Selasa, 17 September 2013

Filled Under:

Salman Al-Farisi (Pencari Kebenaran Sejati).



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

     Pahlawan yang akan kita bicarakan sekarang ini berasal dari Persia. Dari Persia ini pula agama islam nanti dianut oleh orang-orang Mukmin yang tidak sedikit jumlahnya dan dari kalangan mereka muncul pribadi-pribadi yang tiada tanding, baik dalam keimanan, keilmuan, keagamaan, maupun persoalan keduniaan.
     
     Salah satu keistimewaan dan keagungan islam ialah, setiap islam memasuki suatu negeri, maka dengan keajaiban luar biasa segala keahlian, kemampuan dan kejeniusan yang tersembunyi dari warga dan penduduk negeri itu dibangkitkan, sehingga muncullah para filosof, dokter, ahli hukum, ahli astronomi, penemu, dan ahli matematika yang semuanya Muslim.

     Ternyata bahwa tokoh-tokoh itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa awal perkembangan islam penuh dengan orang-orang jenius dalam segala bidang, baik citra maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tapi satu agama, yakni islam.

     Rasulullah  sendiri memang telah mengabarkan perkembangan yang penuh berkah dari agama ini, bahkan beliau telah menerima janji yang benar dari Rabbnya Yang Maha Besar lagi Maha Mengetahui, bahwa suatu hari nanti tidak ada lagi baginya jarak pemisah tempat dan waktu, hingga sejauh mata memandangan akan menyaksikan panji-panji islam berkibar di seluruh muka bumi, serta di istana-istana pera penduduknya.

     Salman Al-Farisi  sendiri turut menyaksikan hal tersebut, karena ia terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu. Peristiwa itu terjadi ketika Perang Khandaq pada tahun 5 H. awalnya, beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekkah untuk memobilisasi orang-orang musyrik dan membentuk pasukan gabungan untuk menghadapi Rasulullah  dan kaum Muslimin. Mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan yang akan mencabut agama baru ini.

     Siasat da taktik perang pun diatur secara licik. Tentara Quraish dan Ghatafan akan menyerang kota Madinah dari depan, sedangkan Bani Quraizhah akan menyerangnya dari belakang barisan kaum Muslimin sehingga mereka akan terjepit dari dua arah. Dengan demikian, mereka akan hancur lebur dan hanya tinggal kenangan saja.

     Demikianlah kaum Muslimin tiba-tiba melihat kedatangan pasukan besar mendekat dan membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan Madinah. Kaum Muslimin panic dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka terlukiskan di Al-Qur’an, dalam firman Allah:

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا
(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.  <Al-Ahzab: 10>

     24.000 prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menyatroni kota Madinah dengan tujuan hendak mengepung dan melepaskan serangan penentuan agar mereka terbebas dari Muhammad, agama serta para shahabatnya.

     Pasukan ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraish, tetapi juga dari berbagai kabilah dan kelompok-kelompok berkepentingan yang menganggap islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan penentuan bagi pihak musuh-musuh islam, baik individu, kelompok, suku, maupun golongan yang memiliki kepentingan tersendiri.

     Kaum Muslimin menyadari bahwa mereka sedang dalam keadaan yang gawat. Rasulullah  pun mengumpulkan para shahabat untuk bermusyawarah. Mereka semua tentu saja setuju untuk melawan, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk melawan?

     Ketika itulah, tampil seorang yang berbadan tinggi dan berambut lebat.dialah orang yang disayangi dan dihormati oleh Rasulullah , itulah dia Salman Al-Farisi . Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandangan meninjau sekitar Madinah, dan ternyata bahwa kota itu terlindungi oleh gunung dan bukit-bukit batu yang mengelilinginya. Namun, di sana terdapat juga daerah terbuka yang luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

     Di negerinya Salman  telah mempunyai pengalaman luas tentang strategi dan siasat perang. Karena itu, ia mengajukan suatu usulan kepada Rasulullah , yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana tersebut adalah menggali parit sebagai perlindungan sepanjang daerah terbuka di sekitar Madinah.


     Hanya Allah yang mengetahui apa yang akan dialami kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit. Ketika pasukan Quraish menyaksikan parit terbentang di hadapan, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, sehingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka hanya mendekam di kemah-kemah, tanpa daya untuk menerobos Madinah. Akhirnya pada suatu malam Allah ta’ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memorak-porandakan kesatuan mereka.

