بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Umar berdiri sambil memegang tangan kanan
Abbas dengan tangan kanannya, dan mengangkatnya ke arah langit sembari berdoa,
“Ya Allah, sesungguhnya kami pernah memohonkan
hujan dengan perantara Nabi-Mu, pada masa beliau masih berada di antara kami.
Ya Allah, sekarang kami meminta hujan kepada-Mu dengan perantara paman Nabi-Mu,
maka turunkanlah hujan untuk kami.”
Saat kaum Muslimin belum meninggalkan
tempat mereka, tiba-tiba awan tebal datang dan hujan lebat pun turun
mendatangkan suka cita, menyiram bumi dan menyuburkan tanah. Para shahabat pun
menemi Abbas, memeluk dan menciumnya. Mereka ingin mendapatkan berkah dengan
penghormatan itu, sambil berkata, “Selamat kami ucapkan untukmu, wahai
penyedia air minum Dua Kota Suci.”
Siapakah dia penyedia air minum Dua Kota
Suci ini? Siapakah sejatinya orang yang dijadikan Umar sebagai perantara
baginya kepada Allah, padahal Umar sendiri merupakan sosok yang sudah tidak
asing lagi bagi kita soal ketakwaan, lebih dulunya ia masuk Islam, serta
kedudukannya di sisi Allah, Rasul-Nya, serta di sisi orang-orang beriman? Ialah
Abbas, paman Rasulullah. Rasulullah memuliakannya sebagaimana ia pun
mencintainya. Beliau memujinya dan menyebut-nyebut kebaikan perilakunya dengan
ungkapan, “Inilah orang tuaku yang masih ada. Inilah dia
Abbas bin Abdul Muthalib, orang Quraish yang paling pemurah dan sangat ramah.”
Sebagaimana Hamzah adalah paman Nabi yang
seusia dengan beliau, Abbas pun merupakan paman sekaligus teman sebaya beliau.
Semoga Allah meridhai meeka berdua. Perbedaan usia antara keduanya hanya
terpaut dua atau tiga tahun, di mana Abbas lebih tua dari Rasulullah.pun
demikian dengan beliau dan Abbas, keduanya merupakan dua orang anak yang sebaya
dan dua orang pemuda dari satu angkatan. Ikatan kekeluargaan bukanlah
satu-satunya alasan yang menyebabkan keakraban dan terjalin persahabatan yang
untum antara keduanya, karena persamaan usia tidak kurang berpengaruhnya.
Hal lain yang menyebabkan Nabi selalu
memprioritaskan Abbas di tempat pertama ialah karena akhlak dan budi
pekertinya. Abbas adalah orang yang pemurah dan sangat dermawan, seolah-olah
dialah paman atau bapak kedermawanan. Ia selalu menjaga dan menyambung tali
silaturahmi dan kekeluargaan, dan untuk itu tidak segan-segan mengeluarkan
tenaga ataupun harta. Di samping itu semua, ia juga seorang yang cerdas, bahkan
sampai ke tingkat jenius, dan dengan kecedasannya ini yang didukung oleh
kedudukannya yang tinggi di kalangan Quraish, ia sanggup banyak menyingkirkan
banyak gangguan dan kejahatan dari Rasulullah ketika beliau menampakkan
dakwahnya secara terang-terangan.
Dalam pembicaraan kita sebelumnya tentang
Hamzah, kita mengenal Hamzah selalu memusuhi kezaliman orang Quraish dan
kebiadaban Abu Jahal dengan pedangnya yang ampuh. Adapun Abbas, ia memusuhinya
dengan kecerdasan dan kecerdikan yang emberi manfaat bagi Islam sebagaimana
halnya senjata pedang yang bermanfaat dalam membela dan mempertahankan haknya.
Abbas tidak mengumumkan keislamannya
kecuali pada tahun pembebasan Mekkah, yang menyebabkan ahli sejarah memasukkannya
ke dalam kelompok orang-orang yang belakangan masuk Islam. Namun,
riwayat-riwayat lain dalam sejarah menyatakan bahwa ia termasuk orang-orang
Islam angkatan pertama, hanya saja menyembunyikan keislamannya.
