Minggu, 29 Desember 2013

Filled Under:

Al-Bara’ bin Malik (Allah dan Surga).

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

     Dia adalah salah seorang dari dua insan yang bersaudara karena Allah, dan telah mengikat janji dengan Rasulullah yang tumbuh dan berkembang bersama-sama. Ummu Sulaim, ibunya, membawanya menghadap Rasulullah, saat usianya pada waktu itu baru 10 tahun, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah anak Anas, anak yang akan menjadi pelayanmu. Karena itu, berdoalah kepada Allah untuk kebaikannya.

     Rasulullah mencium anak itu tepat di antara kedua matanya lalu mendoakan kebaikan untuknya. Doa agar dikaruniai usia panjang dan penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Dalam doa tersebut, Rasulullah mengucapkan, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, berkahilah ia, dan masukkanlah ia ke dalam surga.

     Anas hidup sampai usia 99 tahun dan dikaruniai anak dan cucu yang banyak, di samping rezeki dalam wujud kebun yang luas dan subur, yang dapat menghasilkan buah-buahan yang dipanen dua kali dalam setahun.

     Orang yang kedua dari dua bersaudara itu adalah Al-Bara’ bin Malik. Ia menjalani hidupnya dengan kepribadian yang agung dan berjiwa berani. Semboyan hidupnya adalah “Allah dan surga”. Barang siapa melihatnya saat ia berperang mempertahankan agama Allah, ia niscaya melihat ketakjuban di atas ketakjuban. Ketika Al-Bara’ berperang melawan orang-orang musyrik dengan pedangnya, ia bukanlah termasuk orang-orang yang mencari kemenangan, malainkan mencari kesyahidan sekalipun kemenangan pada waktu itu merupakan tujuan yang mulia. Puncak cita-citanya ialah gugur syahid dan memenuhi janjinya di medan pertempuran yang mulia di antara medan pertempuran Islam dan kebenaran. Untuk itulah, ia tidak pernah ketinggalan dalam setiap peperangan, baik bersama Rasulullah maupun tidak.

     Suatu hari, rekan-rekannya datang mengunjunginya saat ia sedang sakit. Dia membaca mimic wajah mereka semua, kemudian berkata, “Mungkin kalian akan mengkhawatirkan aku akan mati di atas kasurku ini. Tidak, demi Allah, Rabbku tidak akan menghalangiku untuk mati syahid.

     Allah benar-benar telah meluluskan harapannya. Ia memang tidak mati di atas tempat tidurnya, melainkan gugur syahid dalam salah satu pertempuran yang terdahsyat. Medan Perang Yamamah sepertinya memang diciptakan untuk kepahlawanan Al-Bara’. Pertempuran itu disiapkan untuk seorang pahlawan yang sampai-sampai Umar mewasiatkan agar ia jangan menjadi komando pasukan, disebabkan keberaniannya yang luar biasa, keperwiraan, dan keteguhan hatinya menghadang maut. Semua sifatnya itu akan menyebabkan kepemimpinannya dalam pasukan membahayakan anak buahnya dan dapat membawa kebinasaan.

     Al-Bara’ berdiri di medan Perang Yamamah ketika tentara Islam yang berada di bawah lomando Khalid bin Al-Walid bersiap-siap untuk menyerbu. Ia berdiri untuk menghadapi detik-detik yang ia rasakan berjalan lama sekali sebelum akhirnya panglimanya memerintahkan maju. Kedua matanya yang tajam bergerak-gerak dengan cepatnya menelusuri seluruh medan tempur, seolah-olah sedang mencari tempat bersemayam terbaik untuk seorang pahlawan. Hal itu wajar karena tidak ada di dunia ini yang menyibukkan dirinya selain tujuan yang satu ini.

     Korban di pihak kaum Musyrikin penyeru kezaliman dan kebatilan banyak yang berjatuhan akibat ketajaman pedang Al-Bara’ yang ampuh. Kemudian di akhir pertempuran, suatu pukulan pedang mengenai tubuhnya dari tangan seorang musyrik, yang menyebabkan tubuhnya jatuh ke tanah, sementara rohnya terbang menempuh jalannya ke tingkat yang tertinggi di singgasana para syuhada dan tempat kembali orang-orang yang diberkahi.

