بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dia memiliki bakat luar biasa dalam
kemampuan dan kekuatan ingatan. Kemampuannya untuk menyimak dan menghafal apa
yang didengarnya dengan baik. Ia cukup mendengar sekali saja lalu manguasai isinya, dan tersimpan dalam
ingatan. Setelah itu, ia hampir tidak
pernah lupa satu kata atau huruf pun
dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia bertambah dan waktu terus
berjalan. Karena itulah, ia telah mendedikasikan hidupnya untuk lebih banyak
mendampingi Rasulullah, sehingga merupakan shahabat terbanyak yang hafal setiap
perkataan Rasulullah (hadits), di samping paling banyak meriwayatkannya.
Ketika datang masa pemalsuan hadits yang dengan
sengaja mereka-reka hadits palsu atas nama Rasulullah, mereka memperalat nama
Abu Hurairah dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dengan mengeksploitasi
reputasi Abu Hurairah yang luas itu dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah.
Karena itu, riwayat dari Abu Hurairah terkesan meragukan dan menimbulkan tanda
Tanya.
Untungnya ada usaha keras dan ketekunan
yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah dihabiskan oleh tokoh-tokoh
utama seperti para ulama hadits. Mereka telah membaktikan hidup mereka untuk
meneliti hadits-hadits Nabi dan menyingkirkan setiap kepalsuan dan tambahan
yang dimasukkan ke dalamnya. Dengan demikian, Abu Hurairah selamat dari gurita
kebohongan dan rekayasa yang sengaja hendak diselundupkan oleh kaum perusak ke
dalam Islam, dengan mengambinghitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan
kejahatan mereka kepadanya.
Pada zaman kita ini, ketika kita
mendengarkan penasihat agama, penceramah ata khatib Jumat mengucapkan kalimat “Dari
Abu Hurairah, ia berkata, ‘Rasulullah bersabda’” penulis katakan ketika anda mendengarkan nama
ini dalam rangkaian kata tersebut, dan ketika anda banyak menjumpainya, yang
banyak sekali dalam kitab-kitab hadits, sirah, fikih, serta kitab-kitab agama
pada umumnya, ketahuilah sekarang anda sedang berjumpa dengan pribadi yang
gemar bergaul dengan Rasulullah dan mendengarkan sabda beliau. Karena itulah,
pembendaharaan yang menakjubkan dalam hal hadits dan pengarahan-pengarahan
penuh hikmah yang dihafalkannya dari Nabi jarang ada bandingannya.
Abu Hurairah dengan bakat dan
pembendaharaan hadits yang dimilikinya itu benar-benar menjadi sosok shahabat
yang paling mampu membawa anda ke hari-hari pada masa kehidupan Rasulullah
beserta para shahabatnya. Itu selama anda beriman teguh dan berjiwa siaga,
untuk mengetahui berbegai ufuk yang membuktikan berbagai kehebatan Muhammad
beserta para shahabatnya dan memberikan makna kepada kehidupan ini dan
memimpinnya ke arah kesadaran dan
pikiran sehat. Bila halaman-halaman yang anda hadapi ini telah menggerakkan
kerinduan anda untuk mengetahui lebih dalam tentang Abu Hurairah dan
mendengarkan beritanya, sekarang anda mendapatkan apa yang anda inginkan itu.
Abu Hurairah ialah salah seorang yang
menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang
diciptakannya. Dengan revolusi Islam itu, orang yang semula berupa buruh
menjadi majikan; seorang yang terlunta-lunta di tengah-tengah lautan manusia
manjadi iman dan panutan; dan seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang
disusun menjadi orang yang beriman kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha
Perkasa.
Inilah dia sekarang bercerita dan
mengatakan, “Aku dibesarkan dalam keadaan yatim,
dan berhijrah dalam keadaan miskin. Aku menerima upah sebagai pembantu kepada
Bushrah binti Ghazwan untuk mengisi perutku. Akulah yang melayani keluarga itu
bila merekasedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya bila sedang
bepergian. Sekarang, inilah aku. Allah telah menikahkanku dengan putrid
Bushrah.” Segala puji bagi
llah yang telah menjadikan agama ini tiang penegak dan menjadikan Abu Hurairah
sebagai panutan umat.