Abu Rafi’ yang merupakan pelayan
Rasulullah menuturkan, “Saat masih kecil aku merupakan pelayan
Abbas bin Abdul Muthalib, dan waktu itu Islam telah masuk di kalangan kami,
ahli bait. Abbas, Ummul Fadhl, dan aku memeluk Islam. Namun, Abbas
menyembunyikan keislamannya waktu itu.”
Inilah riwayat Abu Rafi’ yang menceritakan keadaan Abbas dan masuk Islamnya
sebelum Perang Badar. Bila demikian, waktu itu Abbas telah menganut Islam.
Keberadaan Abbas di Mekkah pascahijrah
Nabi dan shahabat-shahabatnya merupakan suatu langkah perjuangan yang sudah
direncanakan dengan matang hingga membuahkan hasil yang sebaik-baiknya.
Orang-orang Quraish tidak menyembunyikan keraguan mereka tentang hati kecil
Abbas. Hanya saja, mereka tidak mempunyai alasan untuk memusuhinya, apalagi
secara lahir tingkah laku dan agamanya tidaklah bertentangan dengan kemauan
mereka.
Nah, ketika waktu Perang Badar telah tiba,
terbuka bagi orang-orang Quraish untuk menguji rahasia hati dan pendirian Abbas
yang sesungguhnya. Namun, Abbas lebih cerdik dan tidak lengah terhadap
gerak-gerik dan tipu muslihat busuk yang direncanakan Quraish dalam
melampiaskan kejengkelannya dalam mengatur maker jahat mereka. Sekalipun Abbas
telah berhasil menyampaikan keadaan dan gerak-gerik orang-orang Quraish kepada
Nabi di Madinah, orang Quraish pun berhasil memaksanya untuk bergabung dalam
pertempurang yang tidak disukai dan dikehendakinya. Namun, keberhasilan Quraish
itu adalah keberhasilan sementara, karena ternyata berbalik membawa kehancuran
dan kerugian mereka.
Kedua golongan itu bertemu di medan Perang
Badar. Pedang-pedang pun beradu dalam kecamuk perang yang menakutkan, yang akan
menentukan hidup mati dan kesudahan kedua belah pihak.
Rasulullah berseru di tengah-tengah para
shahabatnya, “Beberapa orang dari Bani Hasyim dan
yang bukan dari Bani Hasyim keluar karena dipaksa pergi berperang, padahalnya
mereka sebenarnya tidak ingin memerangi kita. Karena itu, siapa di antara
kalian yang menemukannya, janganlah ia membunuhnya. Siapa yang bertemu dengan
Abu Al-Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad, janganlah ia membunuhnya.
Siapa yang bertemu dengan Abbas bin Abdul Muthalib, janganlah ia membunuhnya
karena ia dipaksa untuk ikut berperang.”
Dengan perintah tersebut, tidak berarti
Rasulullah hendak memberikan keistimewaan kepada pamannya, Abbas, karena tidak
pada tempatnya dan bukan pula pada waktunya memberikan keistimewaan itu. Beliau
tentu tidak akan rela melihat para shahabatnya berjatuhan dalam pertempuran
menegakkan kebenaran, dan di sisi lain beliau membela pamannya dengan
memberinya hak-hak istimewa saat pertempuran sedang berlangsung, seandainya
beliau tahu bahwa pamannya itu orang musyrik.
Itu benar, Rasulullah dilarang oleh Allah
untuk memintakan ampun bagi pamannya Abu Thalib, padahal banyak sekali jasa dan
pengorbanan yang diberikan oleh Abu Thalib terhadap Nabi Muhammad dan Islam.
Tentu saja tidak logis dan masuk akal jika beliau mengtakan kepada orang-orang
yang bertempur di Perang Badar dan sanak saudara mereka dari golongan musyrik,
“Hindarilah oleh kalian dan janganlah membunuh
pamanku.”
