بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Ketika berkas cahaya mulai merayap ke
setiap penjuru Mekkah secara diam-diam, membisikkan bahwa Muhammad Al-Amin
memberitakan wahyu yang datang kepadanya di gua Hira, dan tentang risalahnya
yang diterimanya dari Allah untuk disampaikan kepada hamba-hamba-Nya, hati
Khalid dapat menangkap cahaya yang berbisik itu dan mengakui kebenarannya.
Jiwanya terbang oleh kegembiraan,
seolah-olah antara dia dan risalah itu sudah ada janji sebelumnya. Ia mulai
mengikuti berkas cahaya itu dalam segala liku-likunya. Setiap kali mendengarkan
sejumlah orang dari kaumnya memperbincangkan agama baru itu, ia pun ikut duduk
bersama mereka dan memasang telinga sebaik-baiknya disertai perasaan suka cita
yang dipendam. Dari waktu ke waktu ia seolah-olah dipompa dengan kata-kata atau
kalimat-kalimat mengenai peristiwa itu, yang mendorongnya untuk menyebarkan
beritanya, mempengaruhi orang lain, dan mengajari mereka.
Orang-orang yang memandang Khalid ketika
itu sebagai seorang pemuda yang berkarakter tenang, cerdas, dan tidak suka
banyak bicara. Tetapi, sebenarnya di dalam lubuk hatinya ada gerakan dan
kegembiraan yang menggelora. Batinnya menyimpan gendang yang ditabuh,
panji-panji yang dinaikkan, terompet yang ditiup, doa-doa yang dipanjatkan,
serta pujian-pujian yang menyucikan Rabbnya. Pesta dengan segala keindahannya,
dengan semua kemegahan, luapan semangat, dan euphoria kegembiraan bercampur
satu dalam hatinya.
Pemuda ini menyimpan kegembiraan ini di
dalam dadanya dan ditutupnya rapat-rapat, karena bila ayahnya mengetahui bahwa
batinnya sedang menyimpan semua gelora dan gejolak ketertarikan terhadap dakwah
Muhammad, niscaya hidupnya akan dibinasakan dan dikorbankan untuk tuhan-tuhan
pujaan keturunan Abdi Manaf. Tetapi, kesadaran batin seseorang bila penuh sesak
dengan suatu masalah, dan meluap sampai ke permukaan, luapannya tidak akan
dapat terbendung lagi.
Suatu hari, di mana matahari belum terbit
saat Khalid yang sedang tidur, ia terbangun oleh mimpi yang membuat hati
gelisah dan jiwa resah. Jadi, kita katakan suatu malam Khalid bin Sa’id
bermimpi bahwa ia berdiri di bibir nyala api yang besar, sedangkan ayahnya
hendak mendorongnya dari belakang dengan kedua tangannya ke arah api itu, bahkan
ayahnya hendak melemparkan ke dalamnya. Kemudian Khalid melihat Rasulullah
datang ke arahnya, lalu menariknya dengan tangan kanannya yang penuh berkah
hingga terhindar dari jilatan api.
Ia terbangun dari tidurnya dengan
memperoleh bekal untuk berjuang menghadapi masa depannya. Ia segera pergi ke
rumah Abu Bakar dan menceritakan mimpinya itu. Mimpi itu sebenarnya tidak perlu
penafsiran lagi. Abu Bakar berkata kepadanya, “Hanya
kebaikan yang kuinginkan padamu. Dialah Rasulullah. Ikutilah dia, karena Islam
akan menyelamatkanmu dari api neraka.”
Khalid bergegas pergi untuk mencari
Rasulullah sampai mendapatkan petunjuk ke tempat beliau, dan berhasil menjumpai
beliau. Ia bertanya kepada Nabi tentang dakwah beliau. Beliau pun menjawab, “Berimanlah
kepada Allah Yang Maha Esa, dan jangan menyekutukan-Nya dengan suatu pun.
Berimanlah kepada Muhammad, hamba dan utusan-Nya. Tinggalkanlah penyembahan
berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak dapat
memberikan mudarat dan tidak pula memberikan manfaat.”
Khalid lalu mengulurkan tangannya yang
disambut oleh tangan kanan Rasulullah dengan penuh kehangatan. Khalid
mengucapkan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan
selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Dengan demikian, terlepas sudah gejolak
dan kegundahan hatinya. Semua gejolak dalam batinnya kini telah lepas. Berita
keislamannya pun terdengar oleh telinga ayahnya.
Pada waktu Khalid memeluk Islam, belum
ada orang yang mendahuluinya masuk itu kecuali empat atau lima orang, sehingga
bisa dikatakan ia termasuk dalam lima orang angkatan pertama pemeluk agama
Islam. Ketika salah seorang putra Sa’id bin Al-Ash menjadi orang yang bersegera
menyambut seruan Islam, peristiwa ini bagi Sa’id yang merupakan ayah Khalid
merupakan ulah yang akan menghantarkannya kepada penghinaan dan ejekan bangsa
Quraish, dan akan mengguncangkan kedudukannya sebagai pemimpin.