     Abu Sufyan pun memerintahkan agar anak buahnya kembali pulang kembali ke kampung mereka, dalam keadaan berputus asa serta menderita kekalahan pahit.

     Pada waktu menggali parit, Salman  tidak ketinggalan bekerja bersama dengan kaum Muslimin. Mereka menggali tanah dengan penuh semangat. Tidak ketinggalan, Rasulullah  juga membawa cangkul dan bekerja bersama mereka. Tidak disangka, di tempat penggalian Salman  bersama rekan-rekannya, cangkul mereka terbentur oleh sebuah batu besar. Salman  adalah seorang yang berperawakan besar dan bertenaga kuat. Sekali ayun, lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahkannya berkeping-keping. Tetapi, ia tidak berdaya menghadapi batu besar ini, sedangkan bantuan dari rekan-rekannya hanya menghasilkan kegagalan belaka.

     Salman  pergi menemui Rasulullah  dan meminta izin untuk mengalihkan jalur parit dari garis semula, guna menghindari batu besar yang tidak tergoyahkan itu. Rasulullah  pun pergi bersama Salman untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tersebut. Setelah melihat batu itu, Rasulullah  meminta cangkul dan menyuruh para shahabat agar mundur agar terhindar dari pecahan-pecahan batu itu nanti.

     Rasulullah  lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat cangkul itu. Beliau menghantamkan cangkul ke batu besar itu dengan sekuat tenaga, hingga batu itu pun terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar percikan apu yang tinggi dan menerangi.

     Salman  mengatakan, “Aku melihat percikan api itu menerangi pinggiran Madinah.” Sementara itu, Rasulullah  mengucapkan takbir, “Allah Maha Besar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persia dan percikan api tadi tampak olehku dengan nyata istana-istana Kerajaan Hirah dan kota-kota raja Persia. Sungguh, umatku akan menguasai semua itu.

     Kemudian Rasulullah  mengangkat cangkul itu kembali dan memukulkannya kebatu untuk kedua kalinya. Fenomena yang sama terjadi lagi. Pecahan batu tersebut menyemburkan kilatan api yang tinggi dan menerangi. Rasulullah  pun bertakbir kembali, “Allah Maha Besar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan Nampak nyata olehku istana-istana megahnya. Sungguh umatku akan menguasainya.

     Kemudian beliau memukulkan cangkul itu untuk ketiga kalinya dan batu besar itu pun hancur lebur, serta menimbulkan kilatan api yang terang benderang. Rasulullah  mengucapkan kalimat tahlil dan diikuti oleh kaum Muslimin. Rasulullah  menceritakan kepada mereka bahwa beliau sekarang melihat istana-istana di Syria, sana’a, dan daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di naungan bendera Allah yang berkibar. Dengan keimanan penuh kaum Muslimin pun serentak berseru, “Inilah yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” <Riwayat dari Salman disebutkan dalam Sirah Ibnu Ishaq. Riwayat yang semisal juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari, sunan An-Nasa’I, dan Musnad Ahmad dari Jabir bin Abdullah dan Al-Bara’ bin Azid – edt.>

     Salman -lah yang mengajukan saran untuk membuat parit dan dia pula yang menemukan batu yang telah memancarkan rahasia-rahasia yang akan terjadi di masa mendatang, yakni ketika ia meminta tolong kepada Rasulullah . Ia berdiri di samping Rasulullah  menyaksikan cahaya dan mendengar berita gembira itu. Dia masih hidup ketika berita gembira itu menjadi kenyataan. Ia sendiri melihat, mengalami dan merasakannya. Ia menyaksikan penaklukan kota-kota di Persia dan Romawi, istana di Sana’a, Mesir, Syria, dan Iraq. Ia menjadi saksi seluruh penjuru bumi seakan berguncang keras oleh seruan mempesona penuh berkah yang berkumandang dari puncak menara tinggi di setiap pelosok, memancarkan sinar hidayah dan petunjuk Allah.

     Lihatlah, Salman  sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon yang rindang, sedangkan di negerinya nan jauh di Madain sana, teman-teman dekatnya sedang membicarakan petualangan berat yang dialaminya demi mencari kebenaran, dan mengisahkan kepada mereka bagaimana ia berpindah dari agama nenek moyangnya bangsa Persia menuju agama Nasrani dan terakhir jatuh ke pelukan agama Islam.

