Sabtu, 14 Desember 2013

Filled Under:

Abud Darda’ (Seorang Ahli Ibadah yang Luar Biasa).

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ



     Ketika tentara Islam sedang berperang dengan membawa gemuruh kemenangan di beberapa penjuru bumi, di Madinah berdiam seorang filosof yang mengagumkan, yang dari dirinya memancarkan mutiara yang cemerlang dan bernilai. Ia senantiasa mengucapkan kata-kata kepada orang-orang di sekelilingnya, “Maukah kalian aku kabarkan kepada kalian tentang amalan yang terbaik bagi kalian, paling suci di sisi Rabb kalian, paling meninggikan derajat kalian, lebih baik daripada memerangi musuh kalian dengan menghantam batang leher mereka, lalu mereka pun menebas batang leher kalian, dan lebih baik dari segala emas dan perak?

     Orang-orang yang mendengarkannya menjulurkan kepala mereka ke depan karena ingin tahu, dan mereka menanyakan, “Apakan itu, wahai Abud Darda’?
     Abud Darda’ memulai kata-katanya dengan wajah berseri-seri, di bawah cahaya iman dan hikmah, lalu menjawab, “Zikir kepada Allah, karena sesungguhnya zikir kepada Allah itu lebih utama.

     Dengan kata-kata itu, ahli hikmah yang mengagumkan ini tidak bermaksud menganjurkan orang menganut filsafat mengucilkan diri, bukan menyuruh orang meninggalkan dunia, dan tidak pula agar mengabaikan tugas agama yang baru ini, karena salah satu tugasnya menempatkan jihad sebagai sebuah kebanggaan. Abud Darda’ tentu saja bukanlah tipe orang yang semacam itu, karena ia telah ikut berjihad mempertahankan agama ini bersama Rasulullah sampai datangnya pertolongan Allah dengan pembebasan dan kemenangan merebut Mekkah.

     Hanya saja, salah satu ciri yang terdapat dalam dirinya, ia termasuk orang yang suka merenung di relung hikmah, dan mengabdikan hidupnya untuk mencari kebenaran dan keyakinan. Abud Darda’, ahli hikmah yang besar di zamannya itu, adalah seorang insane yang telah dikuasai oleh kerinduan yang sangat dalam untuk menemukan dan melihat hakikat. Sebagaimana ia telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan iman yang teguh, ia merasa juga yakin dan percaya bahwa iman ini, dengan segala kewajiban dan pemahaman yang menyertainya, merupakan jalan utama dan satu-satunya untuk mencapai hakikat itu.

     Ia tetap berpegang teguh dan menyerahkan dirinya kepada Allah. Dengan keteguhan, kedewasaan, dan keagungan, ia menempa hidupnya sesuai dengan keimanan. Ia terus menelusuri jejak hingga mencapai tingkat kebenaran yang teguh, dan menempati kedudukan yang tinggi bersama orang-orang yang berbakti, yakni saat ia menyeru Rabbnya dengan membaca ayat-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
QS:Al-An'am | Ayat: 162

     Abud Darda’ telah berjihad melawan hawa nafsu dan mengekang dirinya untuk memperoleh mutiara batin yang sempurna. Ia telah mencapai tingkatan tertinggi, yaitu tingkatan orang yang mempersembahkan seluruh kehidupannya semata bagi Allah pemelihara semesta alam.

     Sekarang marilah kita mendekati ahli hikmah dan orang suci itu! Apakah anda tidak memperhatikan cahaya yang memancar di sekeliling sinarnya? Apakah anda tidak mencium wangi semerbak yang berhembus dari arahnya? Itulah dia cahaya hikmah dan harumnya iman. Iman dan hikmah telah bertemu kepada lelaki yang rindu kepada Rabbnya ini; suatu pertemuan bahagia yang tiada tara.

