright @ 2014 Rotibayn.

Design Dan Modifikasi SEO by Pendalaman Tokoh | SEOblogaf