     Sungguh, ia telah meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan merelakan dirinya jatuh ke dalam lembah kemiskinan demi kebebasan pikiran dan jiwanya. Dalam pengembaraan mencari kebenaran ia pernah dijual di pasar budak, hingga akhirnya bertemu dengan Rasulullah  dan beriman kepadanya. Semua itu dibahas oleh rekan-rekannya di seberang sana.
     Sekarang, marilah kita dekati majelisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang diceritakannya:

     “Aku berasal dari Asbahan, warga suatu desa yang bernama Ji (Jayyan). Ayahku seorang kepala kampung di daerah itu, dan aku merupakan hamba Allah yang paling di sayang olehnya. Aku sangat taat menjalani agama Majusi, hingga akhirnya diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam.


     Ayahku memiliki sebidang tanah. Suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku melewati sebuah gereja milik kaum Nasrani. Aku mendengar mereka sedang mengadakan “kebaktian”, lalu aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan.


      Aku kagum melihat cara mereka beribadah. Aku berkata di dalam hati, ‘ini lebih baik daripada apa yang aku anut selama ini.’ Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik ayahku serta tidak kembali lagi pulang, hingga ayah mengirim orang untuk menyusulku. Karena agama mereka menarik perhatianku, aku menanyakan kepada orang-orang Nasrani dari mana asal-usul agama mereka. Mereka menjawab, ‘Dari Syria.’


     Ketika aku telah berada di hadapan ayahku, aku bercerita kepadanya, ‘Aku tadi melewati suatu kaum yang sedang melakukan upacara peribadatan di gereja. Upacara mereka amat memikat hatiku. Aku merasa agama mereka lebih baik dari agama kita.’ Setelah itu kami berdebat dan akhirnya kakiku diikat dan dipenjarakan.


     Aku mengirim berita kepada orang-orang Nasrani bahwa aku telah menganut agama mereka. Aku juga berpesan bila rombongan dari Syria datang, aku hendaknya dikabari sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permitaan itu mereka kabulkan.


     Aku memutus rantai yang membelenggu kaki dan meloloskan diri dari penjara, lalu bergabung dengan rombongan itu menuju Syria.ketika telah tiba di tempat tujuan,aku menanyakan siapakah ahli dalam agama itu. Ada seseorang yang mengatakan kepadaku orang yang aku maksud adalah uskup, pemilik gereja. Aku pun mendatanginya dan menceritakan keadaanku.


     Akhirnya aku tinggal bersamanya sebagai pelayan, sekaligus melaksanakan ajaran mereka dan belajar. Namun, sosok uskup ini adalah sosok yang tidak baik dalam menjalankan ajaran agamanya. Pasalnya, ia mengumpulkan sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, namun disimpan hanya untuk dirinya sendiri.


     Kemudian uskup itu wafat. Orang-orang mengangkat orang lain sebagai gantinya, dan aku pikir tidak ada seorang pun yang lebih baik agamanya daripada uskup baru ini. Aku pun mencintainya sedemikian rupa, sehingga hatiku merasa tidak ada orang yang lebih kucintai sebelum itu daripada dirinya.


     Tatkala ajalnya telah dekat, aku bertanya kepadanya, ‘Seperti yang anda ketahui, takdir Allah atas diri anda telah dekat masanya. Apakah yang harus aku lakukan dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubungi?’ ia menjawab, ‘Anakku, tidak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul.’


     Ketika ia wafat, aku pergi ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya. Aku menceritakannya kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki oleh Allah.


     Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus aku ikuti. Ia pun menunjukkan kepadaku seorang saleh yang tinggal di Nashibin. Aku mendatanginya dan menceritakan keadaanku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki oleh Allah.


     Ketika ia telah mendekati ajalnya, aku menanyakan hal yang sama kepadanya. Aku diperintahkan olehnya agar menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi. Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya. Sebagai bekal hidup, aku beternak sapi dan beberapa ekor kambing.


     Saat ajal hampir menjemputnya, aku pun menanyakan kepadanya, ‘Siapakah yang engkau wasiatkan agar aku mengikutinya?’ ia menjawab, ‘Anakku, tidak ada seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau kepadanya. Tetapi, sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang nabi yang mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Ia nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia. Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang: ia tidak mau makan harta sedekah, namun bersedia menerima hadiah, dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila engkau melihatnya, engkau pasti mengenalinya.’