Abu Hurairah datang dan menjumpai Nabi
pada tahun 7 H ketika beliau berada di Khaibar. Ia memeluk Islam karena
dorongan kecintaan dan kerinduan. Sejak ia bertemu dengan Nabi dan berbaiat
kepada beliau untuk masuk Islam, ia bisa dikatakan tidak pernah berpisah dari
beliau kecuali pada saat tidur saja. Kejadian itu berjalan selama masa empat
tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah, sejak ia memeluk Islam sampai nabi
perbi ke Rahmatullah.
Kita katakan, waktu yang hanya empat tahun
itu tidak ubahnya bagai usia manusia seutuhnya. Empat tahun itu merupakan waktu
yang cukup panjang lebar, penuh dengan segala perkataan, perbuatan, dan
pendengaran yang baik. Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat
kesempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan penting
dalam berbakti untuk agama Allah.
Pahlawan perang di kalangan shahabat itu
tidak sedikit jumlahnya. Ahli fikih, juru dakwah, dan para guru juga tidak
sedikit. Tetapi, lingkungan dan masyarakat memerlukan tulisan dan penulis. Pada
masa itu kehidupan manusia pada umumnya, bukan hanya sebatas pada bangsa Arab
saja, tidak peduli terhadap urusan tulis-menulis. Keahlian yang satu ini pada
waktu itu belum merupakan bukti kemajuan di masyarakat manapun. Bahkan, Eropa
sendiri juga demikian keadaannya sejak kurun waktu yang belum lama ini.
Kebanyakan dari raja-rajanya, tidak terkecuali Charlemagne atau karel yang
agung sebagai tokoh utamanya, adalah orang-orang buta huruf yang tidak bisa
baca tulis, padahal menurut ukuran masa itu mereka memiliki kecerdasan dan
kemampuan besar.
Kita kembali pada pembicaraan semula untuk
melihat bagaimana proses Abu Hurairah dengan fitrahnya dapat menyelami
kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan terhadap
orang-orang yang mampu memelihara peninggalan dan ajaran-ajarannya. Pada waktu
itu di antara para shahabat memang sebagian mampu menulis, tetapi jumlah mereka
sedikit sekali, belum lagi dari jumlah mereka yang sedikit ini sebagian tidak
mempunyai kesempatan untuk mencatat hadits-hadits yang diucapkan oleh
Rasulullah.
Abu Hurairah sendiri juga bukan seorang
penulis, melainkan seorang ahli hafal yang mahir. Di samping itu, ia memiliki
kesempatan atau banyak waktu luang baginya, karena ia tidak punya tanah yang
akan digarap maupun perniagaan yang akan diurus. Ia pun menyadari bahwa dirinya
termasuk orang yang masuk Islam belakangan. Karena itu, ia bertekad untuk
mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti Rasulullah terus-menerus dan
senantiasa menyertai majelisnya.
Kemudian, ia menyadari bahwa bakat yang
dikaruniakan oleh Allah kepada dirinya adalah daya ingatannya yang luas dan
kuat, dan bakat itu semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan doa
Rasulullah, agar pemilik bakat ini diberkahi oleh Allah. Bila demikian,
bukanlah wajar bila Abu Hurairah menjadi salah seorang yang memelihara warisan
umat ini dan mewariskannya kepada generasi-generasi selanjutnya? Tetu saja, dan
peran itulah yang disiapkan oleh bakatnya, dan ia telah melakukannya dengan
sebaik-baiknya.
Sekali lagi, Abu Hurairah bukan tergolong
dalam barisan penulis, melainkan sebagaimana telah penulis sebutkan sebelumnya,
seorang yang terampil menghafa dan kuat ingatan. Karena ia tidak punya tanah
yang akan ditanami atau perniagaan yang akan menyibukkannya, ia tidak berpisah
dengan Rasulullah, baik saat sedang perjalanan maupun saat menetap.
