Kamis, 12 Desember 2013

Filled Under:

Khalid bin Al-Walid (Ia Tidak Pernah Tidur dan Tidak Membiarkan Seorang pun Tidur).

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

     Jalan hidup Khalid memang menakjubkan. Sebelum memeluk Islam, ia seorang pembunuh kejam yang menggetarkan kaum Muslimin dalam Perang Uhud. Setelah masuk Islam, ia berbalik menjadi pembunuh yang membinasakan musuh-musuh Islam pada hari-hari selanjutnya.

     Marilah kita ceritakan kisahnya sejak awal. Tetapi, dari permulaan yang mana? Pasalnya, ia sendiri hampir tidak tahu di mana kehidupannya bermula, kecuali pada hari ia bersalaman dan berjabat tangan dengan Rasulullah untuk berbaiat masuk Islam.

     Seandainya ia mampu, ia ingin sekali mengikis habis semua peristiwa dan kejadian masa lalu dalam sejarah hidupnya sebelum hari keislamannya itu. Bila demikian, marilah kita mulai saja dari peristiwa yang mengesankannya, saat-saat gemilang yang membahagiakan, ketika hatinya tunduk kepada Allah, dan jiwanya menemukan sentuhan rahmat-Nya Yang Maha Pengasih. Jiwanya memancarkan kerinduan kepada agama-Nya, kepada Rasul-Nya, dan kepada keinginan meraih kesyahidan agung di jalan kebenaran, guna menebus dan membuang jauh-jauh semua dosa dan kekeliruannya pada masa yang lalu dalam mempertahankan kebathilan.

     Suatu hari ia melakukan dialog dengan dirinya sendiri dan memutar akal batinnya yang sehat untuk merenungkan agama baru, yang panji-panji kebenarannya selalu bertambah cemerlang hari demi hari, semakin tinggi menjulang. Ia memohon kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib, agar memberikan petunjuk, yang akan menjadi keyakinan yang bercahaya di dalam hatinya dan membahagiakan. Ia berkata kepada dirinya, “Demi Allah, sungguh telah nyata bukti-buktinya. Sungguh, lelaki itu seorang utusan. Lalu, sampai kapan? Demi Allah, aku akan bangkit untuk masuk Islam.

     Mari kita dengarkan ia menceritakan perjalanannya yang penuh berkah kepada Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, guna mengambil tempatnya kelak dalam kafilah kaum Muslimin, “Aku menginginkan seseorang yang akan menjadi teman seperjalanan, dan aku menjumpai Utsman bin Thalhah. Aku menceritakan kepadanya apa maksudku, dan ia pun segera menyetujuinya. Kami berangkat bersama-sama ketika hari sudah hampir siang. Ketika kami sampai di suatu dataran tinggi, tiba-tiba kami bertemu dengan Amr bin Al-Ash. Ia mengucapkan salam dan kami membalasnya. Kemudian ia bertanya, ‘Ke manakah kalian hendak pergi?’ Kami pun menceritakan tujuan kami kepadanya dan ia juga mengutarakan maksudnya untuk menjumpai Nabi, hendak masuk Islam.

     Kami pun berangkat bersama-sama dan sampai di kota Madinah pada awal hari bulan Safar 8 H. ketika aku telah dekat dengan Rasulullah, aku segera member salam kepada beliau. Nabi pun membalas salamku dengan muka yang cerah. Aku pun masuk Islam dan mengucapkan syahadat yang benar.

     Rasulullah bersabda, ‘Sungguh, aku telah mengetahui bahwa engkau mempunyai akal sehat, dan aku berharap, akal sehat itu hanya akan menuntunmu ke jalan yang baik.’

     Aku berbaiat kepada Rasulullah dan berkata kepada beliau, ‘Mintakanlah ampunan untuk saya atas semua tindakan masa laluku yang menghalangi jalan Allah.’

     Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya keislaman itu telah menghapuskan segala perbuatan yang lampau.’

     Aku berkata, ‘Meski begitu, (mintakanlah ampunan untuk saya) wahai Rasulullah.’ Beliau pun mengucapkan doa, ‘Ya Allah, aku meohon agar Engkau mengampuni Khalid bin Al-Walid atas tindakannya menghalangi jalan-Mu pada masa lalu.’

     Setelah itu, Amr bin Al-Ash dan Utsman bin Thalhah bersama-sama memeluk Islam dan berjanji setia kepada Rasulullah.

     Apakah anda memperhatikan ucapannya kepada Rasulullah, “Mintakanlah ampunan untukku atas semua tindakan masa laluku yang menghalangi jalan Allah”? Orang yang memerhatikan ucapan tersebut dengan indera matanya maupun indera batinnya akan dapat memehami dengan jelas riwayat hidup orang yang sekarang menjadi pahlawan Islam dan Pedang Allah itu, yang belum diketahuinya.

     Setelah kisah kehidupan Khalid sampai jenjang tersebut, ucapannya itulah yang akan menjadi dalil dan alasan kita untuk memahami dan menafsirkan pendirian itu. Adapun sekarang, Khalid yang telah masuk Islam karena kesadarannya itu, yang sebelumnya kita lihat sebagai prajurit berkuda pembela kaum Quraish, kita saksikan sekarang sebagai seorang ahli siasat perang dari Dunia Arab, yang telah meninggalkan berhala pujaan nenek moyangnya dan kebanggaan kuno milik bangsanya. Kemudian sekarang tampil seiman, dan satu derap dengan perjuangan Rasulullah dan kaum Muslimin sebagai seorang ahli di bawah naungan benderanya yang baru.

     Takdir Allah telah menentukannya akan bangkit berjuang di bawah panji-panji Nabi Muhammad menegakkan kalimat tauhid. Sekarang bersama Khalid yang telah memeluk Islam, kita akan menyaksikan hal-hal yang menakjubkan.
     Masih ingatkah anda, tiga orang syuhada perang Mu’tah? Mereka ialah Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Mereka semuanya adalah pahlawan Perang Mu’tah di bumi Syam. Untuk keperluan peperangan ini, orang-orang Romawi telah mengerahkan sekitar 200 ribu prajurit dan di sana pula kaum Muslimin menunjukkan prestasi gemilang.

     Apakah anda juga masih ingat kata-kata Rasulullah sebagai pelipur lara ketika kematian mereka sebagai syuhada; tiga orang pahlawan Perang Mu’tah? Pada waktu itu beliau bersabda, “Panji perang di tangan Zaid bin Haritsah. Ia bertempur sambil membawa panji perang hingga gugur. Kemudian panji tersebut diambil Ja’far yang bertempur sambil membawa panji perang hingga gugur pula. Kemudian giliran Abdullah bin Rawahah memegang panji tersebut sambil bertempur maju, hingga ia gugur sebagai syahid.

     Sebenarnya, masih ada yang tertinggal dari sabda Rasulullah ini, yang sengaja penulis simpan untuk mengisi lembaran berikut ini. Sisa yang tertinggal itu ialah:
Kemudian panji itu pun diambil alih oleh salah satu pedang dari Pedang Allah, lalu Allah membukakan kemenangan di tangannya.

     Siapakah kiranya pahlawan itu? Dialah Khalid bin Al-Walid. Sebenarnya, Khalid bin Al-Walid yang segera ikut menerjunkan diri ke dalam Perang Mu’tah sesudah masuk Islam ini hanyalah prajurit biasa, di bawah tiga panglima perang yang telah diangkat oleh Rasulullah, yaitu Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rawahah dan mereka bertiga telah menemui syahidnya menurut urutan tersebut di medan perang yang dahsyat itu.

     Setelah tiga panglima perang tersebut gugur syahid, Tsabit bin Arqam bergegas menuju bendera perang tersebut lalu membawanya dengan tangan kanannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di tengah-tengah pasukan Islam agar barisan mereka tidak kacau balau dan agar semangat pasukan tidak kendur. Tidak lama sesudah itu, dengan gesit ia melarikan kudanya ke arah Khalid, sembari berkata kepadanya, “Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman.