     Suatu hari, suatu rombongan datang, lalu aku menanyakan dari mana asal mereka. Akhirnya aku mendapatkan jawaban bahwa mereka berasal dari Jazirah Arab, maka aku katakan kepada mereka, ‘Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?’ mereka menjawab, ‘Baiklah.’


     Akhirnya mereka membawaku ikut dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di tempat itulah mereka tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah Nabi  yang ditunggu. Ternyata dugaanku tidak benar.


     Mulai saat ini aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga suatu hari datang seorang Yahudi Bani Quraizhah yang membeliku dari yang membeli diriku sebelumnya. Aku dibawanya ke Madinah, dan – DEMI ALLAH – baru saja kulihat negeri itu, akupun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.


     Aku tinggal bersama orang Yahudi tersebut dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga tiba waktu Allah mengutus Rasul-Nya, lalu hijrah ke Madinah dan singgah di Bani Amr bin Auf di Quba’.



     Suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sementara majikanku duduk di bawahnya, tiba-tiba seorang Yahudi saudara sepupunya datang menghampirinya dan mengatakan, ‘Celakalah Bani Qailah! Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba’ yang datang dari Mekkah dan mengaku sebagai Nabi.’


     
     Demi Allah, tubuhku bergetar hebat seketika mendengar ucapan orang itu hingga pohon kurma itu bagai berguncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan berkata kepada orang tadi, ‘Apa katamu? Ada berita apakah?’


     Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, dan membentak, ‘Apa urusanmu dengan ini, kembalilah bekerja!’ aku pun kembali bekerja.


     Setelah hari petang, aku mengumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar untuk menemui Rasulullah  di Quba’. Aku menjumpai beliau ketika sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu berkata kepadanya, ‘Tuan-tuan adalah seorang perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kuniatkan untuk sedekah. Setelah mendengar keadaan tuan-tuan, aku berpikir bahwa tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini.’ Aku pun meletakkan makanan itu di hadapan beliau.


     ‘Makanlah dengan menyebut nama Allah.’ Sabda Rasulullah  kepada para shahabatnya. Tetapi, beliau tidak mengulurkan tangannya untuk menjamah makanan itu. Aku berkata dalam hati, ‘Demi Allah, inilah satu dari tanda-tandanya, ia tidak mau memakan harta sedekah.’


     Setelah aku pulang dan keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah  sambil membawa makanan. Aku berkata kepadanya, ‘Aku melihat tuan tidak sudi memakan sedekah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin aku serahkan kepada tuan sebagai hadiah.’ Kemudian aku meletakkan makanan itu di hadapan beliau, ‘Makanlah dengan menyebut nama Allah,’ sabda beliau kepada shahabat, dan beliau pun turut makan bersama mereka. Aku kembali berbisik dalam hati,’Demi Allah, inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah.’


     Setelah itu aku pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian aku pergi mencari Rasulullah  dan berjumpa di Baqi’, saat sedang mengiring jenazah dan dikelilingi oleh shahabat-shahabatnya. Beliau memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju.


     Aku mengucapkan salam kepada beliau dan kemudian menyejajarkan tubuhku di dekat beliau untuk melihat bagian atas punggungnya. Ternyata beliau memahami keinginanku dan menyingkap kain burdah beliau dari lehernya hingga tampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu cap kenabian seperti disebutkan oleh pendeta dulu. Aku pun langsung membalikkan badan dan menciumnya sambil menangis.


     Kemudian Rasulullah  memanggilku. Aku duduk di hadapan beliau dan menceritakan kisahku seperti yang telah kucertakan tadi. Kemudian aku masuk islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai Perang Badar dan Perang Uhud.


     Suatu hari, Rasulullah  bersabda kepadaku, ‘Mintalah kepada majikanmu agar bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan.’ Aku pun meminta kepada majikanku agar aku dibebaskan sebagaimana dititahkan oleh Rasulullah , sedangkan beliau menyuruh para shahabat untuk membantuku dalam persoalan keuangan, akhirnya, aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah  dalam Perang Khandaq dan peperangan selanjutnya.” <Kisah ini disebutkan di dalam Ath-thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad, juz IV>

     Dengan kalimat-kalimat yang jelas dan menyejukkan, Salman  menceritakan kepada kita upaya dan perjuangan suci nan mulia dan agung untuk mencari hakikat keagamaan, yang akhirnya dapat sampai kepada agama Allah Ta’ala dan menjadi jalan hidup terakhir yang harus ditempuhnya.

