بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Umair bin Wahab Al-Jumahi memacu kudanya
untuk mengamati sekeliling perkemahan kaum Muslimin, lalu kembali dan berkata
kepada kaumnya, “Kekuatan mereka kurang lebih tiga
ratus orang.” Dan ternyata
perkiraannya itu benar.
Mereka juga menanyakan kepada meraka, “Apakah
di belakang mereka masih ada bala bantuan?”
Ia menjawab, “Aku tidak
melihat apa-apa lagi di belakang mereka. Hanya saja wahai kaum Quraish, aku
melihat pusara-pusara menganga yang menantikan kematian. Mereka adalah kaum
yang tidak mempunyai pembela dan perlindungan kecuali pedang mereka sendiri.
Demi Allah, tidak mungkin salah seorang dari mereka terbunuh, tanpa terbunuhnya
seorang di antara kita sebagai imbalannya. Apabila jumlah kita yang tewas sama
dengan jumlah mereka, kehidupan mana lagi yang lebih baik setelah itu?
Pertimbangkanlah baik-baik persoalan ini!”
Kata-kata dan buah pemikirannya itu mampu
mempengaruhi sebagian besar pemimpin Quraish, dan hampir saja mereka menghimpun
kekuatan mereka untuk kembali pulang ke Mekkah tanpa perang, seandainya Abu
Jahal tidak merusak pikiran tersebut. Abu Jahal mengobarkan api kebencian di
dalam jiwa mereka, yang memercikkan api peperangan di mana ia tewas sendiri
sebagai korbannya yang pertama.
Penduduk Mekkah member gelar Setan Quraish
kepada Umair. Pada Perang Badar itu, Setan Quraish ini benar-benar mendapat
pukulan hebat karena usahanya menemui kegagalan total. Orang-orang Quraish
kembali ke Mekkah dengan kekuatan yang telah hancur. Umair bin Wahab pun harus meninggalkan
salah satu anggota keluarganya di Madinah karena anaknya menjadi tawanan kaum
Muslimin.
Suatu hari ia berkumpul dalam majelis
pamannya, Shafwan bin Umayyah. Shafwan ini memendam rasa dendam dan benci
karena ayahnya, Umayyah bin Khalaf, menemui ajalnya di Perang Badar, sedangkan
tulang belulangnya terkubur di sumur tua. Shafwan dan Umair duduk
berbincang-bincang untuk melampiaskan dendam kesumat mereka.
Marilah kita panggil Urwah bin Az-Zubair
untuk menceritakan perbincangan mereka berdua yang panjang kepada kita:
“Demi Allah,
tidak ada lagi gunanya hidup kita setelah peristiwa itu,” kata Shafwan.
“Engkau
benar, dan Demi Allah, kalau bukan karena utang yang belum kubayar, dan
keluarga yang kukhawatirkan akan terlantar sepeninggalku, niscaya aku berangkat
mencari Muhammad untuk membunuhnya,”
jawab Umair.
“Aku
mempunyai alasan yang kuat untuk mengelabuinya. Aku akan mengatakan bahwa aku
datang untuk membicarakan anakku yang tertawan,” tambah Umair.
Shafwan tertarik dengan ungkapan Umair
tersebut dan berkata, “Biarlah aku yang menanggung utangmu.
Aku akan melunasi semua dan keluargamu hidup bersama keluargaku. Aku akan
menjaga mereka seperti aku menjaga keluargaku.”
“Bila
demikian, mari kita simpan rahasia kita ini,”
kata Umair.
Kemudian Umair meminta pedangnya, lalu ia
mengasah dan membubuhi racun. Selanjutnya, ia berangkat hingga sampai di
Madinah.
Ketika Umar bin Al-Khatthab sedang
bercakap-cakap dengan sejumlah kaum Muslimin tentang Perang Badar dan mereka
menyebut-nyebut pertolongan Allah kepada mereka, tiba-tiba Umar melihat Umair
bin Wahab yang baru saja menambatkan tunggangannya di depan masjid, dan siap
mempergunakan pedangnya.