     Khalid merasa dirinya sebagai seorang yang baru masuk Islam, tidak layak memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat orang-orang Anshar dan Muhajirin yang telah lebih dulu masuk Islam daripada dirinya. Khalid memang memiliki karakter pribadi yang sopan, rendah hati, bijaksana, dan kelebihan-kelebihan akhlak lainnya. Ketika itu ia menjawab, “Tidak, aku tidak pantas memegang panji perang itu. Engkaulah yang berhak memegangnya karena engkau lebih tua dan telah menyertai Perang Badar.

     Tsabit menjawab, “Ambillah, sebab kamu lebih tahu tentang strategi perang daripada aku, dan demi Allah aku tidak akan mengambilnya, kecuali untukmu.

     Kemudian ia berseru kepada seluruh anggota pasukan Islam, “Apakah kalian bersedia bila dipimpin oleh Khalid?

     Mereka menjawab, “Ya!

     Prajurit yang jenius itu kini memegang amanah sebagai pemegang komando perang. Ia memegang panji perang tersebut dengan tangan kanan dan mengacungkan ke arah depan. Ia terlihat seperti hendak menjebol semua pintu yang terkunci selama ini dan sudah datang saatnya untuk didobrak dan diterjang melalui jalan panjang. Sejak saat itu, kepahlawanannya yang luar biasa mencapai titik puncak yang telah ditentukan Allah baginya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun sesudah wafat.

     Khalid memegang tampuk kepemimpinan pasukan setelah kondisi pertempuran terakhir telah memprihatinkan. Korban dari pihak kaum Muslimin banyak berjatuhan, tubuh-tubuh mereka berlumuran darah, sedangkan tentara Romawi dengan kuantitas yang jauh lebih besar, terus maju laksana banjir yang menyapu medan. Dalam situasi yang demikian, tidak ada jalan dan strategi perang yang mampu mengubah pertempuran yang akan berakhir menjadi berbalik 180 derajat, yang menang jadi kalah dan yang kalah menjadi menang.

     Satu-satunya jalan yang dapat diharapkan dari seorang pahlawan ialah bagaimana melepaskan tentara Islam ini dari kemusnahan total, dengan menghentikan korban yang terus berjatuhan, dan keluar dengan sisa-sisa yang ada dengan selamat, mengundurkan diri secara cepat dan teratur, yang dapat menghalangi kehancuran massal di medan tempur itu. Namun, mundur dalam situasi seperti itu termasuk perkara yang mustahil. Tetapi, bila benar apa yang dikatakan orang bahwa tidak ada yang mustahil bagi hati yang pemberani, siapa lagi orang yang lebih berani hatinya daripada Khalid? Adakah orang yang kepahlawanannya lebih hebat, dan pandangannya lebih tajam daripada dirinya?

     Saat itu Pedang Allah tersebut mengamati seluruh medan tempur yang luas itu dengan kedua matanya yang tajam laksana mata burung elang. Ia mengatur rencana dan langkah yang akan diambil secepat kilat. Ia membagi pasukannya ke dalam kelompok-kelompok besar dalam suasana perang berkecamuk terus. Setiap kelompok diberinya tugas masing-masing.

     Kemudian Khalid mempergunakan keahlian perangnya yang membawa mukjizat, dan kecerdikan akalnya yang luar biasa, sehingga akhirnya dengan izin Allah, ia berhasil membuka jalur luas di antara barisan pasukan Romawi. Dari jalur tersebut seluruh sisa pasukan Islam dapat keluar meloloskan diri dengan selamat. Keberhasilan ini adalah berkat kepahlawanannya, berkat keberanian disertai kecerdikan dan kecepatan bertindak tepat yang tidak dapat dilupakan dalam sejarah. Karena pertempuran inilah, Rasulullah menganugerahkan gelar “Si Pedang Allah yang selalu terhunus” kepadanya.

     Dalam peristiwa lain, pada saat orang-orang Quraish menodai perjanjian damainya dengan Rasulullah, kaum Muslimin di bawah pimpinan Rasulullah berangkat untuk membebaskan Mekkah. Di bagian sayap kanan pasukan, Rasulullah mengangkat Khalid bin Al-Walid sebagai pemimpinnya. Khalid memasuki Mekkah sebagai salah seorang pemimpin pasukan Islam, sesudah selama ini dataran dan gunung-gunungnya menyaksikannya sebagai pemimpin tentara paganis dan penganut syirik. Ia teringat kenangan masa kanak-kanaknya, saat ia sedang bermain-main dengan manjanya, dan kenangan masa muda yang menghabiskan waktu hanya untuk perbuatan sia-sia. Segala kenangan masa lalu yang panjang datang kembali kepadanya, di mana usianya hilang percuma untuk pengorbanan sia-sia bagi berhala-berhala yang lemah tidak berdaya.

     Sebelum penyesalannya kian parah, hatinya terbangun sadar oleh himbauan kesaksian hebat dan kebesarannya, yaitu kesaksian dari cahaya yang menerangi Mekkah. Kesaksian nyata bagaimana orang-orang lemah yang diperlakukan semena-mena, menanggung derita dan ancaman, sekarang kembali ke kampung halaman mereka dari tempat mereka diusir secara Aniaya dan kejam. Mereka kembali ke sana dengan mengendarai kuda mereka yang meringkik berdengusan serta di bawah panji-panji Islam yang berkibaran. Suara-suara yang mereka berbisik di Darul Al-Arqam dulu, sekarang berubah menjadi takbir yang gemuruh dan menggetarkan Mekkah, disertai bahana tahlil kemenangan. Alam pun seperti ikut menyertai suasana gembira mereka, semuanya seolah-olah berhari raya.

     Bagaimanakah proses keajaiban itu berlangsung? Dan ulasan apakah kiranya yang pantas untuk peristiwa agung itu? Tidak ada yang lain, kecuali yang sedang diucapkan oleh mereka yang sedang berjalan berduyun-duyun di sela-sela suara tahlil dan takbir mereka, di kala mereka berpandang satu sama lain dengan gembira:

وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
QS:Ar-Ruum | Ayat: 6

     Khalid mengangkat kepala serta menengadahkannya, lalu memandang penuh bangga dan ridha kepada bendera-bendera Islam yang memenuhi angkasa, seraya berkata kepada dirinya sendiri, “Benar bahwa itu janji Allah, dan Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya.

     Kemudian ia menundukkan kepala karena rasa syukur dan terharu terhadap nikmat Ilahi yang telah memberinya petunjuk masuk Islam dan yang telah membuatnya menjadi salah seorang pembawa agama Islam ke Mekkah pada hari kemenangan yang besar ini; bukan dari golongan orang-orang yang masuk Islam karena pengaruh kemenangan islam.

     Khalid selalu berada di samping Rasulullah, menyerahkan semua tenaga dan kemampuannya yang luar biasa untuk berbakti kepada agama yang telah diimaninya dengan penuh keyakinan, dan yang seluruh kehidupannya didermakan untuknya.

     Setelah Rasulullah wafat, memenuhi panggilan Allah Yang Maaha Pengasih lagi Maha Tinggi, Abu Bakar Ash-Shiddiq memikul tanggung jawab kekhalifahan. Badai kemurtadan bertiup kencang dengan tipu dayanya, hendak menghancurkan agama yang baru dengan semboyannya yang berbisa dan propagandanya yang merusak dan membinasakan. Di awal kegemparan yang mengejutkan ini, Abu Bakar menolehkan mata dan perhatiannya pertama kepada seorang pejuang yang tepat, seorang lelaki pilihan, Abu Sulaiman, Si Pedang Allah, Khalid bin Al-Walid.

     Memang benar, bahwa Abu Bakar telah mulai memerangi kaum murtad dengan pasukan yang dipimpinnya sendiri, tetapi hal ini tidak bertentangan dengan rencananya untuk mempersiapkan Khalid untuk suatu hari yang menentukan nanti, yakni menentukan kalah menangnya dalam peperangan terbesar menghadapi orang-orang murtad itu, di mana ia merupakan bintang lapangan dan pahlawan yang ulung.