     Ibunya pernah ditanyai orang tentang amal yang sangat disukai Abud Darda’, maka bundanya menjawab, “Tafakur dan mengambil pelajaran.” Abud Darda’ benar-benar telah meresapi dengan sempurna firman Allah yang terdapat dalam beberapa ayat:

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.
QS:Al-Hasyr | Ayat: 2

     Ia selalu mendorong rekan-rekannya untuk merenung dan berpikir, dengan mengatakan kepada mereka, “Berpikir satu jam itu lebih baik daripada beribadah satu malam.” Beribadah, berpikir, dan mencari hakikat telah menguasai seluruh diri dan kehidupannya.

     Saat Abud Darda’ rela mengambil Islam sebagai agamanya dan berbaiat kepada Rasulullah akan melaksanakan agama yang mulia ini, pada waktu itu ia adalah seorang saudagar kaya yang sukses di antara saudagar-saudagar di Madinah. Sebelum memeluk Islam, ia telah menghabiskan sebagian besar umurnya dalam dunia perniagaan, bahkan sampai saat Rasulullah dan kaum Muslimin lainnya hijrah ke Madihan, tidak lama setelah ia masuk Islam, dan Islam menjadi jalan hidupnya.

     Marilah kita dengarkan saat ia sendiri menceritakan kisah tersebut kepada kita, “Aku menyatakan masuk Islam di hadapan Nabi saat aku menjadi saudagar. Aku ingin agar ibadah dan perniagaanku dapat berjalan beriringan, tetapi hal itu tidak berhasil. Aku pun mengabaikan perniagaan dan focus pada ibadah.

     Aku tidak akan merasa bahagia sedikit pun jika sekarang aku berjual beli dan beruntung setiap harinya tiga ratus dinar, sekalipun tokoku itu terletak di depan pintu masjid. Perlu dipahami bahwa aku tidak mengatakan kepada kalian, bahwa Allah mengharamkan jual beli. Hanya saja, secara pribadi aku lebih senang bila aku termasuk ke dalam golongan orang yang perniagaan dan jual beli itu tidak melalaikan dari zikir kepada Allah.

     Apakah anda tidak memperhatikan bagaimana kata-katanya yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, serta memancarkan hikmah dan kejujuran? Ia telah memberikan jawaban sebelum kita menanyakan kepaanya, “Apakah Allah mengharamkan perniagaan, wahai Abud Darda’?

     Uraiannya melenyapkan kesangsian yang ada dalam pikiran kita. Ia mengisyaratkan kepada kita tujuan yang lebih tinggi yang hendak dicapainya, dalam wujud meninggalkan jual beli sekalipun ia sukses dalam hal ini. Ia mencari keistimewaan dan keluhuran rohani yang berkembang menuju derajat tertinggi yang dapat dicapai oleh anak manusia.

     Abud Darda’ menghendaki agar ibadah itu laksana tangga yang akan mengangkatnya ke alam kebaikan yang tinggi, agar kebenaran itu berada dalam puncak keluhuran dan hakikat itu memancarkan cahayanya. Seandainya yang ia kehendaki hanyalah menunaikan perintah dan meninggalkan larangan, niscaya ia sanggup menghimpun antara keinginannya itu dan perdagangan serta usaha-usahanya yang lain. Berapa pedagang yang saleh, atau sebaliknya orang saleh yang jadi pedagang.

     Di antara para shahabat Rasulullah pun banyak yang banyak berniaga dan perniagaan mereka tidak melalaikan dari mengingat Allah, bahkan mereka giat mengembangkan perniagaan dan hartanya untuk dibaktikan kepada tujuan Islam dan mencukupi kepentingan kaum Muslimin. Namun, jalan yang ditempuh para shahabat yang lain itu tidak mengurangi arti jalan hidup Abud Darda’, dan sebaliknya jalan yang ditempuhnya juga tidak mengurangi makna jalan mereka, karena setiap orang dimudahkan Allah untuk mengikuti jalan hidup yang ditetapkan bagi masing-masing.

     Abud Darda’ benar-benar menyadari bahwa ia diciptakan untuk meraih sesuatu yang memang sedang hendak dicapainya itu, yaitu mengkhususkan diri mencari hakikat melalui “latihan-latihan berat” dalam wujud menjauhi kesenangan dunia sesuai dengan keimanan yang diajarkan Allah kepadanya, menurut tuntunan Rasulullah dan Islam.