Begitulah, ia membaktikan diri dan
ketajaman daya ingatnya untuk menghafal hadits dan wejangan Rasulullah. Ketika
Rasulullah teelah pulang ke Ar-Rafi Al-A’la, Abu Hurairah terus-menerus
menyampaikan hadits, yang menyebabkan sebagian shahabatnya merasa heran sambil
bertanya-tanya di dalam hati, dari mana datangnya hadits-hadits ini dan kapan
ia mendengar serta menyimpannya dalam ingatan.
Abu Hurairah telah memberikan penjelasan
untuk menghilangkan kecurigaan ini, dan membela diri dari keragu-raguan yang
menjangkiti sebagian shahabatnya, dengan ungkapan, “Kalian telah
mengatakan bahwa Abu Hurairah terlalu banyak mengeluarkan hadits dari Nabi dan
kalian juga menyatakan bahwa orang-orang muhajirin lebih dahulu daripadanya
masuk Islam tidak menceritakan hadits-hadits itu.
Ketahuilah, bahwa shahabat-shahabatku berasal dari kalangan muhajirin
itu, sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedangkan
shahabat-shahabatku dari kalangan Anshar sibuk dengan tanah pertanian mereka.
Adapun aku, aku adalah orang miskin yang paling banyak menyertai majelis
Rasulullah. Aku hadir ketika mereka yang absen, dan aku selalu ingat ketika
mereka lupa.
Nabi bersabda kepada kami pada suatu hari, ‘Siapa yang membentangkan
sorbannya hingga selesai pembicaraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya, ia
tidak pernah sedikit pun yang pernah didengarnya dari diriku.’ Maka aku
membentangkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian aku meraih kain
itu ke diriku.
Demi Allah, aku tidak pernah lupa sedikit pun apa yang pernah kudengar
dari beliau. Demi Allah, kalau bukan karena satu ayat dalam kitab Allah, aku
tidak akan menceritakan satu hadits pun selamanya. Ayat itu ialah:
إِنَّ الَّذِينَ
يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا
بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ
وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah
Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah
Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah
dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati,
QS:Al-Baqarah | Ayat: 159”
QS:Al-Baqarah | Ayat: 159”
Begitulah, Abu Hurairah membocorkan
rahasia kenapa ia menjadi satu-satunya shahabat yang paling banyak mengeluarkan
riwayat dari Rasulullah. Pertama, karena ia memiliki waktu luang lebih banyak
untuk menyertai Nabi daripada para shahabat lainnya. Kedua, karena ia memiliki
daya ingat yang kuat, dan dimintakan berkah oleh Rasulullah, sehingga
ingatannya semakin kuat. Ketiga, ia menceritakannya bukan karena ia gemar
bercerita, melainkan karena keyakinan bahwa menyebarluaskan hadits-hadits
tersebut merupakan tanggung jawabnya terhadap agama dan hidupnya. Kalau ia
tidak melakukannya, berarti ia menyembunyikan kebaikan dan kebenaran, dan
termasuk orang yang lalai, yang tentu akan menerima hukuman.
Karena alasan itulah, ia harus
memberitakan dan tidak peduli terhadap siapa pun yang menghalangi atau
melarangnya, hingga suatu hari Amirul Mukminin Umar berkata kepadanya, “Hendaklah
kamu hentikan menyampaikan berita dari Rasulullah! Bila tidak, aku akan
mengembalikanmu ke tanah Daus.”
Namun, larangan dari Amirul Mukminin
tersebut bukan merupakan tuduhan bagi Abu Hurairah, melainkan sebagai salah
satu sikap untuk mendukung suksesnya pemikiran yang dibangun dan
disosialisasikan oleh Umar pada waktu itu; yaitu agar kaum Muslimin pada waktu
itu tidak membaca dan menghafalkan yang lain selain Al-Qur’an, sampai melakat
dan mantap dalam hati sanubari dan pikiran.