     Saat golongan kaum murtad bersiap-siap melaksanakan hasil keputusan persekongkolan mereka yang besar, Khalifah Abu Bakar bertekad memimpin sendiri pasukan kaum Muslimin. Para shahabat senior berusaha menghalangi maksudnya itu, tetapi sia-sia dan justru menambah kebulatan tekadnya. Maksud Khalifah Abu Bakar dengan cara ini kemungkinan untuk mewarnai pertempuran dengan corak khusus dan arti yang penting, yang dapat mendorong orang-orang untuk menyertainya. Hal ini hanya dapat dikuatkan dengan partisipasi nyata dari beliau dalam perang yang dahsyat, yakni dengan memimpinnya langsung, baik atas sebagian maupun atas seluruh kekuatan umat. Sungguh, jalannya peperangan tersebut akan menentukan timbul tenggelamnya kekuatan iman menghadapi kekuatan murtad yang sesat.

     Fenomena kemurtadan yang terjadi di mana-mana secara serentak ini sangat mengkhawatirkan, walaupun pada mulanya tampak sebagai pembangkangan saja. Dalam situasi seperti ini, kabilah-kabilah yang selama ini ingin membalas dendam terhadap Islam, maupun yang selalu mengintai kelemahannya, sekarang mendapat kesempatan istimewa atau peluang baru untuk memberontak, tanpa kecuali apakah mereka kabilah Arab pedalaman maupun yang tinggal di perbatasan, di mana masih bercokol kekuasaan dan pengaruh Kerajaan Persia dan Romawi. Kerajaan-kerajaan tersebut telah merasakan kebangkitan kekuatan Islam yang menjadi bahaya dan ancaman terhadap kekuasaannya. Karena itu, sebagai dalang di belakang layar, mereka dengan sengaja mengobarkan dan menyebarkan berbagai macam fitnah.

     Demikianlah, api fitnah berkobar di kalangan suku-suku Asad, Ghathafan, Abas, Thayyi’, dan Dzibyan, kemudian menjalar ke kabilah-kabilah Bani Amir, Hawazin, Salim, dan Bani Tamim. Fitnah ini diawali dengan terjadinya bentrokan-bentrokan senjata yang kecil, yang kemudian berubah menjadi pertempuran besar yang melibatkan kekuatan pasukan sampai puluhan ribu tentara.

     Persekongkolan yang mengerikan itu segera mendapat dukungan dari penduduk Bahrain, Oman, dan Muhrah. Sekarang Islam benar-benar menghadapi bahaya besar, dan api peperangan itu telah dinyalakan di sekeliling kaum Muslimin. Tetapi, Allah menyiapkan Abu Bakar.

     Beliau menyiapkan pasukan kaum Muslimin dan sekaligus memimpinnya menuju kabilah-kabilah Bani Abas, Muhrah, dan Dzibyan yang tampil sebagai pasukan kuat. Pertempuran pun terjadi, dan akibatnya Islam dapat mencatat kemenangan besar dan mantap. Tetapi, pasukan yang menang ini tidak sempat beristirahat lama di Madinah, karena Khalifah harus mengerahkannya lagi untuk menghadapi pertempuran berikutnya.

     Berita-berita tentang pembangkangan kaum dan suku setiap saat tampaknya semakin berbahaya. Abu Bakar sendiri maju memimpin pasukan yang kedua ini, tetapi para shahabat utama tidak bisa menahan kesabaran mereka. Semuanya sepakat untuk meminta Khalifah agar tetap tinggal di Madinah.

     Ali terpaksa menghadang Abu Bakar dan memegang tali kekang kuda yang sedang ditungganginya untuk mencegah keberangkatannya bersama pasukan, sembari berkata, “Hendak ke manakah engkau, wahai Khalifah Rasulullah? Kukatakan kepadamu apa yang pernah disabdakan Rasulullah pada hari Uhud, ‘Simpanlah pedangmu, wahai Abu Bakar. Janganlah engkau cemaskan kami dengan dirimu’.

     Di hadapan desakan dan suara bulat kaum Muslimin, Khalifah terpaksa menerima untuk tinggal di Madinah. Beliau membagi tentara Islam menjadi sebelas kesatuan, masing-masing dibebani tugas tertentu, dan sebagai komando tertinggi untuk keseluruhan kasatuan itu ia mengangkat Khalid bin Al-Walid. Setelah menyerahkan bendera pasukan kepada tiap-tiap komandonya, Khalifah menghadapkan wajahnya kepada Khalid, dan berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Bahwa sebaik-baik hamba Allah dan teman sepergaulan, ialah Khalid bin Al-Walid, sebilah pedang di antara pedang-pedang Allah yang ditebaskan kepada orang-orang kafir dan munafik!’

     Khalid pun segera menjalankan tugasnya, berpindah-pindah bersama pasukannya dari satu pertempuran ke pertempuran yang lain; dari satu kemenangan ke kemenangan berikutnya, sampai berakhir dengan pertempuran yang menentukan, yakni di Yamamah. Bani Hanifah bersama kabilah-kabilah yang telah bergabung dengan mereka telah membangun persekutuan tentara murtad yang sangat berbahaya dan dikepalai oleh Musailamah Al-Kadzab. Beberapa kesatuan Islam telah mencoba kekuatan mereka, tetapi tidak berhasil.

     Perintah Khalifah telah dititahkan kepada panglimanya yang beruntung itu agar berangkat kepada Bani Hanifah itu. Khalid pun bergerak maju, dan ketika Musailamah mengetahui bahwa Khalid sedang di tengah perjalanan menuju tempatnya, kembali ia memperkuat susunan pasukannya, karena ia menganggapnya sebagai bahaya dahsyat dan musuh yang sangat kuat.

     Kedua pasukan telah berhadap-hadapan dan saat anda membaca buku-buku riwayat dan sejarah tentang jalannya pertempuran yang sengit itu, anda pasti merasa ngeri karena anda seolah-olah sedang menyaksikan suatu pertempuran yang menyerupai perang masa kini dalam kekerasan dan kekejamannya, sekalipun berbeda jenis senjata dan sarana perang yang dipergunakan.

     Khalid mengambil posisi dengan pasukannya di dataran bukit-bukit pasir Yamamah, sedangkan Musailamah manghadapinya dengan segala kecongkakan dan kedurjanaannya bersama barisan tentaranya yang banyak seakan-akan tidak habisnya. Khalid segera menyerahkan panji-panji perang kepada setiap komando pasukannya. Kedua pihak itu pun saling serang dan bertempur rapat. Perang berkecamuk tiada hentinya, korban dari pihak kaum Muslimin susul-menyusul berguguran laksana bunga-bunga di taman yang berjatuhan ditiup angin topan.

     Khalid telah melihat keunggulan musuh, ia lalu memacu kudanya ke suatu tanah tinggi yang terdekat, pandangannya yang diliputi ketajaman dan kecerdasan dengan cepat mengawasi seluruh medan tempur. Secepat itu pula ia dapat menangkap dan menyimpulkan titik kelemahan pasukannya.

     Ia dapat merasakan tanggung jawab yang melemah di kalangan prajuritnya di bawah serbuan-serbuan mendadak yang dilakukan pasukan Musailamah. Secepat kilat ia mengambil keputusan untuk memperkuat semangat tempur kaum Muslimin dan tanggung jawab mereka setinggi mungkin. Ia memanggil semua komando garis depan dan sayap, menertibkan posisi masing-masing di medan tempur, dan kemudian berteriak dengan suaranya yang mengesankan kemenangan, “Tunjukkanlah kelebihanmu masing-masing. Hari ini kita akan melihat jasa setiap suku.

     Setiap suku tampil dengan kelebihannya masing-masing. Orang-orang Muhajirin maju dengan panji-panji perang mereka dan orang-orang Anshar pun maju di bawah panji-panji mereka. Seharusnya setiap kelompok suku dengan panji-panji tersendiri. Demikianlah, hingga jelas nanti, dari mana datangnya kekalahan itu. Semangat juang menyala dalam jiwa, penuh dengan kebulatan tekad dan mengejutkan musuh.

     Khalid tidak henti-hentinya menggemakan tahlil dan takbir atau mengeluarkan perintah yang menentukan, sehingga pedang-pedang pasukannya berubah bagai maut yang tidak dapat ditolak kehendaknya, dan tidak dapat diubah tujuannya. Dalam waktu yang singkat, berubahlah arah pertempuran. Prajurit-prajurit Musailamah mulai roboh berjatuhan, dari puluhan hingga ratusan kemudian ribuan, laksana lalat-lalat yang menggelepar.