Karena itu, ia memanggil Khalid dan
menanyakan kepadanya, “Benarkah engkau telah mengikuti
Muhammad dan membiarkannya mencaci tuhan-tuhan kami?”
Khalid menjawab, “Demi
Allah, ia seorang yang benar, dan aku telah beriman kepadanya dan mengikutinya.”
Seketika itu juga, ayahnya memukulinya,
kemudian mengurungnya di dalam kamar gelap di rumahnya, lalu membiarkannya
dalam kurungan itu menderita lapar dan dahaga. Khalid berteriak keras dari
balik pintu yang terkunci agar keluarganya mendengar, “Demi
Allah, dia benar dan aku beriman kepadanya.”
Sa’id berpikir bahwa siksa yang ditimpakan
kepada anaknya itu belum cukup membuatnya jera. Karena itu, ia membawa anaknya
ke padang pasir Mekkah yang sangat panas, lalu menjepit tubuhnya di antara
batu-batu yang besar dan panas membakar selama tiga hari, tanpa perlindungan
apa pun dari terik matahari, bahkan setetes air pun yang membasahi bibirnya.
Namun, sang ayah akhirnya merasa putus asa
oleh ketabahan hati anaknya, sehingga ia pun membawanya pulang ke rumah.
Tetapi, ia tetap berusaha menyadarkan anaknya itu dengan berbagai cara, baik
dengan membujuk, mengancam, memberi janji kesenangan, maupun menakut-nakutinya
dengan siksaan. Tetapi, Khalid tetap berpegang teguh kepada kebenaran. Ia
berkata kepada ayahnya, “Aku tidak akan meninggalkan Islam
karena alasan apapun, aku akan hidup dan mati bersamanya.”
Sa’id pun membentak keras, “Kalau begitu, enyahlah engkau dari
hadapanku, anak kurang ajar! Demi Latta, aku tidak akan pernah memberimu makan
lagi.”
Khalid hanya bisa menjawab, “Allah
adalah sebaik-baik pemberi rezeki.”
Khalid akhirnya meninggalkan rumah yang
penuh dengan segala kemewahan makanan, pakaian dan kenyamanan itu, untuk
memasuki keadaan yang serba kurang dan penuh dengan rintangan. Tetapi, apa yang
harus ditakutkan? Bukankah keimanan masih bersama dengannya? Bukankah ia selalu
terlindungi oleh kepemimpinan hati nuraninya dengan segala haknya untuk
menentukan nasib dirinya? Bila demikian, apa artinya lapar, rintangan, dan
siksaan?
Bila orang telah menemukan dirinya berada
bersama kebenaran agung seperti kebenaran yang diserukan oleh Muhammad utusan
Allah, apakah masih ada yang tersisa di dunia ini barang berharga yang belum
dimilikinya, sedangkan semuanya itu Allah yang memiliki dan memberikannya?
Demikianlah, Khalid melalui bermacam derita pengorbanan dan mengatasi segala
halangan dengan keimanan.
Ketika Rasulullah memerintahkan para
shahabatnya yang telah beriman agar melakukan hijrah yang kedua ke Habasyah,
Khalid termasuk salah seorang anggota rombongan. Ia berdiam di sana beberapa
lama, kemudian sambil bersama rekan-rekannya ke kampung halaman pada tahun yang
ketujuh. Mereka mendapati kaum Muslimin telah menyelesaikan rencana mereka
membebaskan Khaibar.
Khalid bermukim di Madinah, di
tengah-tengah masyarakat Muslim yang baru, di mana ia merupakan satu di antara
lima orang yang pertama mengakui kelahiran Islam dan ikut membina bangunannya.
Setiap Nabi berperang ataupun dalam peperangan lain, Khalid bin Sa’id selalu
berada dalam barisan pertama. Karena kepeloporannya dalam Islam ini seta
keteguhan hati dan kesetiaannya, ia menjadi tumpuan kasih sayang dan
penghormatan. Ia memegang teguh prinsip dan pendiriannya, dan tidak ingin
menodai atau menjadikannya sebagai barang dagangan.
Sebelum Rasulullah wafat, beliau
mengangkatnya sebagai pemimpin di Yaman. Ketika ia mendengar berita
pengangkatan dan pengukuhan Abu Bakar menjadi Khalifah, ia meninggalkan
jabatannya dan kembali ke Madinah. Ia benar-benar mengenali kelebihan Abu Bakar
yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun. Hanya saja, ia melihat bahwa yang
paling berhak menjadi Khalifah di antara kaum Muslimin adalah seorang dari
keturunan Hasyim, misalnya Abbas atau Ali bin Abu Thalib.