     Jika anda suka, sebutlah itu tasawuf, hanya saja tasawuf seorang lelaki yang telah melengkapi kecerdasan seorang Mukmin, kemampuan berpikir, dan pemahaman seorang shahabat, serta yang menjadikan tasawufnya suatu gerakan dinamis yang membina rohani, bukan sekedar hanya baying-bayang yang baik dari bangunan ini. Itulah dia Abud Darda’, shahabat sekaligus murid Rasulullah.

     Itulah dia Abud Darda’ seorang suci dan ahli hikmah, yang telah menolak dunia dengan kedua telapak tangannya dan melindunginya dengan dadanya. Ia adalah sosok lelaki yang mampu mengasah dan menyucikan jiwa, sehingga menjadi cermin yang memantulkan hikmah, kebenaran dan kebaikan, yang menjadikan Abud Darda’ sebagai seorang guru dan ahli hikmah yang lurus. Berbahagialah mereka yang datang menemuinya dan mendengarkan ajarannya.

     Sekarang, mari kita mendekat untuk mengetahui lebih jauh tentang hikmah darinya, wahai orang yang berakal. Kita mulai dengan filsafatnya terhadap dunia; terhadap kesenangan dan kemewahan. Ia telah terpengaruh hingga hingga ke dasar jiwanya oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang menghinakan orang seperti dalam ayat:

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ
yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,
QS:Al-Humazah | Ayat: 2
يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ
dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,
QS:Al-Humazah | Ayat: 3

     Ia juga sangat terkesan sampai ke lubuk hatinya oleh sabda Rasulullah:

     “Sedikit tetapi mencukupi itu lebih baik daripada yang banyak tetapi melalaikan.
     Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:

     “Jauhkanlah diri kalian dari keduniaan semampu kalian, sebab siapa yang menjadikan dunia tujuan utamanya, Allah akan menceraiberaikan urusannya, lalu menjadikan kemiskinan dalam pandangan matanya. Dan siapa yang menjadikan akhirat tujuan utamanya, Allah akan menghimpunkan miliknya yang bercerai berai, lalu menjadikan kekayaan dalam hatinya, dan menjadikan kebaikan mudah baginya<HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir>.

     Karena itulah, Abud Darda menyesalkan orang-orang uang menjadi tawanan segala keinginan untuk menumpuk kekayaan dan berkata, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang bercabang-cabang.” Ditanyakan kepadanya, “Apakah yang dimaksud dengan hati yang bercabang-cabang itu, wahai Abud Darda’?” ia menjawab, “Memiliki harta di setiap lembah.

     Ia menyeru kepada manusia untuk memiliki dunia tanpa terikat kepada dunia. Itulah sejatinya kepemilikan seseorang terhadap dunia ini. Adapun keinginan untuk menguasainya secara serakah tidak akan pernah ada kesudahannya, maka yang demikian adalah bentuk penghambatan dan perbudakan terburuk. Dalam hal ini ia berkata, “Barang siapa yang tidak merasa puas terhadap dunia, maka tidak ada dunia baginya.

     Harta baginya hanya sarana untuk hidup bersahaja dan sederhana, tidak lebih dari itu. Karena itulah, setiap orang harus berupaya mendapatkan harta yang halal dan mendapatkannya secara tenang dan seimbang, bukan dengan kerakusan dan keserakahan.

     Abud Darda’ juga menuturkan, “Janganlah engkau makan kecuali dengan yang baik, janganlah melakukan upaya kecuali yang baik, dan janganlah memasukkan ke rumahmu kecuali yang baik.

     Ia pernah mengirimkan surat kepada shahabatnya dengan kata-kata sebagai berikut:

     “Amma ba’d, tidak satu pun harta kekayaan dunia yang engkau miliki, melainkan sudah ada orang lain yang memilikinya sebelum dirimu, dan akan terus ada orang lain yang memilikinya setelah dirimu. Dunia yang engkau miliki sejatinya hanya sekedar yang telah kamu manfaatkan untuk dirimu. Karena itulah, utamakanlah harta itu untuk anakmu di mana engkau mengumpulkan harta untuknya agar menjadi warisan baginya.