     Khalid telah menyalakan semangat keberaniannya seperti aliran listrik kepada setiap prajuritnya. Jiwanya telah menempati setiap prajurit pasukannya dan itulah salah satu keistimewaannya yang menakjubkan. Demikianlah jalan pertempuran yang paling menegangkan dan menyeramkan melawan orang-orang murtad itu. Musailamah tewas dan mayat-mayat anak buah dan para prajuritnya bergelimpangan memenuhi seluruh medan perang, dan di tempat itulah bendera-bendera yang menyerukan kebohongan dan kepalsuan dikubur selama-lamanya.

     Di Madinah Khalifah Abu Bakar shalat syukur kepada Dzat Yang Maha Agung dan Maha Tinggi karena dikaruniai kemenangan tersebut dan pahlawan perkasa ini.

     Khalifah Abu Bakar dengan kecerdasan dan ketajaman pandangannya telah mengetahui kekuatan-kekuatan jahat yang masih bercokol di sekitar negerinya yang merupakan bahaya besar yang mengancam kelangsungan hidup Islam dan pemeluknya, yaitu Persia di Iraq dan Romawi di Syria. Kekaisaran yang sudah tua dan lemah ini selalu mengintai kelemahan umat Islam dan menjadi pusat penyebaran kekacauan. Keduanya saling berhubungan meski dengan ikatan yang lapuk dari kejayaan mereka pada masa lampau. Mereka memeras dan menyiksa rakyat Iraq dan Syria, serta merendahkan martabat mereka, bahkan mengerahkan rakyat yang sebagian besar di antaranya adalah orang-orang Arab untuk memerangi kaum Muslimin.

     Dengan panji-panji agama baru, kaum Muslimin bermaksud meruntuhkan benteng-benteng peradaban kuno serta mengikis habis segala bentuk kejahatan dan kekejamannya. Ketika itulah, Khalifah Abu Bakar yang agung dan diberkahi menjatuhkan pilihannya kepada Khalid untuk berangkat dengan pasukannya menuju Iraq. Pahlawan ini segera menjalankan titah dan berangkat ke Iraq.

     Sayang halaman ini tidak cukup untuk menuliskan setiap kemenangan pasukannya di segala tempat. Andainya cukup, tentulah akan kita lihat hal-hal yang sangat mengagumkan. Ia memulai operasi militernya di Iraq dengan mengirim surat ke seluruh pembesar Kisra dan gubernur-gubernurnya di semua wilayah Iraq dan kota-kotanya, sebagai berikut:

     “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Khalid bin Al-Walid kepada pembesar-pembesar Persia. Keselamatan bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Amma ba’d,

     Segala puji bagi Allah yang telah memporak-porandakan kaki tangan, dan merenggut kerajaan, serta melemahkan tipu muslihat kalian. Siapa yang shalat seperti shalat kami, dan menghadap kiblat kami, dan memakan sembelihan kami, ia menjadi seorang Muslim. Ia akan mendapat hak seperti hak yang kami dapatkan, dan ia berkewajiban seperti kewajiban kami. Bila tela sampai kapada kalian suratku ini, hendaklah kalian kirimkan kepadaku jaminan, dan terimalah perlindungan dariku. Jika tidak, demi Allah yang tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia, aku akan mengirimkan kepada kalian satu kaum berani mati, padahal kalian masih sangat mencintai hidup.

     Para mata-mata yang disebarkan ke seluruh penjuru datang menyampaikan berita tentang keberangkatan pasukan besar yang dipersiapkan oleh panglima-panglima Persia di Iraq.

     Khalid tidak membuang-buang waktu, dengan cepat ia mempersiapkan pasukannya untuk menumpas kebathilan, sedangkan jarak perjalanan dapat ditempuhnya dalam waktu singkat. Kemenangan demi kemenangan dicapai oleh pasukan ekspedisinya, sejak dari Ubullah ke Sadir, disusul oleh Najaf, lalu Hirah, kemudian Al-Anbar sampai ke Kazhimiah. Di setiap tempat ia disambut oleh wajah berseri karena gembira. Bendera dan panji-panji Islam pun naik, di bawahnya berlindung orang lemah yang tertindas penjajahan Persia.

     Rakyat yang lemah dan terjajah selama ini mengalami derita perbudakan dan penyiksaan dari orang Persia. Bandingkanlah itu dengan peringatan keras dari Khalid kepada seluruh anggota pasukannya setiap kali akan berangkat, “Janganlah kalian menyakiti para petani. Biarkanlah mereka bekerja dengan aman, kecuali bila di antara mereka ada yang hendak menyerang kalian. Perangilah orang menyerang kalian!

     Ia meneruskan perjalanan dengan pasukannya yang telah memenangkan peperangan seperti mata pisau tajam mengiris permukaan susu yang membeku, hingga sampailah ia ke perbatasan negeri Syam.

     Ketika itu berkumandanglah suara takbir dari muazin disertai takbir orang yang menang perang. Menurut anda, apakah orang-orang Romawi mendengarnya di Syam? Apakah mereka menyadari bahwa takbir ini merupakan bunyi lonceng kematian dan akhir dunia kekejaman? Benar, mereka telah mendengarnya. Mereka kaget dan merasa ciut. Mereka telah memutuskan dengan membabi buta untuk terjun ke medan perang disebabkan rasa putus asa dan sia-sia.

     Kemenangan yang diperoleh orang-orang Islam di Iraq dari orang Persia menimbulkan harapan diperolehnya kemenangan yang sama dari orang Romawi di Syria. Abu Bakar telah mengerahkan sejumlah pasukan dan untuk mengepalainya dipilihnya dari kelompok panglima-panglima mahir, seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan Amr bin Al-Ash, Yazid bin Abu Sufyan, kemudian Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

     Ketika berita gerakan tentara ini sampai ke pendengaran Kaisar Romawi, ia menitahkan kepada para menteri dan jenderalnya agar berdamai saja dengan kaum Muslimin dan tidak melibatkan diri dalam peperangan yang hanya menimbulkan kerugian. Tetapi, para menteri dan jenderalnya dengan gigih bersikeras hendak meneruskan perang sambil berkata, “Demi Tuhan, kita akan membuat Abu Bakar kewalahan, sehingga ia tidak mampu mendatangkan pasukan berkudanya ke negeri kita.

     Mereka menyiapkan tidak kurang dari 240 ribu tentara untuk peperangan ini. Pemimpin-pemimpin pasukan tentara Islam mengirimkan gambaran tentang situasi gawat ini kepada Khalifah. Karenanya, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, semua kekhawatiran dan keraguan meraka akan kusembuhkan dengan kedatangan Khalid!

     Kekhawatiran yang dimaksud adalah kesewenang-wenangan, permusuhan, dan kesyirikan. Kesembuhan dari kekhawatiran itu ialah perintah berangkat ke Syam dari Khalifah kepada Khalid untuk mengepalai seluruh pasukan Islam yang sudah mendahuluinya berada di sana. Dan alangkah cepatnya Khalid mematuhi perintah itu. Ia segera menyerahkan pimpinan Iraq kepada Mutsanna bin Haritsah, dan dengan cepatnya ia berangkat bersama prajurit-prajurit pilihannya, hingga sampai ke tempat kaum Muslimin di negeri Syam. Dengan keahlian yang luar biasa, dalam waktu singkat ia menyusun pasukan Islam dengan menertibkan posisinya.

     Di medan perang dan sebelum pertempuran dimulai, ia berdiri di tengah-tengah prajurit Islam untuk berpidato. Ia berkata, sesudah memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya, “Hari ini adalah hari-hari Allah. Tidak pantas kita di sini berbangga-bangga dan berbuat durhaka. Ikhlaskanlah jihad kalian, dan harapkan ridha Allah dengan amal kalian! Mari kita bergantian memegang pimpinan. Hari ini salah seorang memegang pimpinan, besok yang lain, lusa yang lain lagi, sehingga seluruhnya mendapat kesempatan memimpin.