Umar berkata, “Itu si Umair
bin Wahab, anjing musuh Allah! Demi Allah, ia pasti datang dengan maksud jahat.
Dialah yang telah menghasut orang banyak dan mengerahkan mereka untuk memerangi
kita di Perang Badar.”
Umar lalu masuk menghadap Rasulullah dan
berkata, “Ya Nabi Allah, itu si Umair si musuh Allah, ia
telah datang siap menghunus pedangnya.”
Rasulullah menjawab, “Suruhlah
ia masuk menghadapku!”
Umar pergi mengambil pedangnya sambil
menimang-nimangnya di tangan, sembari mengatakan kepada orang-orang Anshar yang
hadir di tempat tersebut agar mereka semua masuk dan duduk di dekat Rasulullah
sambil mengawasi tindak tanduk orang jahat ini, karena ia tidak dapat
dipercaya.
Umar lalu membawa masuk Umair menemui
Nabi, sambil membawa pedangnya yang tersandang di pundaknya, dan ketika
Rasulullah melihatnya, beliau bersabda, “Biarkanlah
ia, wahai Umar. Silakan wahai Umair.”
Umair pun mendekat seraya berkata, “Selamat
pagi.”
Ini merupakan ucapan jahiliyyah, maka
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memuliakan
kami dengan ucapan kehormatan yang lebih baik daripada ucapanmu, hai Umair,
yaitu ucapan salam yang merupakan penghormatan bagi ahli surga.”
Umair berkata, “Demi
Allah, aku baru mendengar soal itu.”
Rasulullah mulai bertanya, “Apa
maksudmu datang ke sini, wahai Umair?”
“Kedatanganku
ke sini sehubungan dengan tawanan yang berada di tanganmu.”
“Apa maksud
pedangmu yang tersandang itu?”
“Pedang-pedang
yang tidak berguna. Menurutmu apakah ada manfaatnya pedang itu bagi kami?”
“Berkatalah
terus terang, wahai Umair, apa maksud kedatanganmu yang sebenarnya!”
“Aku tidak
datang selain untuk itu.”
“Bukankah
engkau telah duduk bersama Shafwan bin Umayyah di atas batu, lalu engkau
berbincang-bincang tentang orang-orang Quraish yang tewas di sumur Badar, dan
engkau berkata, ‘Kalau bukan karena utang dan keluargaku, niscaya aku akan
pergi membunuh Muhammad.’ Kemudian Shafwan akan menjamin akan membayar utangmu
dan menanggung keluargamu, asal kamu membunuh aku, padahal Allah telah menjadi
penghalang bagi maksudmu itu?”
Seketika itu juga, Umair berteriak, “Aku
bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah
Rasulullah. Perbincangan itu tidak ada yang menghadirinya selain aku dengan
Shafwan saja. Demi Allah, tidak ada yang memberi kabar kepadamu selain Allah.
Puji syukur kepada Allah yang telah menunjukkan aku kepada Islam.”
Rasulullah pun bersabda kepada
shahabat-shahabat beliau, “Ajarilah saudaramu ini tentang agama,
bacakanlah Al-Qur’an kepadanya, dan bebaskanlah tawanannya!”
Begitulah, Umair bin Wahab masuk Islam.
Kini orang yang dulunya mendapat julukan Setan Quraish itu telah masuk Islam.
Ia telah diliputi oleh cahaya Rasul dan lentera Islam seluruhnya, hingga
tiba-tiba dalam sekejap ia telah berbalik menjadi pembela Islam yang gigih.
Umar bin Al-Khatthab sampai berkata, “Demi Dzat
yang diriku di tangan-Nya, aku lebih suka melihat babi daripada si Umair pada
awal ia muncul di hadapan kami. Tetapi, sekarang aku lebih suka kepadanya
daripada sebagian anakku sendiri.”