     Nah, manusia ulung seperti apakah dia? Keistimawaan apakah yang mampu mengangkat jiwanya yang agung dan melecut kemauannya yang keras untuk mengatasi segala kesulitan dan mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mungkin baginya? Kehausan dan kecintaan terhadap kebenaran seperti apakah yang telah menyebabkan Salman  rela meninggalkan kampung halaman beserta harta benda dan segala macam kesenangan? Dia harus menempuh daerah yang belum dikenal – dengan segala halangan dan beban penderitaan – dan pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negeri ke negeri lain, tidak kenal letih atau lelah, di samping tidak lupa beribadah secara tekun.

     Pandangannya yang tajam selalu memperhatikan hikmah yang ada pada manusia, kehidupan dan jalan hidup mereka yang berbeda, dan tujuannya yang utama tidak pernah menyimpang dari semula, yang tiada lain adalah mencari kebenaran. Pengorbanan yang ia lakoni demi mencapai hidayah Allah, bahkan ia pernah dijual sebagai budak. Akhirnya, Allah menganugerahkan ganjaran yang setimpal kepadanya lalu dikaruniai usia lanjut, hingga ia dapat menyaksikan dengan kedua matanya bagaimana panji-panji Allah berkibaran di seluruh pelosok dunia, sementara umat islam mengisi ruangan dan sudut-sudutnya dengan hidayah dan petunjuk Allah, serta dengan kemakmuran dan keadilan.

     Apa yang kita harapkan akan terjadi pada keislaman seorang tokoh yang tulus dan bertekad baja seperti itu? Sungguh, keislaman Salman  adalah keislaman orang-orang utama dan takwa. Orang-orang menyerupakan Salman  dengan Umar bin Al-Khattab  dalam hal kecerdasan, kesahajaan, dan kebebasan dari pengaruh dunia.

     Ia pernah tinggal bersama Abu Darda di sebuah rumah beberapa hari lamanya. Abu Darda’ telah terbiasa beribadah pada waktu malam dan berpuasa pada waktu siang. Salman  melihatnya terlalu berlebihan dalam beribadah. Suatu hari Salman  berusaha mencegat niat Abu Darda  untuk berpuasa sunnah esok hari. Namun, Abu Darda  justru berkata, “Apakah engkau hendak melarangku berpuasa dan shalat karena Allah?

     Salman  menjawab, “Kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, demikian pula keluargamu mempunyai hak atas dirimu. Berpuasalah dan (jangan lupakan hak untuk) berbukalah, shalatlah dan (jangan lupakan jatah untuk) tidurlah.

     Ketika peristiwa itu sampai ke pendengaran Rasulullah , beliau bersabda, “Salman  telah kenyang dengan ilmu.

     Rasulullah  sendiri sering memuji kecerdasan Salman  serta ketinggian ilmunya, sebagaimana beliau memuji akhlak dan agamanya. Pada waktu Perang Khandaq, kaum Anshar berdiri dan berkata, “Salman  dari golongan kami.” Kaum Muhajirin pun juga bangkit dan berkata, “tidak, ia dari golongan kami.” Rasulullah  pun memanggil mereka semua dan bersabda, “Salman  berasal dari kami, AHLUL BAIT.

     Salman  memang layak mendapatkan kehormatan itu. Ali bin Abu Thalib  menggelari Salman  dengan sebutan “LUQMAN AL-HAKIM”. Ketika Salman  telah wafat, Ali  ditanya tentang pemberian gelar itu. Ia menjawab, “Ia adalah seorang yang berasal dari kami dan kembali pada kami, AHLUL BAIT. Siapa di antara kalian yang menyamai Luqman Al-Hakim (Salman)? Ia telah di karuniai ilmu yang pertama dan juga ilmu yang terakhir. Ia telah membaca kitab yang pertama dan juga kitab terakhir. Ia bagaikan lautan yang airnya tidak pernah kering.

     Salman  telah mendapatkan kedudukan mulia dan derajat utama di dalam hati semua shahabat. Pada masa kekhalifahan Umar , Salman  datang berkunjung ke Madinah. Umar  melakukan penyambutan yang setahu kita belum pernah dilakukannya kepada siapa pun juga. Umar  mengumpulkan para shahabat dan menghimbau dengan seruan, “Marilah kita pergi menyambut kehadiran Salman .” Kemudian Umar  keluar bersama mereka menuju pinggiran Madinah untuk menyambutnya.