     Khalid menyerukan suara takbir, “Allahu Akbar”, maka seluruh barisan yang berlapis-lapis itu pun maju ke  arah sasarannya. Al-Bara’ sang perindu kematian pun menjadi bagian di antara mereka. Ia terus mengejar pengikut Musailamah Al-Kadzab dengan pedangnya, hingga mereka berjatuhan laksana daun kering di musim gugur.

     Tentara Musailamah bukanlah tentara yang lemah dan sedikit jumlahnya, bahkan merupakan barisan tentara murtad yang paling berbahaya. Kuantitas, amunisi, dan kenekatan prajuritnya merupakan bahaya di atas semua bahaya. Mereka mampu meladeni serangan kaum Muslimin dengan perlawanan yang mencapai puncak kekerasan. Para tokoh dan orator mereka meneriakkan kata-kata yang membangkitkan semangat dari atas pelana kuda mereka. Mereka juga mengingatkan janji Allah.

     Al-Bara’ bin Malik mempunyai suara indah dan keras. Ia dipanggil oleh panglima Khalid, “Wahai Bara’.

     Al-Bara’ pun menyerukan kata-kata yang penuh kaya makna dan kuat. Kalimat yang ia ucapkan ialah’ “Wahai penduduk, tidak ada lagi Madinah bagi kalian sekarang. Yang ada hanyalah Allah dan surga.

     Ucapan itu menunjukkan semangat orang yang mengucapkan dan menjelaskan kualitasnya. Benar, yang tinggal hanyalah Allah dan surga, karena di dalam suasana dan tempat seperti ini tidak sepantasnya ada pikiran-pikiran kepada yang lain walau Madinah, ibukota Negara Islam, tempat rumah tangga, istri, dan anak-anak mereka. Sekarang mereka tidak pantas berpikir ke sana. Sebab bila mereka sampai dikalahkan, tidak ada artinya Madinah lagi.

     Kata-kata Al-Bara’ ini meresap laksana…, laksana apa? Perumpamaan apa pun akan terasa tidak tepat karena tidak sepadan dengan pengaruh yang ditimbulkannya. Kalau begitu, kita katakan saja, kata-kata Al-Bara’ini telah meresap dan itu saja sudah cukup. Dalam waktu yang tidak lama, suasana pertempuran pun kembali kepada keadaannya semula.

     Kaum Muslimin maju sebagai pendahuluan bagi suatu kemenangan yang gemilang. Orang-orang musyrik tersungkur ke jurang kekalahan yang amat pahit. Pada saat itu Al-Bara’ bersama rekan-rekannya berjalan dengan bendera Muhammad hendak mencapai tujuan yang utama. Orang-orang musyrik mundur dan melarikan diri ke belakang. Mereka berkumpul dan berlindung di suatu perkebunan besar yang mereka ambil sebagai benteng pertahanan.

     Pertempuran menjadi reda dan semangat kaum Muslimin agak surut. Dan tampaknya, kondisi yang aman itu merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh pengikut dan tentara Musailamah agar kendali peperangan berbalik ke tangan mereka. Pada saat yang genting itu, Al-Bara’ naik ke bukit dan berteriak, “Wahai kaum Muslimin, bawalah aku dan lemparkan ke tengah-tengah mereka ke dalam kebun itu.

     Bukankah sudah penulis katakan sebelumnya kepada kalian bahwa ia bukan mencari kemenangan melainkan kesyahidan? Ia benar-benar membayangkan bahwa langkah ini adalah penutup yang terbaik bagi kehidupannya, dan bentuk yang terindah untuk kematiannya. Ketika ia dilemparkan ke dalam kebun itu nanti, ia segera membukakan pintu bagi kaum Muslimin, dan bersamaan dengan itu pedang-pedang orang musyrikin akan melukai dan mengoyak tubuhnya, tetapi di waktu itu pula pintu-pintu surga akan terbuka lebar memperlihatkan kemewahan dan kenikmatannya untuk menyambut pengantin baru yang mulia.