Umair duduk merenungi kelapangan agama ini
dan kebesaran Rasulullah. Ia teringat masa-masa silamnya di Mekkah, ketika ia
merencanakan tipu muslihat busuk dan memeragi Islam, tepatnya sebelum
Rasulullah dan shahabat-shahabat beliau hijrah ke Madinah. Ia juga teringat
upaya dan perjuangannya di Perang Badar. Sekarang ia datang dengan
menimang-nimang pedang di tangan hendak membenuh Rasulullah. Semua itu dengan
sekejap mata terhapus oleh ucapan syahadatnya. Betapa pemaaf, suci, serta
percaya diri ajaran yang dibawa oleh agama besar ini.
Beginikah kiranya Islam dalam sekejap saja
bersedia menghapus segala kesalahannya yang lalu, dan orang-orang Islam
melupakan segala dosa dan kejahatan serta permusuhannya pada masa lalu, dan
membukakan hati mereka untuknya, bahkan bersedia merangkulnya?
Beginikah jadinya pedang yang tergenggam
kuat untuk satu niat yang jahat, dan kekejaman, yang kilatannya masih membayang
di muka mereka, semua itu dilupakan, dan sekarang tidak ada yang diingat lagi,
kecuali keislaman Umair, dan dalam waktu sekejap ia telah menjadi salah seorang
dari kaum Muslimin, shahabat Rasul, yang mempunyai hak seperti hak-hak mereka,
dan memikul kewajiban dan tanggung jawab seperti mereka pula?
Beginikan akhirnya, seorang yang hampir
dibunuh oleh Umar bin Al-Khatthab beberapa saat sebelumnya, sekarang berubah
dicintainya melebihi cintanya kepada anaknya sendiri?
Kalau satu detik kejujuran yang membawa
Umair menyatakan keislamannya itu telah membawa keberuntungan bagi Umair dengan
mendapatkan penghargaan, kemuliaan, ganjaran dan penghormatan dari Islam, itu
berarti tidak ada penilaian lain bahwa Islam adalah agama yang besar.
Tidak berapa lama setelah itu, Umair telah
mengetahui kewajibannya terhadap Islam. Ia akan berbakti kepadanya, seimbang
dengan usahanya memeranginya pada masa lampau. Ia akan mengajak orang kepada
Islam setaraf dengan ajakannya memusuhinya di masa silam. Ia akan
memperlihatkan kepada Allah dan Rasul-Nya kejujuran, perjuangan, dan ketaatan
yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Itu ia buktikan dengan datang menghadap
Rasulullah sembari berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku berusaha
memadamkan cahaya Allah, sabgat jahat terhadap orang yang memeluk agama Allah.
Sekarang aku ingin agar engkau mengizinkan pergi ke Mekkah. Aku akan menyeru
mereka kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, serta kepada Islam, semoga mereka
diberi hidayah oleh-Nya. Bila menolak, aku akan menyakiti mereka karena agama
mereka, sebagaimana aku dulu menyakiti shahabat-shahabatmu karena agama yang
diikuti mereka.”
Pada hari-hari sejak Umair meninggalkan
Mekkah menuju Madinah, Shafwan bin Umayyah yang telah menghasut Umair pergi
membunuh Rasulullah, sering mondar-mandir di jalan-jalan Mekkah dengan sombong,
dan ia selalu menumpahkan kegembiraannya yang meluap di setiap tempat
pertemuan. Setiap ia ditanyai oleh orang-orang dan keluarganya apa sebenarnya
di balik kegembiraannya itu, padahal tulang belulang ayahnya masih terjemur di
panas terik matahari padang Badar, ia justru menepukkan kedua telapak tangannya
dengan bangga sambil berkata kepada orang-orang itu, “Bergembirala
kalian! Karena sebentar lagi akan ada satu kejadian yang akan datang beritanya,
yang akan menghapus malu kita di Perang Badar.”
Setiap pagi ia keluar ke dataran tinggi di
pinggiran Mekkah, untuk menanyakan kepada setiap kafilah dan para pengendara
bila ada peristiwa penting yang terjadi di Madinah. Namun, jawaban mereka tidak
ada yang menyenangkan atau membuat hatinya bangga, karena tidak ada seorang pun
yang mendengar atau melihat suatu kejadian penting di Madinah. Namu, Shafwan
tidak berputus asa, bahkan ia tetap sabar menanyai rombongan demi rombongan.