Hal itu akan berbeda bila Rasulullah
mengetahui keadaan pamannya yang sebenarnya, dan juga mengetahui bahwa pamannya
itu menyembunyikan keislamannya dalam dadanya, mengetahui jasa-jasanya yang
tidak sedikit serta pengabdiannya yang tidak terlihat terhadap Islam, dan
terakhir mengetahui bahwa ia dipaksa ikut berperang dan mengalami tekanan,
dalam kondisi ini Nabi wajib melepaskan orang yang mengalami nasib seperti ini
dari bahaya, dan melindungi darahnya selama kemungkinan masih terbuka.
Bila Abu Al-Bakhtari—yang bukan sanak
keluarga Nabi—tidak diketahui menyembunyikan keislamannya,tidak pula membela
Islam secara diam-diam sebagaimana Abbas. Kelebihannya hanya ia tidak pernah
ikut-ikutan para pemuka Quraish dalam menyakiti dan menganiaya kaum Muslimin.
Ia tidak menyukai perlakuan mereka tersebit dan ikut berperang karena dipaksa
dan tertekan.
Bila Abu Al-Bakhtari dengan kondisinya seperti
itu telah berhasil mendapatkan syafaat Rasulullah untuk dilindungi darahnya
serta nyawanya, apakah tidak lebih pantas bila syafaat itu diberikan kepada
seorang Muslim yang terpaksa menyembunyikan keislamannya; orang yang membela
Islam dalam beberapa sikap yang dapat disaksikan, sedangkan yang lainnya hanya
secara diam-diam? Ya, ia lebih pantas. Sebenarnya Abbas adalah seorang Muslim
dan pembela itu. Mari kita kembali ke belakang sejenak untuk melihatnya.
Pada Baiat Aqabah II, ketika 73 lelaki dan
2 perempuan untusan Anshar datang ke Mekkah pada musim haji guna berbaiat
kepada Allah dan Rasul-Nya, dan untuk merundingkan Hijrah Nabi ke Madinah,
waktu itu Rasulullah menyampaikan berita kedatangan utusan dan baiat ini kepada
pamannya karena beliau sangat mempercayainya dan memerlukan buah pikirannya.
Ketika tiba waktu berkumpul yang dilakukan
secara sembunyi-sembunyi, Rasulullah keluar bersama pamannya, Abbas, ke tempat
orang-orang Anshar menunggu. Abbas ingin menyelidiki dan menguji kesetiaan orang-orang
tersebut terhadap Nabi. Untuk menceritakan hal ini, kita persilakan saja salah
seorang anggota utusan itu menyampaikannya langsung kepada kita kisah yang
didengar dan dilihatnya sendiri. Orang tersebut ialah Ka’ab bin Malik.
Ia menuturkan, “kami
telah duduk menanti kedatangan Rasulullah di jalan antara dua bukit, hingga
akhirnya beliau datang bersama Abbas bin Abdul Muthalib. Abbas mengawali
pembicaraan, ‘Wahai kaum Khazraj, anda sekalian telah mengetahui kedudukan
Muhammad di sisi kami. Kami telah membela Muhammad dari kejahatan kaum kami. Ia
sebenarnya mempunyai kedudukan mulia di tengah-tengah kaumnya dan kekuatan
negerinya, tetapi ia enggan menerima itu dan lebih memilih bergabung dan hidup
bersama kalian. Seandainya kalian benar-benar hendak menunaikan apa yang telah
kalian janjikan kepadanya dan kalian membelanya terhadap orang yang
memusuhinya, silakan kalian memikul tanggung jawab tersebut. Tetapi, seandainya
kalian bermaksud menyerahkan dan mengecewakannya sesudah ia bergabung dengan kalian,
lebih baik kalian meninggalkannya sekarang’.”