     Sejatinya, engkau mengumpulkan harta itu untuk salah satu dari dua kemungkinan: (pertama) untuk anak yang saleh yang beramal dengan harta itu untuk menaati Allah, maka ia berbahagia dengan segala kepayahanmu mengumpulkan harta itu. Dan (kedua) untuk anak durhaka yang mempergunakan harta itu untuk maksiat, maka engkau lebih celaka lagi dengan harta yang telah kamu kumpulkan untuknya itu. Percayakanlah nasib mereka kepada rezeki yang ada pada Allah, dan selamatkanlah dirimu sendiri.

     Menurut pandangan Abud Darda’, dunia seluruhnya hanya titipan. Ketika Siprus ditaklukkan dan banyak harta rampasan perang di bawa ke Madinah, orang-orang melihat Abud Darda’ menangis. Dengan perasaan heran mereka mendekatinya dan meminta Jubair bin Nafir untuk menanyainya, “Wahai Abud Darda’, apakah sebabnya engkau menangis pada saat Islam dan pemeluknya telah dimenangkan oleh Allah?

     Abud Darda’ menjawabnya dengan kata-kata yang sangat berharga dan penuh arti, “Celakalah engkau, wahai Jubair! Alangkah hinanya makhluk di sisi Allah bila mereka meninggalkan perintah-Nya. Bila suatu umat yang perkasa, Berjaya, dan mempunyai kekuatan, lalu mereka meninggalkan perintah Allah, niscaya mereka menjadi seperti yang engkau lihat.

     Faktanya memang benar. Menurut Abud Darda’, keruntuhan yang begitu cepat melanda tentara Islam di negeri-negeri yang dibebaskan penyebabnya ialah negeri-negeri tersebut kehilangan pegangan rohani yang baik sebagai pelindung dan agama yang benar yang menghubungkanya dengan Allah. Dengan alasan yang sama, ia juga mengkhawatirkan keadaan kaum Muslimin saat ikatan iman mereka mengendur, ketika hubungan mereka dengan Allah, kebenaran, dan kebaikan menjadi lemah, sebagaimana dulu berpindah kepada mereka dengan mudah pula.

     Menurut keyakinannya, dunia seluruhnya hanya pinjaman semata, yang sekaligus menjadikan jembatan untuk menyeberang ke kehidupan yang abadi dan lebih membahagiakan.

     Suatu saat, shahabatnya datang menjenguknya ketika dia sedang sakit. Meeka mendapatinya terbaring di atas tikar dari kulit. Mereka menawarkan kepadanya dengan kasur yang lebih empuk.

     Ia pun menjawab tawaran ini sambil member isyarat dengan jari telunjuknya, sedang kedua matanya yang bercahaya menatap jauh kedepan, “Negeri kita jauh di sana. Kita mengumpulkan untuk negeri itu dan kesanalah kita akan kembali. Kita akan berangkat dan beramal untuk bekal di sana.

     Pandangan terhadap nilai dunia ini bagi Abud Darda’ bukan sekedar perspektif nalar saja, melainkan lebih dari itu, merupakan suatu jalan hidup. Yazid bin Mu’awiyyah, putra khalifah pada waktu itu, pernah melamar putrid Abud Darda’, namun ia menolak lamaran tersebut. Kemudian, ketika putrinya tersebut dilamar oleh salah seorang putra kaum Muslimin yang miskin tetapi saleh, putrinya itu pun dinikahkan dengannya. Orang-orang tidak habis piker dengan keputusannya itu.

     Abud Darda’ pun mengajarkan kepada mereka alasan-alasannya, dengan mengatakan, “Bagaimana opini kalian nanti tentang si Abud Darda’ bila putrinya telah dikelilingi para pelayan dan terperdaya oleh kemewahan istana? Di mana letak agamanya waktu itu?