     Sejak bertemu dan beriman kepada Rasulullah , Salman  hidup sebagai seorang Muslim yang merdeka, sebagai pejuang dan selalu berbakti. Ia mengalami kehidupan masa Khalifah Abu Bakar , kemudian masa Amirul Mukminin Umar , lalu masa Khalifah Utsman , dan pada masa inilah ia kembali ke hadirat Rabbnya.

     Pada tahun-tahun kejayaan umat islam, panji-panji islam telah berkibar di seluruh penjuru, harta benda yang tidak sedikit jumlahnya mengalir ke Madinah sebagai pusat pemerintahan, baik sebagai fa’i maupun jizyah, untuk kemudian diatur pembagiannya menurut ketentuan islam, hingga Negara mampu memberikan gaji dan tunjangan tetap. Ketika itu banyak tanggung jawab pemerintahan di semua tingkatannya, sehingga banyak pula pekerjaan dan peluang jabatan sebagai konsekuensi logisnya.

     Dalam kesempatan yang terbuka luas untuk meraih jabatan itu, di manakah kita menemukan Salman ? Di manakah kita dapat menjumpainya saat kekayaan dan kejayaan, kesenangan dan kemakmuran terbentang itu? Bukalah mata anda lebar-lebar!

     Apakah anda tidak melihat seorang tua berwibawa duduk di sana, di bawah naungan pohon, sedang menjalin anyaman untuk dijadikan bakul atau keranjang? Itulah dia Salman ! Perhatikanlah lagi dengan cermat! Perhatikanlah baik-baik jubahnya yang sangat pendek, sehingga hanya sebatas lutut saja. Itulah dia, seorang tua yang berwibawa dan hidup dalam kesederhanaan meskipun banyak harta.

       Tunjangan yang diperolehnya tidak sedikit, antara 4-6 ribu dirham per tahun. Namun, semua itu ia bagi-bagikan hingga habis. Ia menolak meski hanya untuk mengambil 1 dirham saja dan mengatakan, “Aku membeli bahan anyaman dengan uang 1 dirham, lalu kuanyam dan kujual seharga 3 dirham. 1 dirham kuambil untuk modal lagi, satu dirham berikutnya untuk nafkah keluargaku, sedangkan 1 dirham sisanya untuk sedekah. Seandainya Umar bin Al-Khattab  melarangku berbuat demikian, aku tidak akan berhenti!

     Lantas bagaimana dengan kita, wahai umat Rasulullah ? Apa yang ada di pikiran kita tentang kehormatan manusia di mana saja dan kapan saja? Sebagian orang ketika mendengar kehidupan sebagian shahabat yang bersahaja, seperti Abu Bakar , Umar , Abu Dzar , dan lain-lain, langsung berpikir bahwa itu disebabkan suasana lingkungan padang pasir, di mana orang arab mendapatkan ketentraman hatinya dengan kesederhanaan. Nah, sekarang kita berhadapan dengan seorang putra Persia, suatu negeri yang terkenal dengan kemewahan dan kesenangan serta hidup boros.

     Salman  yang sedang kita ceritakan ini bukanlah dari golongan miskin atau bawahan, melainkan dari golongan kaya dan kelas tinggi. Mengapa sekarang (setelah memeluk islam) menolak harta, kekayaan dan kesenangan? Mengapa ia lebih memilih kehidupan bersahaja, tidak lebih dari 1 dirham tiap harinya, yang diperoleh dari hasil jerih payahnya sendiri?

     mengapa ia menolak jabatan? Ia lebih memilih menghindari dunia itu dan mengatakan, “Seandainya kamu bisa hidup dengan memakan tanah, asal tidak membawahi 2 orang, maka lakukanlah!

     mengapa ia menolak pangkat dan jabatan, dan mau menerima jika mengepalai sepasukan tentara yang pergi menuju medan perang? Kecuali dalam suasana tiada seorang pun yang mampu memikul tanggung jawab kecuali dia, ia bersedia melakukannya dengan hati murung dan jiwa merintih. Tetapi, mengapa ketika memegang jabatan yang mesti dipikulnya, ia tidak mau menerima tunjangan yang diberikan kepadanya secara Cuma-Cuma padahal itu halal baginya?