     “Hari ini adalah hari-hari Allah.” Alangkah hebatnya kata-kata itu sejak awal mendengarnya. “Tak pantas kita di sini, berbangga-bangga dan durhaka.” Kalimat ini lebih menakjubkan dan menunjukkan kewara’an yang sempurna.

     Panglima yang agung, cerdas, dan penuh vitalis itu tidak kurang dari sifat itsar (mendahulukan orang lain). Sekalipun Khalifah telah mengangkatnya untuk mengepalai seluruh pasukan tentara dengan membawahi para panglima, karena ia tidak ingin menjadi pembantu setan atas pribadi-pribadi shahabatnya, ia pun bersedia turun dari pucuk jabatan yang telah dipercayakan Khalifah secara mutlak. Ia menjadikan kepemimpinan itu bergiliran. Hari ini seorang amir, besok amir yang kedua, dan lusa amir yang lain pula, dan begitulah seterusnya.

     Jumlah tentara Romawi yang besar dan amunisi mereka yang lengkap merupakan suatu yang sangat mengecutkan. Pemimpin-pemimpin mereka yakin bahwa waktu berada di pihak kaum Muslimin, dan bahwa berlarut-larutnya peperangan dan banyaknya medan tempur akan membantu kemenangan yang mantap bagi kaum Muslimin. Karena itu, mereka memutuskan untuk menghimpun seluruh kekuatan mereka pada suatu medan tempur saja, dengan mempersiapkan satu lapangan jebakan bagi orang-orang Arab.

     Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Islam pun sebelum kedatangan Khalid bin Al-Walid merasa gentar dan cemas, menyebabkan rasa gelisah dan keluh kesah memenuhi jiwa mereka. Tetapi, iman mereka membuat ringan segala pengabdian dalam suasana gelap gulita seperti itu, dan tiba-tiba fajar harapan dan kemenangan meliputi mereka dengan cahayanya.

     Bagaimanapun hebatnya orang-orang Romawi dan tentaranya, Abu Bakar telah berkata, “Khalid akan menyelesaikannya.” Ia mengatakan itu karena benar-benar mengetahui keadaan orang-orangnya, dan ia menambahkan, “Demi Allah, segala kekhawatiran mereka akan kulenyapkan dengan Khalid! Biarkan orang-orang Romawi dengan segala kehebatannya itu datang! Bukankah ada ‘penangkal’ bersama kaum Muslimin?

     Ibnul Walid mempersiapkan tentaranya dengan membagi menjadi beberapa kesatuan besar. Ia mengatur kembali langkah-langkah taktis dan strategis untuk menyerang dan bertahan, untuk menandingi strategi Romawi, seperti yang telah dialaminya dari rekan-rekannya orang Persia di Iraq. Ia juga memetakan setiap kemungkinan dari peperangan ini.

     Yang menakjubkan, peperangan itu berjalan tepat seperti yang dipetakan dan diharapkan oleh Khalid. Langkah demi langkah, gerakan demi gerakan sma persis, sehingga seandainya ia memperkirakan berapa banyaknya pukulan pedang di pertempuran itu, perhitungannya tidak akan keliru. Setiap maneuver yang dinanti-nantikannya dari orang-orang Romawi, ternyata mereka melakukannya juga dan setiap setiap taktik mundur yang diperkirakan akan terjadi, itu benar-benar mereka lakukan.

     Sebelum terjun ke kancah peperangan, ada satu hal yang mengganggu pikirannya, yaitu kemungkinan sebagian anggota pasukannya melarikan diri, terutama mereka yang baru saja masuk Islam, sesudah mereka menyaksikan kehebatan dan keseraman tentara Romawi. Rahasia setiap kemenangan gemilang yang diperoleh Khalid dalam peperangan ialah tsabat, dalam arti tetap tabah dan disiplin. Ia memandang bahwa larinya dua atau tiga orang prajurit dari kesatuan akan menyebarkan kepanikan dan kekacauan di seluruh kesatuan.

     Ini dapat berakibat fatal dan merupakan bencana yang mungkin tidak bisa ditimbulkan oleh seluruh kesatuan musuh. Oleh sebab itu, tindakannya sangat tegas dan keras sekali terhadap mereka yang membuang senjata dan berpaling melarikan diri.

     Pada pertempuran ini sendiri, yaitu pertempuran Yarmuk, sesudah seluruh pasukannya mengambil posisinya, ia memanggil perempuan-perempuan Muslim dan untuk pertama kalinya ia mempersenjatai kaum wanita. Mereka diperintahkan untuk berada di belakang barisan pasukan Islam di setiap penjuru, sambil berpesan kepada mereka,”Siapa yang melarikan diri, bunuhlah dia!” sungguh, suatu akal bijak yang membuahkan hasil terbaik.

     Ketika pertempuran hampir berlangsung, panglima Romawi meminta Khalid tampil ke depan, karena ia ingin berbicara kepadanya. Khalid pun muncul dan keduanya berhadap-hadapan di atas punggung kuda masing-masing, yakni pada suatu lapangan kosong di antara kedua pasukan besar. Panglima pasukan Romawi yang bernama Mahan itu pun berkata, “Kami mengetahui bahwa yang mendorong kalian ke luar dari negeri kalian tidak lain hanyalah kelaparan dan kesulitan. Jika kalian setuju, saya akan memberikan 10 dinar lengkap dengan pakaian dan makanan kepada tiap-tiap kalian, asalkan kalian mau kembali ke negeri kalian. Di tahun yang akan datang, aku akan mengirimkan sebanyak itu pula.

     Mendengar hal itu, bukan main marahnya Khalid. Tetapi, ia tahan kemarahannya sambil menggertakan gigi. Ia menganggap kata-kata panglima Romawi itu merupakan bentuk kekurangajaran, lalu memutuskan untuk menjawabnya dengan kata-kata yang sesuai, sehingga ia berkata, “Yang mendorong kami dari negeri kami, bukan karena lapar seperti yang anda sebutkan tadi, melainkan kami adalah satu bangsa yang biasa minum darah. Kami tahu benar bahwa tidak ada darah yang lebih manis dan lebih baik daripada darah orang-orang Romawi, karena itulah kami datang!

     Panglima Khalid menggertakkan tali kekang kudanya, sambil kembali ke pasukannya. Ia mengangkat bendera tinggi-tinggi memberitahukan bahwa pertempuran segera dimulai. “Allah Akbar…, berhembuslah angin surga!” pasukannya pun maju menyerbu laksana peluru yang ditembakkan.

     Pertempuran yang tiada tandingannya berlangsung mencapai puncaknya. Orang-orang Romawi datang menghadang dengan kesatuan-kesatuan pasukan besar yang menggunung. Tetapi, nyata dan jelas bagi orang-orang itu sesuatu yang tidak mereka duga-duga dari kaum Muslimin. Para pahlawan itu telah melukiskan gambar pejuangan yang mengagumkan dengan pengorbanan dan keteguhan hati.

     Saat pertempuran berkecamuk, salah seorang dari mereka mendekati Abu Ubaidah bin Al-Jarrah sembari berkata, “Aku sudah bertekad mati syahid, apakah engkau mempunyai pesan penting yang akan kusampaikan kepada Rasulullah, bila aku menemuinya nanti?” Abu Ubaidah menjawab, “Ada, katakana kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya kami telah menemukan bahwa apa yang dijanjikan Allah kepada kami, memang benar!’

     Lelaki itu pun langsung melesat maju menyerang bagai anak panah lepas dari busurnya. Ia menyerbu ke tengah-tengah pertempuran dahsyat, merindukan tempat peraduan dan pembaringannya. Ia menyerang dengan sebilah pedang, dan dilawan oleh seribu pedang, hingga menemui kesyahidan.

     Itulah dia Ikrimah bin Abu Jahal. Dia memang anak Abu Jahal. Ketika tekanan orang Romawi semakin berat, ia berseru kepada kaum Muslimin dengan suara lantang, “Sungguh, aku telah lama memerangi Rasulullah pada masa yang lalu sebelum Allah memberikan petunjuk kepadaku untuk masuk Islam. Apakah pantas aku lari dari musuh-musuh Allah hari ini?

