بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Ia diberi gelar Al-Atiq dan diberi nama
keluarga Abu Bakar. Kemudian ia lebih dikenal dengan sebutan Ash-Shiddiq. Pada
masa Jahiliyah ia termasuk salah seorang penasehat dan sangat terpandang di
kalangan kaum Quraisy. Ia adalah orang yang paling mengerti tentang silsilah
keturunan Quraisy. Di samping itu ia dikenal pulasebagai seorang pedagang yang
sering mengadakan perjalanan ke berbagai pelosok daerah. Selain itu, di masa
jahiliyah ia adalah orang yang sangat membenci minuman keras. Bahkan ia tidak
pernah menyembah dan bersujud kepada sebuah berhala. Ia adalah sahabat
Rasulullah di masa Jahiliyah dan orang yang pertama kali memeluk Islam dari
kalangan orang tua. Dalam Islam, ia dianggap sebagai orang kedua setelah
Rasulullah.
Ia adalah lelaki yang pertama kali
memenuhi seruan Rasulullah untuk memeluk Islam tanpa sedikitpun meragukan
kebenaran risalah yang dibawa oleh beliau. Sehingga keimanannya yang mantap
terhadap risalah yang dibawa oleh Rasulullah itu menjadikan dirinya mendapatkan
gelar tertinggi setelah para nabu, yaitu Ash-Shiddiq.
Allah berfirman:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ
وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ
النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ
أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka
itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,
yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
QS:An-Nisaa | Ayat: 69
QS:An-Nisaa | Ayat: 69
Setelah dirinya memeluk Islam, Abu Bakar
adalah seorang sahabat yang setia menemani Rasulullah hingga beliau wafat. Ia
hijrah bersama Rasulullah ke Madinah dan ia pula yang menemani Rasulullah
singgah di dalam gua untuk berteduh dan berlindung dari kejaran kaum kafir
Quraisy dalam perjalanan hijrahnya.
Allah berfirman:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ
فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ
إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ
مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ
تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ
هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya
Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah)
mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika
keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah
kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan
keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak
melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan
kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
QS:At-Taubah | Ayat: 40
QS:At-Taubah | Ayat: 40
Abu Bakar selalu terlibat dalam berbagai
peristiwa bersejarah, khususnya peperangan yang dialami oleh Rasulullah. Ia
adalah orang yang tidak pernah lari dalam peperangan dan tetap kokoh berjuang
ketika banyak pasukan melarikan diri pada saat Perang Uhud dan Perang Hunain.
Abu Bakar dikenal sebagai salah seorang pemberani yang selalu tampil gagah
perkasa di setiap medan peperangan. Ia tidak pernah bergeser dari posisinya
agar selalu berada di posisi Rasulullah, untuk membela dan melindunginya. Abu
Bakar dikenal pula sebagai seorang dermawan yang menginfakkan sebagian besar
hartanya untuk berjihad di jalan Allah.
Dan ialah yang dimaksud dalam firman
Allah:
وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى
Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka
itu,
QS:Al-Lail | Ayat: 17
QS:Al-Lail | Ayat: 17
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ
يَتَزَكَّىٰ
yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk
membersihkannya,
QS:Al-Lail | Ayat: 18
QS:Al-Lail | Ayat: 18
rasulullah bersabda:
“Tidak
ada harta yang lebih bermanfaat bagiku, selain dari hartanya Abu Bakar.”
Pada saat Perang Tabuk, Abu Bakar
menginfakkan semua hartanya sebagai bekal pasukan Muslimin, saat beliau
memegang tampuk pimpinan. Banyak sahabat yang masuk Islam karena perantara dakwahnya,
di antaranya adalah: Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Al-Awwam, dan Abdurrahman
bin Auf. Dan ia pun banyak membeli sejumlah budak yang mendapatkan siksaan
keras dari tuannya ia memerdekakan budak yang dibelinya, di antaranya adalah:
Bilal bin Rabah, Amir bin Fuhairah, Zanirah, dan lainnya.
Rasulullah mengutusnya sebagai ketua
rombongan haji pada tahun 9 H. Tatkala Rasulullah ditimpa sakit menjelang
wafatnya, beliau bersabda:
“Suruhlah Abu
Bakar untuk menjadi imam shalat bagi orang-orang.”
Keislaman Abu Bakar telah menjadikannya
sebagai orang yang terbaik dari umat ini setelah Rasulullah. Hal ini
sebagaimana diungkapkan oleh Ali bin Abu Thalib, “Sebaik-baik
umat ini setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, dan sebaik-baik umat ini setelah Abu
Bakar adalah Umar.” (HR.
Ahmad)
Keislamannya banyak membawa manfaat besar
bagi Islam dan kaum Muslimin, karena setelah ia masuk Islam ia mulai
menyampaikan dakwahnya kepada orang lain. Dengan keislaman dan kegigihannya
dalam berdakwah, akhirnya Allah membukakan hati orang-orang yang ia dakwahi
untuk menerima kebenaran Islam.