     Hisyam meriwayatkan dari Al-Hassan dari Al-Hasan, “tunjangan Salman  sebanyak 5 ribu per tahun, namun ia berpidato di hadapan 30 ribu orang dengan separuh mantelnya dijadikan alas duduknya dan separuh lagi untuk menutupi badannya. Jika tunjangannya datang, ia membagi-bagikannya sampai habis. Untuk makan, ia mengandalkan hasil usaha kedua tangannya.

     Mengapa itu jalan hidup yang ia pilih dan sangat zuhud dari keinginan dunia, padahal ia seorang putra Persia yang biasa tenggelam dalam kesenangan dan dipengaruhi arus kemajuan? Marilah kita dengar jawaban yang diberikannya ketika berada di atas pembaringan menjelang ajal; kala ruhnya yang mulia telah bersiap-siap untuk kembali menemui Rabbnya Yang Maha Tinggi lagi Maha Penyayang.

     Sa’ad bin Abu Waqqash  datang menjenguknya, maka Salman  menangis. Sa’ad  pun bertanya, “Apa yang engkau tangisi, wahai Abu Abdillah? Padahal Rasulullah  wafat dalam keadaan ridha kepadamu.

     Salman  menjawab. “Demi Allah, aku menangis bukan karena takut mati taupun mengharap kemewahan dunia, melainkan karena Rasulullah  telah menyampaikan pesan kepada kita, dalam sabdanya, ‘Hendaklah bagian setiap kalian dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara.’ Padahal, harta milikku begini banyaknya.

     Sa’ad berkata sendiri, “Aku perhatikan, tidak ada yang tampak di sekelilingku kecuali 1 piring dan sebuah wadah untuk bersuci.

     Dia bertutur, “Wahai Sa’ad, ingatlah Allah tentang keinginanmu ketika engkau sedang berkehendak; tentang keputusanmu ketika engkau sedang memutuskan, dan tentang apa yang di tanganmu ketika engkau sedang membagi.

     Itulah rupanya yang telah membuat hati Salman  menjadi kaya dan puas. Ia telah memenuhinya dengan zuhud terhadap dunia dan segala harta, dan pangkat dengan segala pengaruhnya. Itulah pesan Rasulullah  kepadanya dan kepada semua shahabatnya: Agar mereka tidak membiarkan dunia menguasai mereka dan tidak mengambil bagian darinya, kecuali sekedar bekal seorang pengendara.

     Salman  telah memenuhi pesan itu sebaik-baiknya, namun air matanya masih jatuh jatuh berderai ketika ruhnya telah siap untuk berangkat; khawatir bila ia telah melampaui batas yang ditetapkan. Tidak terdapat di ruangannya kecuali sebuah piring makanannya dan sebuah wadah untuk tempat minum dan wudhu. Meski demikian ia menganggap dirinya sebagai orang yang berharta banyak. Nah, bukankah kami telah ceritakan kepada anda bahwa ia mirip sekali dengan Umar ?

     Pada hari-hari ia bertugas sebagai gubernur di Madain, keadaannya tidak sedikit pun berubah. Seperti yang telah kita ketahui, ia menolak gaji sebagai gubernur, 1 dirham sekalipun. Ia tetap mengambil nafkahnya dari hasil menganyam, sedangkan pakaiannya tidak lebih dari sehelai mantel. Bajunya yang sudah tua itu berlomba dengan kesejahteraan dan kesahajaannya.

     Suatu hari, ketika ia sedang berjalan di suatu jalan, seseorang datang dari Syria datang menjumpainya. Orang itu membawa buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat berat, hingga membuatnya kelelahan. Ketika ia melihat Salman  yang tampak sebagai orang biasa dan dari golongan miskin, orang itu hendak menyuruhnya membawa buah-buahan dengan memberi imbalan atas jerih payahnya bila sampai ke tempat tujuan.

     Dia memberi isyarat supaya datang kepadanya dan Salman  pun menuruti dengan patuh. Orang Syria itu berkata, “Tolong bawakan barangku ini!”  barang itu pun di pikul oleh Salman . Mereka berdua berjalan bersama-sama.

     Di tengah perjalanan mereka berdua berpapasan dengan satu rombongan. Salman  memberi salam kepada mereka, dan mereka pun berhenti dan menjawab, “Semoga keselamatan juga dilimpahkan kepada gubernur.

