بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Telah menjadi kebiasaan manusia pada waktu itu yang mana golongan
bangsawan selalu menyediakan duplikat berhala-berhala besar yang terdapat di
tempat pemujaan umum yang dikunjungi oleh orang banyak. Mu’adz bin Amr bersama
shahabatnya Mu’adz bin Jabal telah bermufakat akan menjadikan berhala di Amr
bin Al-Jamuh sebagai barang permainan dan penghinaan.
Pada malam hari mereka berdua menyelinap ke dalam rumah, lalu mengambil
berhala itu dan membuangnya ke dalam lubang yang biasa digunakan orang untuk
membuang hajatnya. Pada pagi harinya, Amr tidak melihat Manaf (nama berhala)
berada di tempat biasanya. Ia mencari berhala itu dan menemukannya di tempat
pembuangan hajat. Amr marah besar dan berteriak, “Celakalah!
Siapakah yang telah melakukan perbuatan durhaka terhadap tuhan-tuhan kami tadi
malam?” ia lalu mencuci dan membersihkan
berhala itu dan menaburkan wewangian.
Malam harinya, Mu’adz bin Amr dan Mu’adz bin Jabal memperlakukan berhala
itu sama seperti malam sebelumnya. Hal yang sama juga berlangsung pada
malam-malam selanjutnya. Akhirnya setelah merasa bosan, Amr mengambil pedangnya
lalu meletakannya di leher Manaf, sambil berkata, “Jika kam
benar-benar dapat memberikan kebaikan, pertahankanlah dirimu sendiri!”
Keesokan harinya, Amr bin Al-Jamuh kembali tidak menemukan berhala
sesembahannya di tempat seperti biasa. Ia menemukannya di tempat pembuangan
hajat seperti sebelumnya, hanya saja kali ini tidak sendirian. Berhala itu
terikat bersama bangkai seekor anjing dengan tali yang kuat. Saat memuncak
kemarahan, kekecewaan, dan ketidakpercayaannya, tiba-tiba beberapa bangsawan
Madinah yang telah masuk Islam mendekatinya di tempat itu.
Sambil menunjuk kepada berhala yang tergeletak tidak berdaya dan terikat
pada bangkai anjing itu, mereka mencoba menggugah akal, nurani, dan kesadaran
Amr bin Al-Jamuh dengan menjelaskan kepadanya perihal Ilah yang Maha Benar lagi
Maha Tinggi, yang tidak satu pun yang menyamai-Nya. Mereka juga menjelaskan
tentang Muhammad, sebagai seorang yang jujur dan terpercaya, yang muncul di
arena kehidupan itu untuk memberi, bukan untuk menerima. Untuk member petunjuk,
dan bukan untuk menyesatkan.
Selanjutnya mereka menjelaskan tentang Islam yang datang untuk
membebaskan manusia dari segala macam belenggu dan menghidupkan pada mereka
semangat pengabdian kepada Allah serta menerangi dalam hati mereka dengan
cahaya-Nya.
Dalam sekejap saja, Amr bin Al-Jamuh telah menemukan jati diri dan
tempat kembalinya. Beberapa saat kemudian ia pergi untuk membersihkan pakaian
dan badannya, lalu memakai minyak wangi dan merapikan diri hingga tampak mengesankan.
Setelah itu ia berjalan dengan langkah yang mantap dan jiwa yang bercahaya
untuk berbaiat kepada Nabi terakhir, dan menempati kedudukannya di barisan
orang-orang beriman.
Seseorang bisa saja bertanya-tanya kepada diri sendiri, mengapa orang
seperti Amr bin Al-Jamuh, yang merupakan pemimpin dan bangsawan di kalangan
sukunya, bisa mempercayai berhala-berhala itu sedemikian rupa? Mengapa akal
mereka tidak dapat menghindarkan mereka dari keyakinan bodoh seperti itu? Dan
sekarang, setelah mereka menganut Islam dan memberikan pengorbanan, kita
menganggap mereka sebagai orang-orang besar?