     Itulah dia seorang yang bijaksana dan berjiwa lurus dengan hati yang mulia. Semua kesenangan dunia yang sangat diinginkan nafsunya dan didambakan kalbunya, mampu ia tundukkan. Ini tidak berarti bahwa ia lari dari kebahagiaan, tetapi sebaliknya kebahagiaan sejati baginya ialah menguasai dunia, bukan dikuasai dunia. Bila manusia hidup dalam batas kesahajaan dan kesederhanaan; bila mereka menggunakan hakikat dunia sebagai jembatan yang akan menyeberangkan ke kampung halaman yang abadi, itu berarti mereka akan memperoleh kebahagiaan sejati yang lebih semprna dan lebih agung.

     Abud Darda’ mengatakan, “Kebaikan bukanlah karena dengan memperbanyak harta dan anak. Kebaikan yang sesungguhnya ialah bila semakin besar rasa santunmu, semakin bertambah banyak ilmumu, dan kamu berpacu menandingi orang lain dalam mengabdi kepada Allah.

     Pada masa Khalifah Utsman, Mu’awiyyah menjadi gubernur di Syam dan Abud Darda’ menjabat hakim atas kehendak Khalifah. Di Syam itulah Abud Darda’ menjadi tonggak penegak yang mengingatkan orang tentang jalan yang ditempuh Rasulullah dalam hidup beliau, kezuhudan beliau, dan jalan hidup para pelopor Islam pertama dari golongan syuhada dan orang-orang yang berbakti.

     Negeri Syam waktu itu adalah negeri yang makmur penuh dengan kenikmatan dan kemewahan hidup. Penduduk, yang mabuk dengan kesenangan dunia dan tenggelam dalam kemewahan ini, seolah-olah dibatasi oleh peringatan dan nasihat Abud Darda’. Abud Darda’ mengumpulkan mereka dan berdiri untuk menyampaikan pidato:

     “Wahai penduduk Syam, kalian adalah saudara seagama, tetangga dalam rumah tangga, dan pembela melawan musuh. Tetapi, saya merasa heran melihat kalian semua, mengapa kalian tidak merasa malu? Kalian mengumpulkan apa yang tidak kalian makan. Kalian membangun semua apa yang tidak akan kalian huni. Kalian mengharapkan apa yang tidak akan kalian capai.

     Beberapa kurun waktu sebelum kalian, mereka pun mengumpulkan dan menyimpannya. Mereka mengangan-angankan, lalu mereka berkepanjangan dalam angan-angan mereka itu. Mereka membangun dan mengokohkan bangunan itu tetapi akhirnya semua itu binasa. Angan-angan mereka menjadi fatamorgana. Rumah-rumah mereka menjadi kuburan belaka. Mereka itulah kaum Add, yang memenuhi wilayah antara Aden dan Oman dengan harta dan anak-anak mereka.

     Kemudian kedua bibirnya menyunggingkan senyuman lebar yang mengisyaratkan sindiran. Ia melambaikan tangannya kepada khalayak yang hadir dengan sindiran yang tajam, ia berteriak, “Siapakah yang mau membeli harta peninggalan kaum Add dariku dengan harta dua dirham saja?

     Abud Darda’ memang sosok orang yang berwibawa, anggun, dan memancarkan cahaya. Hikmahnya meyakinkan, firasatnya menakjubkan, serta logikanya benar dan cerdas. Ibadah menurut Abud Darda’ bukan sekedar rutinitas ritual dan ikut-ikutan, melainkan suatu upaya untuk mencari kabaikan dan mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan rahmat dan ridha Allah, senantiasa rendah hati, dan mengingatkan manusia akan kelemahannya serta kelebihan Rabb atasnya.

     Ia pernah mengatakan, “Carilah kebaikan sepanjang hidupmu, dan berharaplah mendapatkan terpaan hembusan karunia Allah, sebab Allah mempunyai hembusan-hembusan rahmat yang dapat mengenai siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Mohonlah kepada Allah agar menutupi kekurangan kalian, dan menganugerahkan ketenteraman dari ketakutan kalian.