Akhirnya ia mendapati jawaban dari salah
satu rombongan dan Shafwan bertanya kepada mereka, “Bukankah
telah terjadi sesuatu di Madinah?”
Mereka menjawab, “Benar,
telah terjadi kejadian besar.”
Wajah Shafwan berseri-seri, hatinya
benar-benar diliputi oleh kegembiraan dan kebahagiaan. Ia kembali menanyai
orang itu dengan bergegas karena dorongan ingin tahu, “Apa
sebenarnya yang terjadi? Tolong ceritakan kepadaku!”
Orang itu menjawab, “Umair
bin Wahab telah memeluk Islam, ia di sana sedang memperdalam ilmu agama dan
mempelajari Al-Qur’an.”
Bumi ini terasa berguncang bagi Shafwan.
Peristiwa yang diharap-harapkannya akan dapat menggembirakan kaumnya, dan
selalu dinantikannya untuk melupakan kejadian Perang Badar, tiba-tiba saja
berita yang datang kepadanya justru bagai petir yang menyambar dirinya.
Suatu hari, sampailah seorang musafir di
kampung halamannya, Umair telah kembali ke Mekkah, dengan membawa pedangnya dan
siap untuk bertempur. Orang pertama yang menjumpainya ialah Shafwan bin
Umayyah. Saat Shafwan melihatnya, Shafwan bermaksud hendak menyerang. Namun,
melihat pedang yang siaga di tangan Umair, Shafwan mengurungkan maksudnya, dan
hanya puas dengan melontarkan caci maki kepadanya, kemudian membiarkannya
berlalu.
Sekarang, Umair bin Wahab masuk ke Mekkah
sebagai seorang Muslim, sedangkan sewaktu meninggalkannya ia adalah seorang
musyrik. Ia memasuki Mekkah dan dalam ingatannya terbayang sikap Umar bin
Al-Khatthab ketika masuk Islam, yang setelah menyatakan masuk Islam langsung
berteriak, “Demi Allah! Aku tidak akan membiarkan
satu tempat pun yang pernah diduduki dengan kekafiran, melainkan akan ku duduki
lagi dengan keimanan.”
Seolah-olah Umair menjadikan ungkapan itu
sebagai semboyan dan pendirian Umar tersebut sebagai teladan. Ia telah bertekad
bulat hendak menyerahkan hidupnya untuk berbakti kepada Islam, yang sekian lama
diperanginya. Dan ia mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk membalas setiap
kejahatan yang hendak ditimpakan kepadanya.
Demikianlah, ia mengganti dan mengimbangi
apa saja yang telah luput pada masa silamnya, berpacu dengan waktu mengejar
tujuannya. Ia berdakwah menyebarkan agama Islam, baik siang maupun malam,
secara terang-terangan dan terbuka. Keimanan yang telah terhunjam di hatinya,
telah melahirkan rasa tenteram, petunjuk, dan cahaya.
Dari lidah dan ucapannya keluar kalimat
dan kata-kata yang benar, yang digunakannya untuk menyeru orang kepada
keadilan, kebaikan, dan kebajikan. Di tangan kanannya tergenggam teguh
pedangnya yang akan mengecutkan hati setiap penghalang jalan menuju kebaikan,
yakni mereka yang selalu mengganggu orang-orang beriman dan hendak membawa
mereka ke jalan yang bengkok.
Dalam beberapa pekan saja, orang-orang
yang dapat petunjuk masuk Islam melalui perantara usaha Umair bin Wahab
melebihi perkiraan yang melintas dalam angan-angan Umair. Umair pergi membawa
mereka dalam satu barisan yang panjang untuk berhijrah ke Madinah secara
terang-terangan. Padang pasir yang mereka lalui dalam perjalanan itu,
seolah-olah tidak dapat menyembunyikan kekaguman dan keheranan terhadap pria
yang belum lama ini melintasinya dengan pedang terhunus menggerakkan setiap
langkahnya ke Madinah untuk membunuh Rasulullah.