Abbas mengucapkan kata-katanya yang tajam
dan tegas itu dengan sorotan matanya seperti mata elang ke wajah orang-orang
Anshar. Ia menunggu jawaban dan tanggapan dari mereka secepatnya. Tidak cukup
di situ saja, kecerdasan Abbas merupakan kecerdasan praktis yang dapat
menjangkau hakikat dari sebuah materi dan menelisik setiap dimensi dengan
perspektif seorang penguji yang berpengalaman. Dan itu ia tunjukkan dengan
melontarkan pertanyaan yang cerdik, “Gambarkanlah kepadaku tentang
peperangan, bagaimana cara kalian memerangi musuh-musuh kalian.”
Berdasarkan kecerdasan dan pengalamannya
bersama orang-orang Quraish, Abbas dapat menyimpulkan bahwa peperangan
merupakan perkara yang tidak mustahil akan terjadi di antara Islam dan
kemusyrikan. Orang-orang Quraish tidak akan mundur dari agama, kedudukan, dan
keingkarannya. Sedangkan Islam yang merupakan agama yang benar itu tidak akan
mengalah terhadap yang bathil untuk mempertahankan hak-hak yang telah disyariatkan.
Apakah orang-orang Anshar yang merupakan
penduduk Madinah itu akan mampu bertahan dalam perang saat terjadi nanti? Pakah
mereka, dalam keahlian perang dapat menandingi orang-orang Quraish yang cekatan
dalam taktik dan muslihat perang? Karena itulah, Abbas mengemukakan pertanyaan
itu sebagai pancingan, “Gambarkanlah kepadaku tentang
peperangan, bagaimana cara kalian memerang musuh-musuh kalian.” Namun, orang-orang Anshar yang mendengarkan
perkataan Abbas ini, adalah lelaki yang kokoh laksana gunung.
Saat Abbas belum sampai pada akhir
pembicaraannya, terutama pada pertanyaan yang memacu darah itu, mereka sudah
mulai angkat bicara. Abdullah bin Amr bin Hiram menjawab pertanyaan tersebut, “Demi
Allah, kami adalah keluarga prajurit yang telah makan asam garamnya medan laga.
Kami mewarisi keahlian perang itu turun-temurun dari nenek moyang kami. Kami
adalah pemanah yang membinasakan, pelempar tombak yang memecahkan setiap
sasaran, dan kami berjalan dengan membawa pedang dan bertarung hingga kami gugur
lebih dulu atau musuh yang binasa.”
Abbas menjawab dengan wajah berseri-seri,
“Kalau begitu, kalian adalah ahli perang.
Apakah kalian juga memiliki baju besi?”
Mereka menjawab, “Ya,
kami mempunyai baju besi yang mencukupi.”
Kemudian terjadilah percakapan penting dan
menentukan antara Rasulullah dan orang-orang Anshar, percakapan yang insya Allah akan penulis haturan pada
halaman-halaman yang akan datang.
Itulah peran Abbas dalam Baiat Aqabah II.
Baginya sama saja, apakah ia telah masuk Islam waktu itu secara diam-diam, atau
masih dalam tahap berpikir, perannya jelas sangat penting dalam menetapkan
garis pemisah antara kaumnya yang akan tenggelam ke dalam kegelapan malam dan
sinar pagi yang akan terbit. Kejantanan dan kecerdasa Abbas terlihat jelas
dalam peristiwa itu.
Perang Hunain akan memperkuat bukti
keberanian dari orang yang kelihatannya pendiam dan lemah lembut ini.
Keberanian ketika kebutuhan menuntutnya dan situasi akan bergetar karenanya,
sedangkan pada saat-saat lainnya ia terpendam jauh dalam dada, terlindung dari
cahaya. Pada tahun 8 H, setelah Allah membebaskan negeri Mekkah untuk
Rasulullah dan agama-Nya, sebagian kabilah yang berpengaruh di Jazirah Arab
tidak sudi melihat kemenangan gemilang dan perkembangan yang cepat dari agama
ini. Kabilah Hawazin, Tsaqif, Nashar, Jusyam, dan lain-lain bersekutu dan
mengambil keputusan untuk melancarkan serangan mematikan terhadap Rasulullah
dan kaum Muslimin.