Al-Qur’an adalah kitab Allah,
undang-undang Islam, dan kamus agama ini. Banyaknya hadits dari Rasulullah,
terutama pada tahun-tahun menyusul wafatnya Nabi, dan Al-Qur’an pun sedang
dalam masa penyusunan pada waktu itu, dapat menyebabkan kesimpangsiuran dan
campur baur yang tidak berguna dan tidak perlu terjadi. Karena alasan itulah,
Umar berpesan, “Sibukkanlah diri kalian dengan
Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah kalam Allah.” Umar juga mengatakan, “Kurangilah
meriwayatkan dari Rasulullah, kecuali tentang sesuatu yang beliau lakukan.”
Ketika Umar mengutus Abu Musa Al-Asy’ari
ke Iraq, ia berpesan kepadanya, “Engkau akan mendatangi suatu kaum yang
di dalam masjid mereka sibuk membaca Al-Qur’an hingga seperti suara lebah, maka
biarkanlah seperti itu dan jangan menyibukkan mereka dengan hadits, dan aku
menjadi pendukungmu dalam hal ini.”
Al-Qur’an sudah dihimpun dengan jalan yang
sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dimasuki oleh sesuatu yang
bukan bagiannya. Adapun hadits, Umar tidak dapat menjamin bebas dari pemalsuan
atau perubahan atau dipakai sebagai alat untuk mengada-ada atas nama Rasulullah
dan merugikan agama Islam.
Abu Hurairah menghargai pandangan Umar
ini, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanah. Ia
tidak ingin menyembunyikan satu pun hadits dan ilmu, selama diyakininya bahwa
menyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan. Karena itulah, setiap ada
kesempatan untuk menumpahkan sisi dadanya terkait hadits yang pernah didengar
dan ditangkapnya, ia memanfaatkan waktu itu untuk menceritakan dan mengatakan
kepada orang lain.
Hanya saja, ada persoalan lain yang
merisaukan dan menimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah karena seringnya ia
bercerita dan banyak meriwayatkan hadits. Persoalan itu ialah pada waktu itu
juga muncul tukang hadits lain yang meriwayatkan dari Rasulullah. Ia
memperbanyak dan berlebih-lebihan, sehingga para shahabat merasa tidak tenang
terhadap sebagian besar dari hadits-hadits. Orang itu adalah Ka’ab Al-Ahbar,
yang tak lain adalah seorang Yahudi yang masuk Islam.
Suatu hari, Marwan bin Hakam bermaksud
menguji Abu Hurairah dalam hafalan. Ia pun memanggil Abu Hurairah dan mengajak
duduk bersamanya, lalu meminta kepadanya agar mengabarkan hadits-hadits dari
Rasulullah. Pada saat yang sama, ia menyuruh penulisnya menuliskan apa yang
diceritakan oleh Abu Hurairah dari balik dinding. Satu tahun kemudian, Marwan
kembali memanggil Abu Hurairah dan memintanya agar membacakan lagi
hadits-hadits yang pada tahun sebelumnya telah ditulis oleh sekretarisnya.
Ternyata, tidak ada yang terlupakan oleh Abu Hurairah walau hanya sepatah kata
pun.
Abu Hurairah pernah berkata mengenai
dirinya, “Tidak ada seorang pun dari shahabat Rasulullah
yang lebih banyak menghafal hadits selain diriku, kecuali Abdullah bin Amr bin
Al-Ash, karena ia pandai menuliskannya, sedangkan aku tidak.”
Imam Syafi’I mengemukakan pendapatnya tentang
Abu Hurairah, “Ia seorang yang paling banyak hafal di
antara seluruh perawi hadits semasanya.”
Al-Bukhari menyatakan, “Diriwayatkan
dari Abu Hurairah tidak ubahnya bagai suatu perpustakaan besar yang ditakdirkan
kelestarian dan keabadiannya.”