     Kemudian ia berteriak, “Siapakah yang bersedia dan berjanji untuk mati?” sejumlah orang berjanji kepadanya untuk berjuang sampai mati, kemudian mereka menyerbu ke jantung pertempuran bersamaan. Bukan hanya mencari kemenangan, melainkan bila kemenangan itu harus ditebus dengan jiwa dan raga, mereka sudah siap untuk mati syahid. Allah telah menerima pengorbanan dan baiat mereka. Mereka semuanya gugur syahid.

     Ada pula orang-orang yang luka berat. Seseorang membawakan air kepada salah seorang yang terluka, namun ia member isyarat agar air itu diberikan kepada temannya yang berdekatan lebih dulu karena lukanya lebih berat. Ketika orang yang dimaksud ditawari air, ia mengisyaratkan pula agar diberikan kepada yang lain, dan ketika orang yang dituju didatangi, ia pun lebih mengutamakan orang lain, dan begitulah seterusnya. Itulah yang terjadi. Mereka rela menderita kehausan sewaktu ruh-ruh mereka melayang. Inilah contoh teladan yang paling indah tetang pengorbanan dan mendahulukan kepentingan orang lain.

     Peperangan Yarmuk benar-benar tempat pengorbanan yang jarang ada tandingannya. Di antara monumen-monumen pengorbanan yang menakjubkan itu adalah monument istimewa yang dibina oleg tekad baja yang melukiskan karya Walid bin Al-Walid yang mengerahkan seratus tentaranya, tidak lebih daripada itu. Mereka menyerbu sayap kiri Romawi yang jumlahnya tidak kurang dari 40 ribu orang, oleh Khalid berseru kepada seratus orang yang bersamanya itu, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada kagi kesabaran dan ketabahan yang tinggal pada orang-orang Romawi, kecuali apa yang kalian lihat! Sungguh, aku mengharap Allah memberikan kesempatan kepada kalian untuk menebas batang leher mereka.

     Seratus orang menyerbu ke dalam 40 ribu pasukan dan kemudian mereka menang? Anda tidak perlu tercengang! Bukankah hati mereka penuh keimanan kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar? Iman kepada Rasul-Nya yang benar lagi terpercaya. Iman kepada ketentuan Allah, yang merupakan keimanan yang paling banyak membuahkan kebaikan, petunjuk, dan keberuntungan dalam setiap urusan kehidupan.

     Bukankah Khalifah mereka Abu Bakar, yang benderanya sekarang telah menjulang tinggi di dunia, dari Madinah, ibukota baru bagi dunia baru, ia sendiri masih bersedia memerah susu kambing untuk janda yang ditinggal mati suaminya, dan dengan kedua tangannya mengadukkan roti bagi anak-anak yatim piatu?

     Bukankah panglima mereka adalah Khalid bin Al-Walid; penawar kecemasan, pembasmi kesombongan, kekerasan, kedurhakaan, permusuhan, dan Pedang Allah yang terhunus yang akan menebas unsur-unsur perselisihan, kebencian dan kemusyrikan? Bukankah kenyaannya memang demikian? Karena itu, berhembuslah, wahai angin kemenangan! Bertiuplah ruh keperkasaan, keberuntungan, dan kedigdayaan!

     Kejeniusan Khalid membuat kagum para panglima Romawi dan komandan pasukannya, yang mendorong salah seorang di antara mereka, yang bernama Georgius untuk mengundang Khalid pada saat peperangan berhenti agar berdialog dengannya. Saat keduanya sudah bertemu, panglima Romawi itu memulai percakapannya kepada Khalid, ia mengungkapkan, “Tuan Khalid, jujurlah anda kepadaku, jangan berbohong, sebab orang merdeka tidak pernah berbohong! Apakah Allah telah menurunkan sebilah pedang kepada Nabi anda dari langit, lalu pedang itu diberikannya kepada anda, hingga setiap anda hunuskan terhadap siapa pun, pedang tersebut pasti membinasakannya?

     “Tidak!” jawab Khalid.

     “Mengapa anda dinamai Pedang Allah?

     “Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada kami, sebagian kami ada yang membenarkannya, dan sebagian pula mendustakannya. Aku dulunya termasuk orang yang mendustakannya, sehingga akhirnya Allah menjadikan hati kami menerima Islam, dan member petunjuk kepada kami melalui Rasul-Nya, lalu kami berjanji setia kepadanya. Kemudian Rasulullah mendoakanku, dan beliau berkata kepadaku, ‘Engkaulah Pedang Allah di antara sekian banyak pedang-Nya.’ Itulah sebabnya aku diberi nama Pedang Allah.

     “Untuk apa sekalian diseru olehnya?

     “Untuk menauhidkan Allah kepada Islam

     “Apakah orang-orang yang masuk Islam sekarang akan mendapat pahala dan ganjaran seperti anda juga?

     “Benar, bahkan lebih besar.

     “Bagaimana itu terjadi, padahal kalian lebih dahulu memeluknya?

     “Karena kami telah hidup bersama Rasulullah, kami telah melihat tanda-tanda kerasulan dan mukjizatnya, dan wajar bagi setiap orang yang telah melihat seperti yang kami lihat dan mendengar seperti yang kami dengar, akan masuk Islam dengan mudah. Adapun kalian yang belum pernah melihat dan mendengarnya, namun kemudian kalian beriman kepada yang gaib, maka pahala kalian lebih besar dan berlipat ganda, bila kalian membenarkan Allah dengan hati ikhlas serta niat yang suci.

     Panglima Romawi itu pun berseru, sambil memajukan kudanya ke dekat Khalid dan berdiri di sampingnya, “Ajarkanlah kepadaku Islam itu, wahai Khalid.

     Akhirnya, panglima Romawi tersebut masuk Islam dan shalat dua rakaat. Itulah satu-satunya shalat yang sempat dilakukannya.

     Kedua pasukan itu mulai bertempur kembali. Panglima Romawi Georgius sekarang berperang di pihak Muslim, dan mati-matian menuntut syahid, sampai ia mencapainya dan berbahagia mendapatkannya.

     Sekarang penulis akan memaparkan suatu kebesaran hati manusia dalam suatu peristiwa termegah. Saat Khalid sedang memimpin tentara Islam dalam peperangan yang banyak menimbulkan korban ini dan pada waktu ia merenggutkan kemenangan gemilang dari cengkeraman tentara Romawi secara luar biasa, tiba-tiba dikejutkan oleh sepucuk surat yang datang dari Madinah, yang dibawa oleh seorang kurir Khalifah yang baru, Amirul Mukminin Umar bin Al-Khatthab. Dalam surat tersebut tercantum salam penghargaan Al-Faruq kepada seluruh pasukan Islam, berita berkabungnya terhadap Khalifah Rasulullah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang telah wafat, dan kemudian memberikan keputusan untuk memberhentikan Khalid dari pimpinan pasukan dan mengangkat Abu Ubaidah sebagai gantinya.

     Khalid membaca surat itu dengan tenang dan memohonkan rahmat untuk Abu Bakar serta taufik untuk Umar. Ia meminta kepada di pembawa surat agar tidak menceritakan isi surat tersebut kepada siapa pun, menyuruhnya tetap tinggal di suatu tempat dan tidak meninggalkannya, serta tidak berhubungan dengan siapa pun. Ia meneruskan pimpinan pertempuran, sambil menyembunyikan berita kematian Abu Bakar dan perintah Umar sampai kemenangan benar-benar menjadi kenyataan, yang waktu itu telah dekat sekali seolah-olah telah berada di tangan.

     Genderang kemenangan telah tiba. Orang-orang Romawi telah takluk dan lari kocar-kacir. Khalid bin Al-Walid menjumpai Abu Ubaidah sembari menyampaikan salam hormat seorang prajurit terhadap panglimanya. Abu Ubaidah pada awalnya menyangka ulahnya itu sebagai canda dari seorang panglima yang telah mewujudkan kemenangan yang tidak diduga-duga. Tetapi, tidak lama kemudian ia melihat suatu kenyataan yang sesungguhnya, maka ia pun mencium wajah Khalid di antara kedua matanya dan memuji kebesaran jiwa dan akhlaknya.