Kata-kata “kabilah” tidak boleh memperdayai kita, sehingga
terbayang oleh kita bahwa cirri peperangan yang diterjuni Rasulullah pada masa
itu, hanya semata-mata perkelahian kecil-kecilan dari orang-orang primitive,
yang dilancarkan dari kabilah dari tempat-tempat perlindungan mereka.
Pengetahuan tentang hakikat ini bukan saja memberikan kepada kita penilaian
yang baik terhadap usaha luar biasa yang telah dikerahkan oleh Rasulullah dan
para shahabat beliau semata, melainkan juga memberikan kepada kita penghargaan
yang benar dan kepercayaan terhadap nilai kemenangan agung yang digapai oleh
Islam dan orang-orang beriman, serta suatu gambaran yang jelas terhadap taufik
Allah yang utama pada setiap kejayaan dan kemenangan ini.
Kabilah-kabilah tersebut telah menghimpun
diri dalam barisan-barisan besar, terdiri dari prajurit perang yang ganas. Kaum
Muslimin bergerak dengan kekuatan dua belas ribu orang. Dua belas ribu orang?
Siapa sajakah mereka? Mereka terdiri dari banyak kalangan, di antaranya adalah
orang-orang yang telah membebaskan Mekkah belum lama ini dari kehidupan yang
penuh dengan kesyirikan dan paganism hingga ke puncak kesesatan. Panji-panji
mereka memenuhi angkasa tanpa ada yang mengganggu atau merintanginya. Ini
merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan arogansi.
Kaum Muslimin pada hakikatnya tidak lepas
dari sifat dasar manusia. Karena itulah, mereka menjadi lemah di hadapan
kesombongan yang dibangkitkan oleh jumlah yang banyak dan kemenangan atas
Mekkah. Mereka pun berkata, “Hari ini kita tidak akan dikalahkan
oleh jumlah yang sedikit.”
Karena Dzat yang di langit menghendaki agar
mereka memiliki tujuan yang paling tinggi dan mulia dalam sebuah peperangan,
maka ketergantungan mereka terhadap kekuatan pasukan, kebanggaan terhadap
kemenangan dalam peperangan, bukanlah amal yang saleh, yang harus mereka jauhi
secepatnya, meski harus diwujudkan oleh Allah dalam bentuk shock
teraphy. Tetapi kejutan
ini berupa kekalahan besar yang mendadak di awal peperangan ini, hingga setelah
mereka sadar dan memohon ampunan kepada Allah serta melepaskan diri dari
kebanggaan terhadap kekuatan mereka dan beralih kepada kepercayaan terhadap
kekuatan Allah, kekalahan mereka akhirnya berbalik menjadi kemenangan. Dalam
hal ini, turunlah ayat Al-Qur’an Al-Karim memperingatkan kaum Muslimin:
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي
مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ
فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ
ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ
Sesungguhnya Allah telah menolong
kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah)
peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya
jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu
sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari
kebelakang dengan bercerai-berai.
QS:At-Taubah | Ayat: 25
QS:At-Taubah | Ayat: 25
ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ
سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ
تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ
Kemudian Allah menurunkan ketenangan
kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala
tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada
orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang
kafir.
QS:At-Taubah | Ayat: 26
QS:At-Taubah | Ayat: 26
Waktu itu, kata-kata Abbas dan keteguhan
hatinya merupakan tanda-tanda ketenangan dan keberanian mempertaruhkan nyawa.
Ketika kaum Muslimin sedang berkumpul menyusun kekuatan di salah satu lembah
Tihamah sambil menanti kedatangan musuh, sebenarnya orang-orang musyrik telah
mendahului mereka ke lembah itu dan bersembunyi di parit-parit dan di tepi-tepi
jalan bukit, siap dengan senjata di tangan untuk memulai serangan.