     Al-Bara’ rupanya tidak menunggu digotong dan dilemparkan oleh kaumnya. Ia sendiri memanjat dinding dan melemparkan dirinya ke dalam kebun dan langsung membukakan pintu yang selanjutnya langsung diserbu oleh tentara Islam. Hanya saja, mimpi Al-Bara’ belum menjadi kenyataan, karena ternyata tidak ada pedang kaum musyrikin yang sampai mencabut nyawanya, sehingga ia tidak berjumpa dengan kematian yang selama ini didambakan. Benar apa yang dikatakan oleh Abu Bakar, “Songsong dan carilah kematian, niscaya engkau akan mendapatkan kehidupan.

     Benar, bahwa tubuh pahlawan itu menderita lebih dari 80 tusukan pedang orang-orang musyrik, sehingga sebulan setelah perang itu berlalu, ia masih lupa lukanya belum sembuh dan Khalid sendiri ikut merawatnya pada waktu itu. Tetapi, semua yang menimpa dirinya ini belum lagi dapat mengantarkannya kepada apa yang dicita-citakannya.

     Namun, hal itu tidak menyebabkan Al-Bara’ berputus asa. Esok aka nada lagi pertempuran lain. Rasulullah pernah mengabarkan kepadanya bahwa ia memiliki doa yang dikabulkan oleh Allah. Dengan demikian yang harus dilakukannya adalah selalu berdoa kepada Rabbnya agar dikaruniai kesyahidan. Setelah itu, ia tidak perlu terburu-buru karena setiap ajal itu ada ketetapan waktunya.

     Sekarang Al-Bara’ telah sembuh dari luka-luka Perang Yamamah. Kini ia maju lagi bersama pasukan Islam yang pergi hendak menghalau semua kekuatan kezaliman ke tempat kematiannya. Kekuatan zalim itu berada di sana tempat dua kerajaan raksasa dan aniaya, yaitu Romawi dan Persia, yang dengan tentaranya yang ganas menduduki negeri Allah, memperbudak hamba-hamba-Nya, dan mengintip kelemahan pasukan Islam. Al-Bara’ memukulkan pedangnya dan di setiap tempat bekas pukulan itu berdiri dinding yang kokoh dalam bangunan dunia baru yang akan tumbuh di bawah bendera Islam, yang tumbuh dengan cepat bagai fajar yang terbit pada pagi hari.

     Dalam salah satu peperangan di Iraq, orang-orang Persia mempergunakan setiap cara yang rendah dan biadab yang dapat mereka lakukan. Mereka menggunakan pengait-pengait yang diikatkan ke ujung rantai yang dipanaskan dengan api, lalu melemparkan dari dalam benteng mereka, sehingga dapat menyambar kaum Muslimin dan mengaitnya secara tiba-tiba, sedangkan korban tidak dapat melepaskan diri.

     Al-Bara’ dan saudaranya yang agung, Anas bin Malik, mendapat tugas bersama sekelompok kaum Muslimin untuk merebut salah satu dari benteng-benteng itu. Tetapi, tiba-tiba salah satu pengait yang dilemparkan musuh jatuh dan menyangkut ke tubuh Anas, sedangkan ia tidak sanggup memegang rantai untuk melepaskan dirinya, karena masih panas dan menyala. Al-Bara’ menyaksikan peristiwa yang menyeramkan ini. Dengan cepat ia menuju saudaranya yang sedang ditarik ke atas oleh pengait dengan talinya yang panas menuju lantai dinding benteng. Dengan keberanian yang luar biasa ia memegang rantai itu dengan kedua tangannya, lalu menarik dan menyentakkannya dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya ia dapat melepaskan diri dari rantai itu, dan Anas selamat dari bahaya.