     Riwayat lain dalam sejarah megatakan, bahwa surat yang dikirim olah Amirul Mukminin Umar ditujukan kepada Abu Ubaidah dan berita tersebut disimpan saja olehnya, tanpa sepengetahuan Khalid sampai perang berakhir. Riwayat manapun yang benar, yang ini atau yang itu, yang penting bagi kita ialah sikap Khalid pada kedua kondisi tersebut, yang mengungkapkan bahwa ia benar-benar suatu pribadi yang mengagumkan; penuh keagungan dan kemuliaan. Sejauh pengetahuan si penulis, tidak satu pun kejadian dalam seluruh kehidupan Khalid yang menjelaskan keikhlasannya yang mendalam dan kejujurannya yang teguh, melebihi apa yang ditunjukkan peristiwa ini.

     Menjadi seorang panglima ataupun prajurit biasa itu sama saja bagi Khalid. Menjadi pemimpin seperti halnya prajurit, masing-masing menanggung kewajiban yang harus ditunaikan terhadap Allah yang ia imani, terhadap Rasul yang ia baiat, terhadap agama yang telah dipeluknya, dan ia bernaung di bawah panji-panjinya.

     Baktinya yang diberikan sebagai panglima yang memerintah, sama dengan darmanya yang dibaktikannya sebagai prajurit yang diperintah. Kemenangan besar terhadap nafsu ini dipersiapkan baginya sebagai juga bagi orang lainnya oleh contoh teladan dan perilaku para Khalifah, yang memegang tampuk pimpinan umat Islam waktu itu. Abu Bakar dan Umar. Itulah dua nama yang bila saja lidah bergerak menyebutnya, segala sifat keutamaan dan kebesarannya langsung terbayang dalam hati.

     Meskipun hubungan kasih sayang Umar dan Khalid sesekali merenggang, kebersihan jiwa Umar, keadilan, ketakwaan, dan kebesaran pribadinya yang luar biasa, tidak secuil pun diragukan oleh Khalid. Karena itu, tidak ada alasan untuk meragukan semua keputusan yang diambilnya, karena hati nurani yang mengeluarkannya, telah sampai ke puncak kesalehan, kelurusah, keikhlasan, dan kejujuran, sejauh yang dapat dicapai oleh manusia yang berhati bersih dan terpimpin.

     Tak ada sedikit pun maksud jelek Umar terhadap pribadi Khalid itu. Hanya saja ia merasa keberatan terhadap pedangnya yang terlalu cepat menggores dan tajam. Hal ini telah ada dalam bayangannya ketika Umar mengusulkan pemberhentian Khalid kepada Abu Bakar, menyusul terbunuhnya Malik bin Nuwairah. Kala itu, ia mengatakan, “Ada sisi kezaliman pada pedang Khalid.” Kezaliman yang dimaksud adalah sikap kurang hati-hati sehingga kadang-kadang membunuh jiwa yang tidak semestinya terbunuh.

     Khalifah Ash-Shiddiq menjawab, “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah terhunus oleh Allah atas orang-orang kafir.

     Umar tidak bermaksud bahwa Khalid tidak berhati-hati membunuh dengan pedangnya. Ia mengarahkan sifat itu kepada pedang Khalid, bukan pribadi Khalid. Kata-kata itu bukan saja mengungkapkan adab sopan santun, melainkan juga penilaian baiknya terhadap diri Khalid.

     Kehidupan Khalid adalah perang sejak lahir sampai mati. Lingkungan, pertumbuhan, pendidikan, dan seluruh kehidupannya, sebelum dan sesudah Islam, merupakan arena bagi seorang pahlawan berkuda yang lihai lagi ditakuti. Kemudian bahwa kegigihannya pada masa silam sebelum Islam, peperangan-peperangan yang diterjuninya menentang Rasul dan shahabatnya, dan pukulan-pukulan pedangnya pada masa kesyirikan yang menjatuhkan benyak kepala orang yang beriman serta kening-kening para shahabat yang taat beribadah. Semuanya itu merupakan beban yang berat bagi jiwanya.

     Sekarang, ia menjadikan pedangnya sebagai alat yang ampuh penebus masa lalu, dengan memancung habis segala tonggak kemusyrikan, berlipat ganda hebatnya dari apa yang telah pernah dilakukannya terhadap Islam. Anda tentu masih ingat kalimat yang pernah penulis ungkapkan di awal cerita ini, yang keluar dari lisan Khalid ketika berbicara kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, mintakanlah ampunan atas semua tindakan menghalangi dari jalan Allah yang telah kulakukan.

     Sekalipun Rasulullah telah menjelaskan bahwa Islam telah memaafkan semua kesalahan masa lalu, Khalid berusaha mendapatkan janji dari Rasulullah saat ia masih hidup agar beliau memohonkan ampun kepada Allah atas segala perbuatannya di masa silam itu. Sebilah pedang ketika berada di tangan seorang panglima berkuda yang tiada duanya seperti Khalid, kemudian tangan yang menggenggam pedang itu digerakkan oleh hati yang bergelora dengan kehangatan semangat untuk menebus kesalahan dan menyucikan diri, serta dipenuhi dengan pembelaan mutlak terhadap agama yang masih dikelilingi berbagai persekongkolan jahat dan permusuhan. Sungguh, sulit bagi pedang ini untuk melepaskan diri dari pembawaannya yang keras dan ketajamannya yang memutus. Beginilah keadaannya, kita lihat pedang Khalid kesukaran bagi pemiliknya.

     Pasca penaklukan Mekkah, Nabi mengutus Khalid ke beberapa kabilah yang berdekatan dengan negeri Mekkah, dengan pesan, “Aku mengutusmu ke dai, bukan sebagai prajurit.” Rupanya pedangnya telah menguasai dirinya yang mendorong kepada perang sebagai seorang prajurit dan terlepas dari peran seorang dai, sebagaimana wasiat Rasulullah kepadanya.

     Nabi terluka dan berduka ketika mendengar tindakan Khalid dan sambil berdiri menghadap kiblat, beliau mengangkat tangannya, memohon ampun kepada Allah dengan ungkapan, “Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari tindakan yang telah dilakukan Khalid.” Beliau kemudian mengutus Ali kepada mereka untuk memberikan tebusan atas darah dan harta mereka.

     Kata orang, Khalid membela dirinya dengan alasan bahwa Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi mengatakan kepadanya, “Rasulullah telah memerintahkan kepadamu agar engkau memerangi mereka karena mereka menolak Islam.

     Khalid memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan itu mendorongnya sekuat-kuatnya untuk menghancurkan seluruh dunia lamanya yang menyiksa hatinya. Kalaulah kita mau memahaminya, itu bisa dilihat saat ia meruntuhkan berhala ‘Uzza ketika dia dikirim Nabi untuk meruntuhkannya. Kalau kita melihat bagaimana ia menghancurkan bangunan batu tersebut, kita pasti menyaksikan seorang lelaki seolah-olah sedang memerangi barisan tentara seluruhnya.

     Ia menebas semua kepala dan merobek-robek seluruh barisannya dengan kematian. Ia menghantam dengan tangan kanan dan kirinya, serta dengan kakinya sambil berteriak kepada runtuhan yang bertebaran dan debu yang berjatuhan, “Ya ‘Uzza, sekarang engkau diingkari dan tak disucikan lagi. Aku melihat, Allah telah menghinakanmu.

     Tetapi kita sendiri, karena apa yang kita harapkan tidak beda dengan yang diharapkan Umar, seandainya pedang Khalid tidak bertindak keras, kita akan selalu mengulang-ulangi ucapan Amirul Mukminin, “Takkan ada lagi seorang wanita pun yang akan sanggup melahirkan laki-laki seperti Khalid.

     Sewaktu ia meninggal dunia Umar menangis sejadi-jadinya. Kemudian orang-orang mengetahui bahwa Umar menangis bukan hanya karena kehilangan Khalid semata, melainkan menangisi lenyapnya kesempatan untuk mengangkatnya kembali memegang pucuk pimpinan tentara Islam, sesudah berkurangnya kefanatikan manusia yang berlebih-lebihan kepadanya. Karena, sebetulnya cukup lama Umar bertekad memulihkan kepemimpinannya itu dan menjernihkan sebab-sebab pemberhentiannya, kalau tidaklah maut datang menjemput pahlawan besar itu untuk bersegera pulang ke tempat kembalinya di surga.