Abu
Hurairah termasuk orang yang ahli ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah,
yang selalu menunaikan shalat malam secara bergiliran bersama istri dan
anak-anaknya. Ia sendiri shalat malam selama sepertiga malam, istrinya
sepertiga malam, dan anaknya juga sepertiga malam. Dengan demikian, tidak ada
waktu malam yang terlewati kecuali ada ibadah, zikir, dan shalat di rumah Abu
Hurairah.
Karena keinginannya memusatkan
perhatiannya untuk menyertai Rasulullah, ia pernah tersiksa oleh lapar yang
tidak pernah dirasakan oleh orang lain. Ia pernah menceritakan kepada kita
bagaimana rasa lapar menggigit perutnya, sehingga ia mengikatkan batu dengan
sorbannya ke perut dan menekankan hatinya dengan kedua tangan, lalu terjatuh di
masjid sambil menggeliat kesakitan, hingga sebagian shahabatnya menyangkanya
sedang terserang penyakit epilepsy, padahal sama sekali tidak.
Sejak Abu Hurairah menganut Islam, tidak
ada persoalan hiduo yang memberatkan dan menekan perasaannya, selain satu
masalah yang hampir menyebabkannya tidak dapat memejamkan mata. Masalah itu
ialah mengenai ibunya, karena waktu itu ibunya menolak untuk masuk Islam.
Ibunya bukan saja menolak untuk masuk Islam, bahkan ia menyakiti perasaannya
dengan menjelekkan Rasulullah di depannya.
Suatu hari, ibunya kembali dengan
mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati Abu Hurairah tentang Rasulullah,
hingga ia tidak dapat menahan tangisnya oleh kesedihan, lalu ia pergi ke Masjid
Rasulullah. Marilah kita dengarkan ia menceritakan lanjutan kejadian itu:
“Aku menjumpai Rasulullah sambil
menangis, lalu aku berkata, ‘Ya Rasulullah, aku telah
mengajak ibuku untuk masuk Islam namun ia menolak ajakanku itu. Hari ini pun
aku berusaha mendekatinya agar masuk Islam. Namun, ia justru mengeluarkan
kata-kata yang tidak kusukai tentang dirimu. Karena itu, doakanlah kepada Allah
agar memberikan petunjuk kepada ibuku untuk masuk Islam.’
Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah
petunjuk kepada ibu Abu Hurairah.’
Aku segera berlari menjumpai ibuku untuk menyampaikan kabar gembira
tentang doa Rasulullah itu. Ketika sampai di depan pintu, ternyata pintu itu
terkunci. Aku mendengar bunyi gemericik air dari luar, dan ibuku memanggilku, ‘Wahai Abu Hurairah, tunggulah di tempatmu!’
Ibu keluar dengan memakai baju gamisnya, dan sambil merapikan
kerudungnya, ia mengucapkan, ‘Aku bersaksi bahwa tiada
tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.’
Aku pun segera berlari menemui Rasulullah sambil menangis karena
gembira, sebagaimana dahulu aku menangis karena berduka. Aku berkata kepada
beliau, ‘Aku menyampaikan kabar gembira, wahai
Rasulullah. Bahwa Allah telah mengabulkan doamu. Allah telah memberikan
petunjuk kepada ibuku untuk masuk Islam.’
Kemudian aku berkata, ‘Wahai Rasulullah,
berdoalah kepada Allah, agar aku dan ibuku dikasihi oleh orang-orang beriman,
baik lelaki maupun perempuan.’ Maka Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini beserta ibunya dikasihi
oleh setiap orang beriman lelaki dan perempuan’.”
Abu Hurairah hidup sebagai seorang ahli
ibadah dan mujahid. Ia tidak pernah ketinggalan dalam perang maupun amal
ketaatan. Pada masa Umar bin Al-Khatthab, ia diangkat sebagai gubernur di
daerah Bahrain. Seperti yang telah kita ketahui, Umar sangat keras dan teliti
terhadap pejabat-pejabat yang diangkatnya. Apabila ia mengangkat seseorang dan
pada waktu itu ia mempunyai dua pasang pakaian. Ketika meninggalkan jabatannya
nanti orang itu pun seharusnya hanya mempunyai dua pasang pakaian juga. Dan
bahkan lebih utama bila ia hanya memiliki satu pasang saja.