Pada masa sekarang ini, pertanyaan seperti itu bisa saja timbul dalam
pikiran orang karena akal anak kecil saja tidak akan bisa menerima untuk
mendirikan di rumahnya barang yang terbuat dari kayu lalu disembahnya. Tetapi,
pada masa silam, emosi manusia mudah menerima perbuatan-perbuatan aneh, seperti
itu di masa kecerdasan dan nalar mereka tiada berdaya menghadapi arus tradisi
kuno tersebut.
Athena sudah cukup menjadi contoh bagi kita. Yakni Athena pada masa
Pericles, Pythagoras, dan Socrates. Athena yang telah mencapai tingkat berpikir
yang menakjubkan itu, seluruh penduduknya, mulai dari para filosof, tokoh
pemerintahan sampai kepada rakyat biasa, mempercayai patung-patung yang dipahat
dan memujanya sampai taraf yang amat hina dan memalukan. Hal itu terjadi karena
mental spiritual mereka pada waktu itu masih sangat rendah dan tidak bisa
mengimbangi ketinggian daya pikir mereka.
Amr bin Al-Jamuh telah menyerahkan hati dan hidupnya kepada Allah, Rabb
semesta alam. Meskipun sejak awal ia telah ditakdirkan sebagai seorang pemurah
dan dermawan, Islam telah melipatgandakan kedermawanannya ini, hingga seluruh
harta kekayaannya diserahkannya untuk kepentingan agama dan rekan-rekan
seperjuangannya. Rasulullah pernah menanyakan kepada segolongan Bani Salamah
yang merupakan kabilah Amr bin Al-Jamuh, “Siapakah
yang menjadi pemimpin kalian, wahai Bani Salamah?”
Mereka menjawab, “Al-Jaddu bin Qais, hanya saja ia
kikir.”
Rasulullah menanggapi, “Apa lagi penyakit yang lebih buruk
daripada kikir? Kalau begitu, pemimpin kalian ialah si Putih Kribo, Amr bin
Al-Jamuh.”
Kesaksian dari Rasulullah ini merupakan penghormatan besar bagi Amr.
Sehubungan dengan hal ini, seorang penyair Anshar membuat syair:
Amr bin Al-Jamuh dikenal karena
kedermawanannya
Maka wajar bila ia dipanggil sebagai dermawan
Jika ada peminta-minta, ia memberikan hartanya
Danmengatakan, ambillah, karena esok ia akan kembali berlipat ganda.
Sebagaimana Amr bin Al-Jamuh membaktikan hartanya di jalan Allah, ia
juga ingin mengorbankan jiwa dan hidupnya. Tetapi, bagaimana caranya? Kakinya
yang pincang membuatnya tidak layak untuk ikut dalam peperangan. Ia mempunyai
empat orang putra, semuanya beragama Islam dan semuanya ksatria bagaikan Singa,
dan ikut bersama Nabi dalam setiap peperangan, tabah dalam menunaikan kewajiban
jihad.
Amr telah berupaya untuk ikut bergabung dalam Perang Badar. Tetapi,
putra-putranya memohon kepada Nabi agar ia mengurungkan maksudnya dengan
kesadaran sendiri, atau bila terpaksa dengan larangan dari Nabi meski ia harus
kecewa. Nabi pun menyampaikan kepada Amr bahwa Islam membebaskan dirinya dari kewajiban
perang, dengan alasan ketidakmampuan disebabkan cacat kakinya yang berat itu.
Tetapi, ia tetap mendesak dan minta diizinkan, hingga Rasulullah terpaksa mengeluarkan
perintah agar ia tetap tinggal di Madinah.
Sekarang, tibalah saatnya Perang Uhud. Amr pergi menemui Nabi dan
memohon kepada beliau agar diizinkan bergabung. Ia berkata, “Wahai
Rasulullah, putra-putraku hendak menghalangiku pergi bertempur bersamamu. Demi
Allah, aku sangat berharap dengan kepincanganku ini dapat merebut surga.”