     Mata ahli hikmah ini selalu terbuka untuk meneliti tipuan dalam ibadah dan mengingatkan kepada setiap orang dari kepalsuan tersebut. Kepalsuan inilah yang banyak menimpa sebagian besar orang-orang  yang berwatak lemah dalam iman mereka. Mereka merasa bangga dengan ibadah sendiri, lalu merasa dirinya lebih baik daripada orang lain dan arogan. Marilah kita dengarkan penuturannya yang lain, “Kebaikan sebesar biji sawi dari orang yang bertakwa dan yakin itu lebih berat dan lebih bernilai daripada ibadah sebesar gunung dari orang-orang yang tertipu oleh diri sendiri.

     Ia menambahkan, “Janganlah kalian membebani orang lain dengan sesuatu yang tidak sanggup dipikulnya. Janganlah kalian mengorek-orek mereka dalam urusan yang menjadi wewenang Rabbnya. Jagalah diri kalian sendiri, sebab siapa yang selalu mengingini apa yang dipunyai orang lain, niscaya akan berkepanjangan deritanya.

     Abud Darda’ tidak ingin seseorang yang ahli ibadah, bagaimana pun tinggi pengabdiannya, mengaku dirinyalah secara mutlak lebih sempurna dari hamba-hamba Allah yang lain. Ia justru harus bersyukur kepada Allah atas taufik-Nya, dan menolong dengan mendoakan orang lain yang belum mendapatkan taufik itu dengan ketinggian ibadah dan keikhlasan niatnya. Apakah anda pernah mendapatkan kata-kata bijak yang sinarnya melebihi hikmah yang budiman ini?

     Seorang shahabatnya yang bernama Abu Qalabah mangatakan, “Suatu haru Abud Darda’ melihat orang-orang sedang mencaci maki seseorang yang terperosok dalam perbuatan dosa, maka ia melarangnya.

     Ia mengatakan, ‘Bagaimana pendapat kalian bila melihatnya terperosok ke dalam lubang? Bukankah seharusnya kalian berusaha mengeluarkannya dari lubang itu?’

     Mereka menjawab, ‘Ya, benar.’

     Abud Darda’ mengatakan, ‘Kalau begitu, janganlah kalian cela dia. Bersyukurlah kalian, karena Allah menyelamatkan kalian (dari dosa itu).’

     Mereka bertanya, ‘Apakah kita tidak membencinya?’

     Abud Darda’ menjawab, ‘Bencilah terhadap perbuatannya, dan bila ditinggalkannya hal itu, berarti dia adalah saudaraku’.

     Seandainya apa yang telah penulis sebutkan tentang Abud Darda’ tersebut merupakan salah satu sisi dari dua sisi ibadah, maka sisi yang lain adalah ilmu dan makrifat. Abud Darda’ benar-benar menmpatkan ilmu pada kedudukan tertinggi dan menganggapnya sebagai kesucian bagi dirinya sebagai orang yang bijaksana dan ahli ibadah. Perhatikanlah ungkapannya tentang ilmu, “Orang tidak mungkin mencapai tingkat orang bertakwa apabila tidak berilmu. Apa gunanya ilmu bila tidak dibuktikan dengan perbuatan?

     Ilmu baginya merupakan pemahaman, perilaku, makrifat, jalan hidup, dan ide kehidupan. Karena yang menyucikan ilmu ini adalah seorang yang bijaksana maka kita melihatnya meneriakkan bahwa ilmu dan orang yang mempelajarinya itu mempunyai kedudukan yang sama dalam kemuliaan, keutamaan, dan pahala. Ia juga melihat bahwa kebesaran hidup ini tergantung kepada ilmu yang baik sebelum segala hal terjadi.

     Ia mengatakan, “Aku tidak tahu mangapa ulama kalian pergi berlalu, sedangkan orang-orang jahil di antara kalian tidak mau mempelajari ilmu. Ketahuilah bahwa guru yang baik dan muridnya, serupa pahalanya. Dan tidak ada lagi kebaikan yang lebih utama dari kebaikan mereka.