Apabila waktu meninggalkan jabatan itu
terdapat tanda-tanda kekayaan, ia tidak akan luput dari interogasi Umar,
sekalipun kekayaan itu berasal dari jalan halal yang diperbolehkan dalam
syariat. Ini benar-benar suatu dunia lain yang diisi oleh Umar dengan hal-hal
luar biasa dan mengagumkan.
Ternyata, ketika Abu Hurairah memangku
jabatan sebagai seorang gubernur
Bahrain, ia menyimpan harta berasal dari sumber yang halal. Hal ini diketahui
oleh Umar, sehingga ia pun dipanggil agar datang ke Madinah. Mari kita
dengarkan Abu Hurairah memaparkan Tanya jawab yang berlangsung antara dirinya
dan Amirul Mukminin Umar:
“Wahai musuh
Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah?”
“Aku bukan
musuh Allah dan bukan pula musuh kitab-Nya. Aku hanya menjadi musuh orang yang
memusuhi keduanya dan aku bukanlah orang yang mencuri harta Allah.”
“Lalu dari
mana engkau mengumpulkan harta sebanyak sepuluh ribu itu?”
“Kuda
punyaku beranak-pinak dan pemberian orang berdatangan.”
“Kembalikan
harta itu ke Baitul Mal!”
Abu Hurairah akhirnya menyerahkan harta
itu kepada Umar, kemudian mengangkat tangannya ke arah langit sambil berdoa, “Ya
Allah, ampunilah Amirul Mukminin.”
Tidak lama setelah itu, Umar memanggil Abu
Hurairah kembali dan menawarkan jabatan kepadanya di wilayah baru. Tetapi, ia
menolak dan meminta maaf karena tidak dapat menerimanya.
Umar bertanya kepadanya, “Apa
sebabnya engkau menolak?”
Abu Hurairah menjawab, “Agar
kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku dirampas, dan punggungku dipukul.”
Kemudian ia melanjutkan, “aku
takut bila nanti aku memutuskan tanpa ilmu dan berbicara tanpa belas kasih.”
Suatu hari, kerinduan Abu Hurairah untuk
bertemu dengan Allah semakin kuat. Saat orang-orang yang mengunjungi datang dan
mendoakannya agar cepat sembuh dari penyakitnya, ia sendiri justru memohon
kepada Allah dengan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku sangat
ingin bertemu dengan-Mu, dan semoga engkau pun demikian.”
Akhirnya pada tahun 59 H Abu Hurairah
berpulang ke rahmatullah dalam usia 78 tahun. Di sekeliling orang-orang saleh
penghuni perkuburan Baqi’, di tempat yang diberkahi itu jasadnya dibaringkan.
Pada saat orang-orang yang mengiringkan jenazahnya kembali dari perkuburan,
mulut dan lidah mereka tiada hentinya membaca hadits yang disampaikan oleh Abu
Hurairah kepada mereka dari Rasulullah yang mulia.
Mungkin saja ada salah seorang di antara
mereka yang baru masuk Islam menoleh dan bertanya kepada temannya, “Mengapa
guru kita yang telah wafat itu diberi gelar Abu Hurairah (bapak kucing)?” Temannya yang telah mengetahui persoalan gelar
itu pasti akan menjawab, “Pada masa jahiliyyah namanya ialah
Abdu Syams, dan tatkala memeluk Islam, oleh Rasulullah diberi nama Abdurrahman.
Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seekor kucing, yang selalu
diberinya makan, digendong, dan diberi tempat. Kucing itu selalu menyertainya
seolah-olah bayangannya. Inilah sebabnya ia diberi gelar Bapak Kucing. Semoga
Allah ridha kepadanya dan ia pun ridha kepada Allah.”
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
0 komentar:
Posting Komentar