     Orang dari Syria itu bergumam sendiri, “Semoga keselamatan juga dilimpahkan kepada gubernur? Gubernur mana yang mereka maksudkan?” keheranannya  kian bertambah ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban yang dipikul oleh Salman  dengan maksud hendak menggantikannya. Mereka berkata, “Berikanlah kepada kami, wahai gubernur!

     Sekarang, orang Syria itu paham bahwa kulinya tiada lain adalah Salman Al-Farisi, gubernur Madain. Orang itu pun sangat menyesal dan mengungkapkan permintaan maaf dari bibirnya. Ia mendekat untuk menarik beban itu dari tangannya, tetapi Salman  menolak dan menggelengkan kepala sembari mengatakan, “Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu.

     Suatu ketika Salman  pernah ditanyai orang, “Apa sebabnya anda tidak menyukai jabatan sebagai gubernur?” ia menjawab, “Karena manis waktu memegangnya, tetapi pahit sewaktu melepaskannya!

     Kali ini, shahabat memasuki rumah Salman , didapatinya ia sedang duduk merebus tepung, maka shahabat itu bertanya, “Kemanakah pelayan?” ia menjawab, “Aku suruh untuk suatu keperluan, dan aku tidak ingin ia harus melakukan dua pekerjaan sekaligus.

     Ketika kita hendak membicarakan tentang rumah Salman , hendaknya kita benar-benar ingat, bagaimana rumahnya. Ketika hendak mendirikan bangunan yang berlebihan disebut sebagai rumah, Salman  bertanya kepada tukangnya, “Bagaimana model rumah yang hendak anda dirikan?

     Tukang bangunan ini adalah seorang yang arif dan bijaksana. Ia mengetahui kesederhanaan dan sifat Salman  yang tidak suka bermewah-mewah. Ia menjawab, “Jangan khawatir, rumah itu merupakan bangunan yang dapat digunakan bernaung kala panas dan tempat berteduh kala hujan. Andainya anda berdiri, kepala anda akan sampai pada langit-langitnya; dan jika anda berbaring, kaki anda akan terantuk pada dindingnya.Salman  pun berkata, “Benar, seperti itulah seharusnya rumah yang akan anda bangun.

     Tak satu pun barang berharga dalam kehidupan dunia ini yang digemari atau diutamakan oleh Salman , kecuali suatu barang yang memang amat diharapkan dan dianggap penting, bahkan telah dititipkan kepada istrinya untuk disimpan di tempat yang tersembunyi dan aman. Ketika sakit yang berakhir pada ajalnya, yaitu pada pagi hari kepergiannya, ia memanggil istrinya untuk mengambil titipannya dahulu. Ternyata, barang itu hanyalah seikat kesturi yang diperolehnya waktu pembebasan Jalula dahulu. Barang itu sengaja disimpan untuk wangi-wangian pada hari wafatnya.

     Kemudian ia menyuruh sang istri untuk mengambil air. Salman  menaburkan bubuk kesturi itu ke dalam cangkir dan mengaduknya dengan tangan, lalu berkata kepada istrinya, “Percikanlah air ini ke sekelilingku. Sekarang telah hadir di hadapanku makhluk Allah yang tidak suka makanan, tetapi gemar wangi-wangian.
     
     Setelah selesai, ia berkata kepada istrinya, “Tutupkanlah pintu dan turunlah!” perintah itu pun dituruti oleh istrinya. Tidak lama antara waktu itu dan istrinya kembali masuk, ruh yang beroleh berkah itu telah meninngalkan dunia dan berpisah dari jasadnya. Dia telah mencapai alam yang tinggi, di bawa terbang oleh sayap kerinduan. Kerinduan untuk memenuhi janjinya, bertemu lagi dengan Rasulullah Muhammad  dengan kedua shahabat beliau, Abu Bakar  dan Umar , serta tokoh-tokoh mulia lainnya dari golongan syuhada dan orang-orang utama.

Salman 

Telah lama Salman  menantikan itu dalam kerinduan dahaga

Hari ini rindu itu telah terobati dan dahaga itu pun telah hilang

Semoga ridha dan rahmat Allah menyertainya.





  ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

29 komentar:

Copyright @ 2014 Rotibayn.

Design Dan Modifikasi SEO by Pendalaman Tokoh | SEOblogaf