Ketika kaum Muslimin sedang lengah, mereka
menyerbu dan melakukan sergapan secara mendadak dan mengacaukan, sehingga kaum
Muslimin melarikan diri sejauh-jauhnya hingga tidak sempat menoleh ke kanan
maupun ke kiri. Rasulullah menyaksikan akibat sambaran dan serangan itu
terhadap kaum Muslimin . beliau naik ke atas bighalnya yang putih, lalu
berteriak dengan suara keras, “HEndak ke mana kalian? Mendekatlah
kepadaku. Aku adalah Nabi, yang tidak pernah berbohong. Akulah putra Abdul
Muthalib.”
Di sekitar Nabi waktu itu hanya ada Abu
Bakar, Umar, Ali bin Abu Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Fadhl bin Abbas yang
merupakan putra Abbas, Ja’far bin Al-Harits, Rabi’ah bin Al-Harits, Usamah bin
Zaid, Aiman bin Ubaid, dan beberapa shahabat lain yang tidak banyak jumlahnya.
Ada seorang perempuan yang mendapatkan
kedudukan tinggi di antara lelaki dan para pahlawan itu, namanya ialah Ummu
Sulaim binti Milhan. Perempuan ini telah melihat kebingungan kaum Muslimin dan
keadaan mereka yang kacau balau. Ia pun segera menunggangi unta suaminya, Abu
Thalhah, dan terus menghentak unta itu ke
arah Rasulullah. Pada waktu itu ia sedang hamil, maka ketika janin yang
ada di dalam perutnya bergerak, ia membuka selendangnya lalu mengikatkannya ke
perut dengan ikatan yang lebih kuat.
Setelah sampai di dekat Nabi dengan
membawa belati di tangan kanannya, beliau menyambutnya dengan senyuman, dan
bersabda, “Ummu Sulaim?”
ia menjawab, “Benar, ayah dan ibuku sebagai tebusan
anda, wahai Rasulullah. Bunuhlah mereka semua yang melarikan diri itu
sebagaimana engkau membunuh mereka yang memerangimu dan mereka petut
mendapatkannya.” Rasulullah
semakin menampakkan senyuman dari wajah beliau yang memperlihatkan keyakinan
terhadap janji Rabbnya, lalu bersabda kepadanya, “Sesungguhnya
Allah telah cukup sebagai pelindung dan jauh lebih baik, wahai Ummu Sulaim.”
Ketika Rasulullah sedang dalam kondisi
seperti itu, Abbas berada di dekatnya bahkan antara kedua tumitnya memegang
kekang keledainya, menghadang maut dan bahaya. Nabi menyuruh agar memanggil
kaum Muslimin yang lain, karena Abbas mempunyai suara yang lantang, maka ia pin
berteriak, “Wahai kaum Anshar… wahai orang-orang
yang telah berbaiat.”
Teriakan Abbas seolah-olah pemanggil dan
pengingat takdir. Ketika teriakan itu mengetuk telinga mereka yang ketakutan
karena serangan mendadak ini dan kacau balau di dalam lembah itu, langsung
menjawab serentak, “Kami segera datang, ini kami datang.” Mereka berbalik ke kesatuan bagai angin topan,
bahkan ada sebagian orang yang karena unta atau kudanya membandel, mereka
melompat dan berlari sambil membawa baju besi, pedang, dan panahnya menuju arah
suara Abbas.
Pertempuran berlangsung kembali dengan
dahsyat dan kejamnya. Rasulullah berseru, “Sekarang
peperangan memuncak panas.” Benar,
perang menjadi panas. Korban di pihak Hawazin dan Tsaqif berjatuhan
menggelinding. Pasukan berkuda Allah telah mengalahkan pasukan berkuda Latta.
Allah menurunkan ketenangan kepada Rasulullah dan orang-orang beriman.
Rasulullah sangat mencintai Abbas, bahkan
beliau tidak dapat tidur sewaktu berakhirnya Perang Badar, karena pamannya pada
waktu itu tidur bersama tawanan yang lain. Nabi tidak menyembunyikan rasa
sedihnya, ketika ada yang menanyakan mengapa beliau bersedih. Beliau tidak
dapat tidur padahal Allah telah memberikan pertolongan yang sangat agung,
beliau menjawab, “Aku seperti mendengar rintihan Abbas
dalam belenggunya.”