     Ia juga mengatakan, “Manusia itu ada tiga macam: orang yang berilmu, orang yang belajar, dan yang ketiga adalah orang bodoh yang tidak mempunyai kebaikan apa-apa.

     Sebagaimana telah penulis jelaskan sebelumnya, ilmu dan amal tidak pernah berpisah dalam pemikiran Abud Darda’. Ia berkata, “Yang paling kutakutkan pada hari kiamat kelak ialah bila aku ditanya di depan semua orang. ‘Wahai Uwaimir, apakah engkau berilmu?’ lalu aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku ditanya lagi, ‘Apa saja yang engkau amalkan dari ilmu itu?’

     Abud Darda’ selalu memuliakan ulama yang mengamalkan ilmunya, menghormati mereka dengan penghormatan yang besar, bahkan berdoa kepada Rabbnya dengan ungkapan, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kutukan hati ulama.” Ia ditanyai, “Bagaimana mungkin hati mereka mngutukmu?” ia pun menjawab, “Bila aku dibenci.

     Perhatikanlah bagaimana ia memandang suatu kutukan besar bila terdapat kebencian ulama kepadanya. Karena itulah, dengan rendah hati ia berdoa kepada Rabbnya, agar melindunginya dari hal itu.

     Kebijaksanaan Abud Darda’ mengajarkan berbuat baik dalam persaudaraan dan membina hubungan di antara sesama manusia atas dasar tabiat manusia itu sendiri. Dalam hal ini ia pernah mengatakan, “Menegur saudaramu atas kesalahannya itu lebih baik bagimu daripada engkau kehilangan dirinya. Siapakah mereka bagimu, kalau bukan saudara? Nasihatilah saudaramu dan bersikaplah yang lembut kepadanya. Janganlah engkau ikut-ikutan mendengki saudaramu, sehingga engkau akan seperti orang itu pula. Barang kali esok maut menjemputnya, sehingga itu membuatmu merasa kehilangan dan menangisinya. Tetapi, bagaimana engkau akan menangisinya sesudah mati, sedangkan selagi hidup saja engkau tidak pernah memenuhi haknya?

     Pengawasan Allah terhadap hamba-Nya menjadi dasar yang kuat bagi Abud Darda’ untuk membangun hak-hak persaudaraan di atasnya. Ia pernah mengatakan, “Aku benci menganiaya seseorang, dan aku lebih benci lagi jika sampai menganiaya seseorang yang tidak mampu meminta pertolongan dari ketidakadilanku kecuali kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

     Alangkah besar jiwamu, dan betapa terang pancaran rohmu, wahai Abud Darda’!

     Ia selalu memberikan peringatan keras terhadap masyarakat dari pikiran keliru yang menyangka bahwa kaum lemah mudah saja mereka perlakukan sewenang-wenang dengan meyalahgunakan kekuasaan dan kekuatan. Ia mengingatkan bahwa di dalam kelemahan orang-orang itu terdapat kekuatan yang ampuh, yakni jeritan hati dan doa kepada Allah karena kelemahan mereka, lalu menyerahkan nasib mereka kepada-Nya atas perlakuan orang yang menindasnya itu.

     Itulah dia Abud Darda’ yang budiman itu. Abud Darda’ yang zuhud, ahli ibadah, dan selalu merindukan perjalanan pulang untuk bertemu dengan Rabbnya. Inilah dia Abud Darda’, yang bila orang terpesona oleh ketakwaannya, lalu mereka meminta doa restunya, ia pun menjawab dengan kerendahan hati yang teguh, “Aku bukan ahli berenang, sehingga aku takut akan tenggelam.


     Itulah jawabannya, tetapi benarkah engkau tidak bisa berenang, wahai Abud Darda’? tetapi, apa yang tidak menakjubkan dari dirinya? Bukankah ia hasil tempaan Rasulullah, murid Al-Qur’an, putra Islam yang pertama, dan rekan seperjuangan Abu Bakar, Umar, serta tokoh-tokoh utama lainnya?




▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

0 komentar:

Copyright @ 2014 Rotibayn.

Design Dan Modifikasi SEO by Pendalaman Tokoh | SEOblogaf