     Adapun sekarang, bukankah memang waktu bagi dia untuk beristirahat? Karena, sebelum itu bumi ini belum pernah melihatnya beristirahat seperti itu dari memerangi musuh. Bukankah sekarang telah datang masanya bagi jasad yang selalu bekerja keras itu, untuk tidur sekejap? Ialah pribadi yang sering dilukiskan oleh shahabat-shahabat maupun oleh musuh-musuhnya, dengan kata-kata, “Orang yang tidak pernah tidur dan tidak membiarkan orang lain tidur.

     Ia sendiri, seandainya diperbolehkan memilih, tentu akan memilih agar Allah menambah usianya agar dapat meneruskan perjuangan meruntuhkan semua bangunan-bangunan lapuk, dan agar dapat menambah amal dan jihadnya dalam Islam. Semangat juang dan keharuman namanya akan selalu dikenang sepanjang masa, selama kuda-kuda perang masih meringkik, mata-mata pedang masih berkilatan, dan selama panji-panji bendera tauhid masih di atas pundak tentara Islam.

     Khalid pernah berkata, “Tidaklah suatu malam yang di dalamnya aku dihadiahi pengantin atau dikaruniai bayi itu lebih aku sukai daripada malam yang sangat menegangkan saat aku berada dalam ekspedisi tentara Muhajirin dan menemui pagi bersama mereka menggempur kaum musyrikin.

     Karena itulah, ada sesuatu yang merisaukan pikirannya sewaktu masih hidup, yaitu bila ia mati di atas tempat tidur, padahal ia telah menghabiskan seluruh umurnya di atas punggung kuda perangnya, dan di bawah kilatan pedangnya. Ia pernah berperang bersama Rasulullah. Ia telah menundukkan kaum murtad. Ia telah membumiratakan takhta Kerajaan Persia dan Romawi. Ia yang telah melompat menjelajahi bumi di Iraq setapak demi setapak, hingga menaklukkannya demi Islam dan di Syria setapak demi setapak pula, sampai semuanya dipersembahkannya ke haribaan Islam.

     Khalid ialah seorang panglima, dengan kesukaran hidup seorang prajurit dan kerendahan hati. Ia juga seorang prajurit dengan tanggung jawab seorang panglima dengan keteladanannya. Seorang pahlawan perang yang hatinya risau bila mati di atas tempat tidurnya. Ketika itu, ia berkata sambil meneteskan air mata, “Aku telah ikut serta dalam pertempuran di mana-mana. Seluruh tubuhku penuh dengan tebasan pedang, tusukan tombak, dan tancapan panah. Namun, kini aku harus mati di atas ranjangku dalam keadaan terbujur laksana matinya seekor unta. Sungguh, mata para pengecut tidak akan tertidur.

     Itulah kata-katanya. Kata-kata itu tidak akan diucapkan seseorang dalam suasana demikian, kecuali ia seorang lelaki jantan seperti dia! Dia mengucapkan pesan itu saat hampir menghembuskan nafasnya yang terakhir.

     Tahukah anda kepada siapa ia berpesan? Yaitu kepada Umar bin Al-Khatthab sendiri.

     Tahukah anda kekayaan apa yang ditinggalkannya? Hanya kuda perang dan pedangnya.

     Kemudian apa lagi? Selain itu, tidak ada barang berharga yang dapat dinikmati atau dimiliki orang.

     Hal itu karena seumur hidupnya tidak pernah dipenuhi keinginan, kecuali menikmati kemenangan dan Berjaya mengalahkan musuh kebenaran. Tak satu pun kesenangan dunia yang mempengaruhi keinginannya.

     Ada satu lagi yang tertinggal, yaitu suatu barang yang dijaganya mati-matian. Barang itu berupa kopiah. Suatu ketika, kopiah itu terjatuh dalam Perang Yarmuk lalu ia dan orang lain harus bersusah payah untuk mencarinya. Ketika orang lain mencelanya karena itu, ia berkata, “Di dalamnya terdapat beberapa helai rambut dari ubun-ubun Rasulullah. Aku merasa optimis dan berharap kemenangan dengan (keberkahan)nya.

     Akhirnya jenazah pahlawan besar ini keluar dari rumahnya diusung oleh para shahabatnya. Ibu dari sang pahlawan memandangnya dengan kedua mata yang bercahaya memperlihatkan kekerasan hati, tetapi disaput awan duka cita, lalu melepasnya dengan kata-kata:

     Engkau lebih baik daripada jutaan orang

     Karena engkau berhasil membuat wajah mereka tertunduk

     Soal keberanian, engkau lebih berani daripada singa betina

     Yang sedang mengamuk melindungi anaknya

     Soal kedermawanan, engkau lebih dermawan daripada air yang mengalir deras

     Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah.

     Umar mendengar ucapan tersebut, maka hatinya bertambah duka dan terharu. Air matanya jatuh berderai, “Engkau benar! Demi Allah, ia memang seperti itu.

     Kini tingallah pahlawan itu di pembaringannya. Para shahabatnya tegak berdiri dengan khusyuknya, dunia sekeliling mereka hening, tenang dan sepi. Keheningan yang mengharukan itu, tiba-tiba dipecahkan oleh ringkikan dan dengusan kuda yang datang, sebagaimana yang dapat kita bayangkan, sesudah melepaskan tali kekangnya, segera mendompak dan melompat lalu berlari melintasi jalan-jalan Madinah menyusul dari belakang jenazah tuannya, pemilik, dan penunggangnya, sementara keharuman jenazah itu semerbak membawanya ke arah tujuan.

     Sewaktu kuda itu sampai ke dekat ke kumpulan orang-orang yang sedang termenung menghadapi permukaan kubur yang masih basah. Ia menggerak-gerakkan kepalanya bagaikan mengibarkan panji perang, disertai dengan dengusan yang merendah, seperti yang dilakukannya selagi pahlawannya masih hidup menaiki punggungnya, pergi bertempur mengguncangkan istana-istana dan takhta Kerajaan Persia dan Romawi, menghilangkan segala angan-angan keberhalauan dan kedurhakaan, dan mengikis habis segala kekuatan kemusyrikan dan kemunduran yang merintangi jalan Islam.

     Kuda itu terhenti dan matanya menatap kubur tanpa menoleh sedikit pun. Ia menggoyang-goyangkan kepalanya naik turun, seakan-akan melambai kepada tuan dan pahlawannya, untuk memberikan hormat dan menyampaikan salam perpisahan. Kemudian ia tertegun, dengan kepala terangkat ke atas dan kening yang meninggi, lalu mengalirlah air matanya yang deras.

     Kuda ini telah diwakafkan Khalid bersama pedangnya untuk jalan Allah. Tetapi, adakah orang berkuda lainnya yang sanggup menungganginya sesudah Khalid? Maukah ia merendahkan punggungnya bagi orang lain? Wahai, pahlawan yang selalu Berjaya, wahai fajar di setiap malam. Engkau telah mengangkat tinggi moral pasukanmu, dengan ucapan setiap bergerak maju, “Kala subuh datang menjelma, pejalan-pejalan malam melantunkan pujian.

     Kata-katamu itu telah menjadi kata-kata mutiara. Dan engkau telah menyelesaikan perjalanan malammu. Temuilah pagi hari dengan memuji, wahai Abu Sulaiman! Sebutan namamu sangat mulia, harum mewangi, kekal abadi, wahai Khalid! Biarkanlah kami mengulang-ulangi bersama Amirul Mukminin ucapan kata-kata yang sedap, manis, dan indah yang dilantunkan untuk meratapi dan melepas kepergianmu; Rahmatullah bagi Abu Sulaiman.

     Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada yang di dunia


     Ia hidup terpuji dan berbahagia setelah mati.




▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

0 komentar:

Copyright @ 2014 Rotibayn.

Design Dan Modifikasi SEO by Pendalaman Tokoh | SEOblogaf