Salah seorang di antara kaum Muslimin yang
mendengar kata-kata Rasulullah tersebut bergegas pergi ke tempat para tawanan
dan melepaskan belenggu Abbas. Orang ini kembali dan mengabarkan kepada
Rasulullah dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, saya telah
melonggarkan sedikit ikatan belenggu Abbas.”
Namun, mengapa hanya Abbas saja? Ketika itu Rasulullah memerintahkan kepada
para shahabatnya itu, “Kembalilah ke sana dan lakukanlah itu
terhadap semua tawanan.”
Benar, kecintaan Nabi terhadap pamannya
tidak dimaksudkan untuk membedakannya dari orang lain yang mengalami keadaan
yang sama. Ketika musyawarah mencapai mufakat untuk membebaskan tawanan dengan
jalan menerima tebusan, Rasulullah berkata kepada pamannya, “Wahai
Abbas, tebuslah dirimu, dan anak saudaramu Aqil bin Abu Thalib, Naufal bin
Al-Harits, dan teman karibmu Utbah bin Amr, saudara Bani Harits bin Fihir,
sebab engkau banyak harta.”
Abbas menginginkan bebas tanpa membayar
uang tebusan, dan berkata kepada Rasulullah, “Wahai
Rasulullah, sebenarnya aku telah masuk Islam, hanya saja orang-orang itu
memaksaku (ikut berperang).” Tetapi,
Rasulullah terus mendesaknya agar membayar tebusan. Berkenaan dengan peristiwa
ini, Allah menurunkan ayat Al-Qur’an Al-Karim:
يَا أَيُّهَا
النَّبِيُّ قُلْ لِمَنْ فِي أَيْدِيكُمْ مِنَ الْأَسْرَىٰ إِنْ يَعْلَمِ اللَّهُ
فِي قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِمَّا أُخِذَ مِنْكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di
tanganmu: "Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia
akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu
dan Dia akan mengampuni kamu". Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
QS:Al-Anfaal | Ayat: 70
QS:Al-Anfaal | Ayat: 70
Akhirnya, Abbas memberikan tebusan untuk
membebaskan dirinya dan orang-orang bersamanya, lalu pulang ke Mekkah.
Setelah itu, pendirian dan keimanan Abbas
tidak dapat disembunyikan lagi dari orang Quraish. Tak lama setelah itu, ia
mengumpulkan hartanya dan barang-barangnya, lalu pergi menyusul Rasulullah ke
Khaibar, untuk ikut mengambil bagian dalam rombongan angkatan Islam dan kafilah
orang-orang beriman. Ia sangat dicintai dan dimuliakan oleh kaum Muslimin.
Apalagi ketika melihat Rasulullah sendiri memuliakan serta mencintainya, dan
pernah bersabda tentang dirinya, “Abbas adalah saudara kandung ayahku.
Siapa yang menyakiti Abbas berarti telah menyakitiku.”
Abbas meninggalkan keturunan yang
diberkahi dan merupakan ulama umat ini, yaitu Abdullah bin Abbas, salah seorang
anak yang diberkahi.
Pada jumat, 14 Rajab 32 H, penduduk
kampung dataran tinggi Madinah mendengarkan pengumuman, “Rahmat
bagi orang yang menyaksikan Abbas bin Abdul Muthalib.” Mendengar itu, mereka tahu bahwa Abbas telah
meninggal.
Orang-orang pun keluar untuk
mengantarkannya ke kuburan. Jumlah mereka sangat banyak dan belum pernah ada
pelayat sebanyak itu di Madinah. Jenazahnya dishalatkan oleh Khalifah Muslimin
waktu itu, Utsman bin Affan, lalu dikubur di bawah tanah Baqi’ dan tubuh Abu
Fadhl beristirahat di sana dengan tenang. Ia tidur nyenyak dengan hati puas, di
lingkungan orang-orang berbakti yang telah memenuhi janji mereka kepada Allah.
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
0 komentar:
Posting Komentar