Karena Amr terus mendesak agar diizinkan, akhirnya Nabi memberikan izin
kepadanya untuk bergabung dengan pasukan. Amr mengambil senjatanya, dan dengan
hati yang diliputi oleh perasaan puas dan gembira, ia berangkat ke medan
Perang. Ia berdoa kepada Allah dengan suara yang penuh ketundukan, “Ya
Allah, karuniakanlah kesyahidan kepadaku dan janganlah Engkau kembalikan diriku
kepada keluargaku.”
Kedua pasukan bertemu pada hari Uhud tersebut. Amr bin Al-Jamuh bersama
keempat orang putranya maju ke depan menebaskan pedangnya ke kepala pasukan
kesyirikan dan kegelapan.
Di tengah-tengah pertarungan yang hebat itu, Amr bin Al-Jamuh melompat
dengan kakinya yang pincang, dan sekali lompat pedangnya menebas satu kepala
dari kepala-kepala penyembah berhala.ia terus melepaskan pukulan-pukulan
pedangnya ke kiri ke kanan dengan tangan kanannya, sambil menengok ke
sekelilingnya, seolah-olah mengharapkan kedatangan malaikat secepatnya, yang
akan menemani dan mengawalnya masuk surga.
Itu benar karena ia telah memohon kepada Allah agar dikaruniai
kesyahidan dan ia yakin bahwa Allah pasti akan mengabulkannya. Ia sangat
mendambakan kakinya yang pincang itu berada di dalam surga, agar ahli surga
nanti mengetahui bahwa Muhammad Rasulullah itu tahu bagaimana caranya memilih
shahabat dan bagaimana pula mendidik dan menempa manusia.
Saat yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang. Sebuah pukulan pedang
yang menjadi aba-aba bahwa saat menjadi pengantin telah tiba; pengantin
kesyahidan yang mulia di kebun-kebun yang abadi dan di surga Firdaus karunia
Dzat Yang Maha Pengasih. Ketika kaum Muslimin sedang melakukan proses pemakaman
para syuhada mereka, Rasulullah mengeluarkan perintah yang telah kita dengar
sebelumnya, “Perhatikan, Kuburkanlah Abdullah bin
Amr bin Haram dan Amr bin Al-Jamuh di satu liang karena mereka berdua saling
mencintai dan saling menyayangi di dunia.”
Kedua shahabat yang saling menyayangi dan gugur syahid dalam satu
peperangan itu dikuburkan dalam satu liang kubur, dalam pangkuan tanah yang
menyambut jasad mereka yang suci, setelah menyaksikan kepahlawanan mereka yang
luar biasa.
Empat puluh enam tahun setelah pemakaman mereka berdua itu, terjadilah
banjir besar yang melanda dan menggenangi tanah perkuburan, disebabkan oleh
galian mata air yang dialirkan oleh Mu’awiyah melalui tempat itu. Kaum Muslimin
pun segera memindahkan kerangka mereka , “Jasad mereka
terasa lembut dan ujung-ujung anggota tubuh mereka juga tidak kaku.”
Ketika itu, Jabir bin Abdullah masih hidup. Ia bersama keluarganya pergi
ke sana untuk memindahkan kerangka ayahnya, Abdullah bin Amr bin Haram dan
kerangka suami bibinya, Amr bin Al-Jamuh. Mereka juga mendapati mereka di dalam
kubur seolah-olah sedang tidur nyenyak. Tubuh mereka tidak sedikit pun dimakan
oleh tanah, dan dari kedua bibir masing-masing belum hilang senyuman manis
pertanda kerelaan dan kebanggaan yang telah terlukis sejak mereka dipanggil
untuk menemui Allah dulu.
Apakah kalian merasa heran? Tidak, janganlah kalian merasa heran karena
roh agung orang-orang besar yang suci dan bertakwa, yang mampu mengendalikan
arah tujuan hidupnya, membuat tubuh-tubuh kasar yang menjadi tempat kediamannya
memeliki kekebalan yang dapat mencegah semua faktor penguraian dan pengaruh
tanah.
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
0 komentar:
Posting Komentar