     Al-Bara’ dan orang-orang yang bersamanya, nelihat kedua telapak tangannya dan ternyata tidak ada lagi pada tempatnya. Dagingnya ternyata telah meleleh karena terbakar dan kini hanya tinggal kerangkanya yang memerah kecokelatan dan terbakar hangus. Sang pahlawan kembali menghabiskan cukup waktu yang lama untuk memulihkan luka bakarnya sampai benar-benar sembuh.

     Apakah belum juga datang masanya bagi sang perindu kematian itu untuk mencapai maksudnya? Sudah, sekarang sudah datang masanya. Inilah dia pertempuran Tustar yang sedang menjelang. Dan di sinilah tentara Islam berhadapan dengan bala tentara Persia, dan di sini juga Al-Bara’ dapat merayakan pestanya yang terbesar.

     Penduduk Ahwaz dan Persia telah bersekutu dalam barisan tentara yang sangat besar hendak menyerang kaum Muslimin. Amirul Mukminin Umar menuliskan surat kepada sa’ad bin Ab Waqash di Kufah agar mengirimkan pesukan ke Ahwaz. Ia juga menuliskan surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari di Bashrah agar mengirimkan pasukan ke Ahwaz, sambil berpesan dalam surat itu, “Angkatlah Suhail bin Adi sebagai komandan pasukan dan hendaklah ia didampingi oleh Al-Bara’ bin Malik.

     Pasukan yang datang dari Kufah bertemu dengan tentara yang datang dari Bashrah untuk menghadapi tentara Ahwaz dan Persia dalam sebuah pertempuran yang sangat berbahaya. Di kalangan tentara umat Islam terdapat dua orang bersaudara utama, yaitu Anas bin Malik dan Al-Bara’ bin Malik.

     Pertempuran dimulai dengan perang tanding satu lawan satu. Al-Bara’ sendiri menjatuhkan sampai seratus penantang dari Persia. Kemudian berkecamuklah perang yang membaur di antara kedua pasukan dan dari kedua belah pihak berjatuhan korban yang tidak sedikit.

     Sebagian shahabat mendekati Al-Bara’ saat perang sedang berlangsung. Mereka memanggilnya dengan seruan, “Wahai Bara’, apakah engkau masih ingat sabda Rasulullah tentang dirimu: banyak orang yang berambut kusut masai dan berdebu dan hanya memiliki dua pakaian lapuk hingga tidak diperhatikan orang sama sekali, namun seandainya ia memohon kutukan kepada Allah bagi mereka, pastilah akan diluluskannya. Dan diantara orang-orang itu ialah Al-bara’ bin Malik? Wahai Bara’, bersumpahlah kamu kepada Rabbmu, agar Dia mengalahkan musuh dan menolong kita.

     Al-Bara’ pun mengangkat kedua tangannya ke  arah langit dengan merendah diri lalu berdoa, “Ya Allah, berikanlah bumi mereka kepada kami. Ya Allah, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami atas mereka dan pertemukanlah aku hari ini dengan Nabi-Mu.

     Al-Bara’ mengarahkan pandangannya kepada saudaranya (Anas) yang berperang berdampingan dengannya dengan pandangan yang lama sekali seolah-olah hendak mengucapkan selamat tinggal. Kaum Muslimin menyerbu dengan keberanian yang tidak dikenal dunia kecuali dari mereka. Mereka akhirnya mendapatkan karunia kemenangan yang nyata.

     Di tengah-tengah para syuhada di medan pertempuran, di sanalah Al-Bara’ dengan wajahnya menampilkan senyuman yang manis seperti cahaya fajar. Tangan kanannya menggenggam segumpal tanah berlumuran darah yang suci. Musafir itu telah sampai ke kampungnya. Ia bersama temannya yang juga gugur syahid telah mencapai perjalanan hidup yang agung lagi mulia, dan mereka menerima panggilan:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran". Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan".
QS:Al-A'raf | Ayat: 43




▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

0 komentar:

Copyright @ 2014 Rotibayn.

Design Dan Modifikasi SEO by Pendalaman Tokoh | SEOblogaf