Ia telah mantap dengan pendiriannya,
sehingga tidak berbaiat kepada Abu Bakar. Namun, Abu Bakar tetap mencintai dan
menghargainya. Ia tidak memaksanya untuk membaiat dirinya dan juga tidak
membencinya karena tidak mau berbaiat. Setiap disebutkan namanya di kalangan
kaum Muslimin, Khalifah besar itu tetap menghargai dan memujinya, suatu hal
yang memang menjadi hak dan miliknya.
Namun, kemudian kemantapan hati Khalid bin
Sa’id ini berubah. Suatu hari ia tiba-tiba saja menerobos barisan kaum Muslimin
di masjid, manuju ke arah Abu Bakar yang
sedang berada di atas mimbar, dan selanjutnya Khalid membaiat-nya dengan
ketulusan dan kepercayaan.
Abu Bakar memberangkatkan pasukannya ke
Syria, dan menyerahkan panji perang kepada Khalid bin Sa’id, sehingga ia
menjadi salah seorang komandan pasukan. Tetapi, sebelum tentara itu
meninggalkan Madinah, Umar menentang pengangkatan Khalid bin Sa’id, dan
menyampaikan usulan kepada Khalifah dengan gigih, sehingga akhirnya Abu Bakar
mengubah keputusannya tentang pengangkatan Khalid.
Berita itu pun terdengar oleh Khalid,
namun ia menanggapi dengan ungkapan, “Demi Allah,
pengangkatan kalian tidaklah menggembirakan diri kami dan pencopotan kalian
bukanlah keburukan bagi kami.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq meringankan
langkahnya ke rumah Khalid untuk meminta maaf kepadanya dan menjelaskan
pendiriannya yang baru. Ia juga menanyakan kepadanya, ia akan bergabung kepada
komandan perang yang mana, apakah Amr bin Al-Ash yang merupakan keponakannya
sendiri atau kepada Syurahbil bin Hasanah. Khalid pun memberikan jawaban yang
menunjukkan kebesaran jiwa dan ketakwaannya. Ia berkata, “Keponakanku
lebih aku sukai karena ia kerabatku, tetapi Syurahbil lebih aku cintai karena
agamanya.” Kemudian ia
memilih untuk menjadi prajurit biasa dalam kesatuan Syurahbil bin Hasanah.
Sebelum pasukan bergerak maju, Abu Bakar
meminta Syurahbil menghadap kepadanya. Abu Bakar berkata kepadanya, “Perhatikanlah
Khalid bin Sa’id. Berikanlah haknya yang mesti engkau tunaikan, sebagaimana
engkau ingin mendapatkan apa yang menjadi hakmu yang harus ditunaikan-nya.
Seandainya engkau berada dalam posisinya, dan ia berada di posisimu, engkau
pasti tahu kedudukannya dalam Islam.
Engkau juga tahu bahwa ketika Rasulullah wafat, ia adalah salah seorang
dari gubernurnya. Sebenarnya aku pun telah mengangkatnya sebagai panglima,
tetapi kemudian aku berubah pendirian. Semoga itulah yang terbaik baginya dalam
agamanya, karena aku tidak pernah iri hati kepada seseorang dengan
kepemimpinan.
Aku juga telah memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih di antara
pemimpin-pemimpin pasukan siapa yang disukainya untuk menjadi atasannya, maka
ia lebih menyukaimu daripada keponakannya sendiri. Bila engkau menghadapi suatu
persoalan yang membutuhkan nasihat dan buah pikiran orang yang bertakwa dan
penasihat, hendaknya orang pertama yang engkau dekati adalah Abu Ubaidah bin
Al-Jarrah, lalu Mu’adz bin Jabal, dan hendaknya Khalid bin Sa’id sebagai orang
ketiga. Dengan demikian, engkau akan mendapatkan nasihat dan kebaikan. Jauhilah
dari sikap mementingkan pendapat diri sendiri dengan mengabaikan mereka atau
menyembunyikan sesuatu dari mereka.”
Di medan Pertempuran Maraj Ash-Shafar di
daerah Syam yang terjadi dengan dahsyatnya antara kaum Muslimin dan orang-orang
Romawi, di antara orang-orang yang pertama yang telah disediakan pahala mereka
di sisi Allah, terdapat seorang yang gugur syahid mulia. Jalan hidupnya sejak
masa remaja hingga gugur syahid telah dijalani dengan kejujuran, keimanan, dan
keberanian. Kaum Muslimin menemukannya saat mereka sedang mengidentifikasi para
syuhada di medan pertempuran, dalam keadaan yang menang selalu melekat padanya;
tenang, pendiam, dan teguh pendirian. Mereka mengucapkan, “Ya
Allah, ridhailah Khalid bin Sa’id.”
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
0 komentar:
Posting Komentar