بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Pada tahun kedatangan para utusan dari
berbagai penjuru, utusan Bani Tamim pun tidak ketinggalan datang ke Madinah dan
mengatakan kepada Rasulullah, “Kami datang untuk menunjukkan
kebanggaan kami kepadamu, maka izinkanlah kepada penyair dan juru bicara kami
untuk menyampaikannya.”
Rasulullah tersenyum, lalu bersabda, “Aku telah mengizinkan juru bicara kalian, silakan ia berbicara.”
Juru bicara mereka, Utharid bin Hajib
berdiri dan mulai membangga-banggakan kelebihan kaumnya. Ketika pernyataannya
telah selesai, Nabi bersabda kepada Tsabit bin Qais, “Berdirilah
dan jawablah.”
Tsabit pun bangkit lalu berbicara, “Alhamdulillah.
Segala yang ada di langit dan di bumi adalah ciptaan-Nya, da titah-Nya telah
berlaku padanya. Ilmu-Nya meliputi kerajaan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang
terjadi kecuali dengan karunia-Nya. Kemudian dengan kehendak-Nya, Dia
menjadikan kami sebagai imam dan memilih dari makhluk-Nya yang terbaik seorang
utusan, yang paling mulia keturunannya, paling benar kata-katanya, dan paling
utama kedudukannya. Kitab-Nya diturunkan kepadanya dan dipercayakan kepadanya
di atas makhluk-Nya. Itu berarti ia adalah pilihan Allah dari yang ada di alam
ini.
Kemudian ia menyeru kepada manusia agar beriman kepada-Nya, sehingga
orang-orang muhajirin dari kalangan kaum dan kerabatnya pun beriman. Mereka
adalah orang-orang yang termulia keturunannya, dan yang paling baik amal
perbuatannya. Setelah itu, kami orang-orang Anshar adalah yang pertama
menyambut seruannya. Kami adalah pembela agama Allah dan pendukung Rasul-Nya.”
Tsabit ikut bergabung dalam Perang Uhud
bersama Rasulullah dan peperangan-peperangan penting sesudah itu.
Pengorbanannya menakjubkan, bahkan sangat menakjubkan. Dalam setiap peperangan
menumpas orang-orang murtad, ia selalu berada di barisan terdepan, membawa
bendera Anshar, dan menebaskan pedangnya yang tidak pernah tumpul dan tidak
pernah berhenti.
Di Perang Yamamah yang telah beberapa kali
penulis bicarakan, Tsabit melihat terjadinya serangan mendadak yang dilancarkan
oleh tentara Musailamah Al-Kadzab terhadap kaum Muslimin pada awal pertempuran.
Karena itu, ia berteriak dengan suaranya yang keras memberikan peringatan, “Demi
Allah, bukan begini caranya kami berperang bersama Rasulullah.”
Kemudian ia pergi ke tempat yang tidak
terlalu jauh, dan beberapa saat kemudian ia kembali dalam kondisi badan
layaknya mumi dan memakai kain kafan, lalu berteriak lagi, “Ya
Allah, sesungguhnya aku berlepas diri dari-Mu dari apa yang dibawa oleh mereka
(yakni tentara Musailamah). Dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang
dilakukan oleh mereka (yakni kaum Muslimin yang kendur semangatnya dalam
peperangan).”
Saat itu juga, Salim (mantan budak
Rasulullah), bergabung dengannya. Ia adalah pembawa bendera kaum muhajirin. Keduanya
menggali lubang yang dalam untuk mereka berdua. Kemudian mereka masuk dan
berdiri di dalamnya, lalu menimbun badan dengan pasir sampai menutupi setengah
badan. Demikianlah mereka berdiri layaknya dua tonggak yang kokoh.
Setengah badan mereka terbenam dalam pasir
dan terpaku di dasar lubang, sedangkan setengah bagian atas dadanya, kening dan
kedua lengan mereka siap menghadapi tentara penyembah berhala dan para
pendusta. Mereka berdua senantiasa memukulkan pedang terhadap setiap tentara
Musailamah yang mendekat, sampai akhirnya mereka berdua gugur syahid di tempat
itu, dan sinar surya yang ada di dalam tubuh mereka ini telah tenggelam.
Peristiwa syahidnya kedua pahlawan
tersebut bagaikan pekikan dahsyat yang menghimbau kaum Muslimin agar segera
kembali kepada kedudukan mereka hingga akhirnya mereka berhasil menghancurkan
tentara Musailamah. Mereka tersungkur menutupi tanah bekas mereka berpijak.