Kemudian lelaki itu pula yang melintasinya
sekali lagi dari Madinah menuju Mekkah, tetapi wajahnya berlainan dengan wajah
semula ketika ia pergi karena sekarang ia membaca Al-Qur’an dari atas punggung
untanya yang ikut gembira. Dan kini, ia juga mengarungi padang pasir yang sama
untuk kali ketiga dengan mengepalai iring-iringan panjang dari orang-orang yang
beriman yang suara tahlil dan takbir mereka bergema memenuhi angkasa.
Ini benar-benar merupakan berita besar,
berita tentang Setan Quraish yang dengan hidayah Allaj telah mengubahnya
menjadi seorang pembela berani mati di antara pembela-pembela Islam lainnya.
Umair yang selalu siaga di samping Rasulullah pada setiap peperangan, setia,
dan berbakti kepada agama Allah itu tetap teguh dan tidak berubah setelah
Rasulullah wafat.
Pada hari pembebasan Mekkah, Umair tidak
ingin melupakan shahabat karibnya Shafwan bin Umayyah. Ia pergi untuk
menyampaikan kepadanya kebaikan Islam dan mengajaknya untuk memeluknya, setelah
ternyata tidak ada lagi kesangsian terhadap kebenaran Rasul dan apa yang
dibawanya. Tetapi, Shafwan telah bersiap-siap dengan kendaraannya menuju Jeddah
untuk berlayar ke Yaman.
Umair merasa kasihan melihat sikap
Shafwan, maka bertekad dengan meyelamatkan shahabatnya itu dari jalan kesesatan
dengan jalan apa pun. Ia pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah, lalu berkata,
“Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan adalah
pemimpin kaumnya, ia hendak pergi melarikan diri mengarungi lautan karena takut
kepada engkau. Berilah jaminan keamanan, semoga Allah melimpahkan karunia-Nya
kepadamu.”
Beliau menjawab, “Dia
aman.”
Umair berkata, “Ya
Rasulullah, berilah aku suatu tanda sebagai bukti keamanan darimu.”
Rasulullah pun memberikan sorban yang
dipakainya sewaktu memasuki Mekkah.
Sekarang, mari kita serahkan kepada Urwah
bin Az-Zubair untuk menceritakan kejadian itu selengkapnya:
“Umair pergi
dengan sorban itu dan berhasil mendapatkan Shafwan yang ketika itu sudah hendak
berlayar. Ia berteriak kepadanya, ‘Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu!
Ingatlah kepada Allah, janganlah engkau berputus asa. Inilah tanda keamanan
dari Rasulullah yang sengaja aku bawa untukmu.’
Shafwan menjawab, ‘Celaka engkau, enyahlah dariku, dan jangan berbicara
kepadaku!’
Umair berkata, ‘Benar Shafwan, jaminanmu ayah dan ibuku. Sesungguhnya
Rasulullah itu adalah manusia yang paling utama, paling banyak kebajikannya, paling
penyantun, dan paling baik. Kemuliaannya adalah kemuliaanmu, dan kehormatannya
adalah kehormatanmu.’
‘Aku khawatir terhadap keselamatan diriku,’ kata Shafwan menyahut.
‘Beliau orang yang paling penyantun dan paling mulia, lebih dari apa yang
engkau duga!’ kata Umair.
Akhirnya Shafwan bersedia ikut kembali. Mereka berdua berdiri di hadapan
Rasulullah, lalu Shafwan berkata, ‘Orang ini mengatakan bahwa engkau telah
memberiku jaminan keamanan.’
‘Benar,’ jawab Rasulullah.
‘Berilah aku kesempatan memilih selama dua bulan.’
‘Engkau diberi kebebasan memilih selama empat bulan’.”
Pada akhirnya Shafwan masuk Islam. Tidak terkira bahagianua Umair dengan
keislaman Shafwan shahabatnya itu. Umair bin Wahab melanjutkan perjalanan
hidupnya yang penuh berkah menuju Allah, mengikuti jejak Rasul yang diutus
Allah kepada umat manusia untuk melepaskan mereka dari kesesatan dan
mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
0 komentar:
Posting Komentar