Tsabit bin Qais yang unggul sebagai orator
dan tiada tanding sebagai prajurit itu memiliki jiwa yang ingin kembali kepada
Allah dan hati yang khusyuk dan tenteram. Ia merupakan sosok Muslim yang paling
takut dan malu kepada Allah, ketika turun ayat yang mulia:
وَلَا تُصَعِّرْ
خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ
كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
QS:Luqman | Ayat: 18
QS:Luqman | Ayat: 18
Tsabit menutup pintu rumahnya dan duduk menangis. Ia tetap dalam keadaan
seperti itu dalam beberapa lama, hingga beritanya sampai kepada Rasulullah.
Akhirnya beliau memanggil dan menanyainya. Tsabit menjawab, “Wahai
Rasulullah, aku ini menyukai pakaian yang indah dan alas kaki yang bagus. Aku
takut bila karena itu aku menjadi orang yang congkak dan sombong.”
Nabi menanggapi jawabannya itu dengan tertawa tenang, “Engkau
tidak termasuk ke dalam golongan mereka. Sebaliknya, engkau hidup dalam kebaikan,
mati dalam kebaikan, dan engkau akan masuk surga.”
Ketika turun firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا
تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ
أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan
suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara
yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain,
supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.
QS:Al-Hujuraat | Ayat: 2
QS:Al-Hujuraat | Ayat: 2
Tsabit menutup pintu rumahnya dan terus menangis. Beliau mencarinya dan
tidak menemukannya dan kemudian mengutus seseorang agar memanggilnya dan ia pun
datang menemui beliau. Beliau menanyakan sebab ketidakhadirannya di masyarakat.
Tsabit menjawab, “Aku ini orang bersuara keras dan
pernah meninggikan suaraku lebih tinggi dari suaramu, wahai Rasulullah. Ini
berari, amalku menjadi gugur dan aku termasuk penduduk neraka.”
Rasulullah menanggapinya, “Engkau tidaklah termasuk salah seorang
di antara mereka, bahkan engkau hidup terpuji. Engkau akan berperang hingga
gugur syahid, dan Allah akan memasukkanmu ke dalam surga!”
Masih ada satu peristiwa dalam kisah Tsabit ini, yang kadang-kadang
tidak membuat nyaman orang-orang yang orientasi pikiran, perasaan, dan mimpi
mereka hanya terfokus kepada dunia materi yang sempit, yang bisa mereka sentuh,
lihat, dan cium. Meski demikian, peristiwa itu benar-benar terjadi dan bisa
diinterpretasikan secara nyata dan mudah bagi setiap orang yang mampu
menggunakan mata batin, di samping mempergunakan mata lahir.
Setelah Tsabit menemui kesyahidan di medan pertempuran, seseorang yang
baru saja masuk Islam melintasi di dekatnya dan melihat pada tubuh Tsabit masih
ada baju besinya yang berharga. Menurut dugaannya, ia berhak mengambilnya untuk
dirinya. Dan ia pun mengambilnya. Mari kita serahkan saja kepada perawi kisah
tersebut agar menceritakannya kepada kita:
“saat seorang lelaki sedang tidur nyenyak, ia
bermimpi didatangi Tsabit di dalam tidurnya dan berkata kepadanya, ‘Aku hendak mewasiatkan kepadamu satu wasiat, tetapi jangan
sampai engkau mengatakan bahwa ini hanya mimpi lalu kamu sia-siakan. Ketika aku
gugur syahid, seorang Muslim melintas di dekatku, lalu mengambil baju besiku.
Rumahnya sangat jauh dan kudanya selalu dalam ikatan tali kekangnya. Baju besi
itu disimpan dan ditutupi sebuah periuk besar, dan periuk itu ditutupi pelana
unta. Temuilah Khalid dan mintalah agar mengirimkan orang untuk mengambilnya.
Dan bila engkau telah sampai di Madinah dan menghadap Khalifah Abu Bakar,
katakanlah kepadanya bahwa aku mempunyai utang sekian banyaknya, dan aku
berharap ia bersedia membayarnya’.”
Ketika lelaki itu terbangun dari tidurnya, ia menghadap kepada Khalid
bin Al-Walid, lalu menceritakan mimpinya. Khalid pun mengutus seseorang untuk
mencari dan mengambil baju besi itu, dan orang tersebut mampu menemukannya di
tempat yang sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Tsabit.
Setelah kaum Muslimin kembali pulang ke Madinah, orang tersebut
menceritakan mimpinya kepada Khalifah, beliau pun melaksanakan wasiat Tsabit.
Satu-satunya wasiat dari seseorang yang telah meninggal ialah wasiatnya Tsabit
bin Qais yang terlaksana dengan sempurna. Ternyata benar bahwa manusia itu
memiliki rahasia yang besar. Allah berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ
الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ
رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan
Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.
QS:Ali Imran | Ayat: 169
QS:Ali Imran | Ayat: 169
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
0 komentar:
Posting Komentar