Di samping itu, ia juga banyak membebaskan
budak-budak yang disiksa karena masuk Islam seperti Bilal bin Rabah dan Amir
bin Fuhairah. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak,
“Dari Aisyah bahwa beliau berkata, ‘Abu
Bakar telah memerdekakan tujuh orang budak yang disiksa di jalan Allah; di
antaranya yang beliau merdekakan adalah Bilal bin Rabah dan Amir bin Fuhairah’.”
Bilal bin Rabah, ialah salah satu dari sekian banyak budak yang disiksa
oleh Umayah bin Khalaf. Ia disiksa dengan berbagai macam bentuk penyiksaan.
Suatu hari ia direbahkan di atas padang pasir yang panas lalu Umayah meletakkan
batu besar yang panas di atas perutnya. Kemudian Umayah berkata, “Demi
Allah, engkau akan tetap terus begini sampai mati atau engkau mengingkari
Muhammad dan menyembah Latta dan Uzza.”
Kemudian Abu Bakar pun menghampirinya kemudian ia membeli Bilal dari
tuannya dan memerdekakan Bilal karena Allah.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair bahwa ia berkata, “Abu
Bakar Ash-Shiddiq banyak memerdekakan budak yang masuk Islam di Mekkah. Beliau
juga memerdekakan budak-budak wanita yang masuk Islam. Lalu ayahnya berkata, ‘Wahai anakku, aku lihat engkau memerdekakan orang-orang yang
lemah. Mengapa engkau tidak memerdekakan seorang lelaki yang kuat sehingga
mereka bisa membantu dan membelamu?’ Abu Bakar pun menjawab, ‘Wahai ayahku, aku menginginkan apa yang di sisi Allah’.”
Di samping itu Abu Bakar juga memberikan banyak tunjangan dan bantuan
kepada orang-orang yang lemah dan miskin. Di antara yang mendapatkan
tunjangannya itu ialah Misthah bin Utsatsah. Ketika terjadi peristiwa Hadits
Al-Ifki atau kabar bohong yang mencemarkan
nama baik putrinya, Aisyah, ia ikut dalam penyebaran berita bohong itu. Abu
Bakar bersumpah akan memutuskan tunjangannya kepada Misthah karena keterlibatannya
itu. Kemudian turunlah wahyu yang membersihkan nama Aisyah dari tuduhan yang
keji tersebut, yaitu:
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا
بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ
خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ
وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu
adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu
buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari
mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara
mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu
baginya azab yang besar.
QS:An-Nuur | Ayat: 11
QS:An-Nuur | Ayat: 11
لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ
الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ
مُبِينٌ
Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu
orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka
sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang
nyata".
QS:An-Nuur | Ayat: 12
QS:An-Nuur | Ayat: 12
لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ
بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ ۚ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَٰئِكَ
عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ
Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat
orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan
saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.
QS:An-Nuur | Ayat: 13
QS:An-Nuur | Ayat: 13
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا
أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu
semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena
pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.
QS:An-Nuur | Ayat: 14
QS:An-Nuur | Ayat: 14
إِذْ تَلَقَّوْنَهُ
بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ
وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari
mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui
sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada
sisi Allah adalah besar.
QS:An-Nuur | Ayat: 15
QS:An-Nuur | Ayat: 15
وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ
قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ
عَظِيمٌ
Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita
bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha
Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar".
QS:An-Nuur | Ayat: 16
QS:An-Nuur | Ayat: 16
يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا
لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat
yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.
QS:An-Nuur | Ayat: 17
QS:An-Nuur | Ayat: 17
وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ
الْآيَاتِ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
QS:An-Nuur | Ayat: 18
QS:An-Nuur | Ayat: 18
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ
تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan
yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka
azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu
tidak mengetahui.
QS:An-Nuur | Ayat: 19
QS:An-Nuur | Ayat: 19
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya
kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu
akan ditimpa azab yang besar).
QS:An-Nuur | Ayat: 20
QS:An-Nuur | Ayat: 20
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ
الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ
اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا
وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan,
maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang
mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu
sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan
keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
QS:An-Nuur | Ayat: 21
QS:An-Nuur | Ayat: 21
Setelah jelas kesucian dari Aisyah dan
orang-orang yang terlibat dalam penyebaran berita bohong itu telah dicambuk 80
kali termasuk Misthah, maka Allah menegur Abu Bakar atas sumpahnya itu dengan
menurunkan firman-Nya:
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو
الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ
وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا
تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan
kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan)
kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang
berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah
kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang,
QS:An-Nuur | Ayat: 22
QS:An-Nuur | Ayat: 22
Mendengar turunnya ayat tersebut, Abu
Bakar langsung berkata, “Tentu demi Allah, aku ingin agar Allah
mengampuniku.” Lalu beliau pun
menyalurkan kembali nafkah yang selama ini biasa ia berikan kepada Misthah
seraya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memutuskan
nafkah tersebut untuk selama-lamanya.”
Betapa pemurahnya Abu Bakar Ash-Shiddiq,
beliau tetap memberikan bantuannya hingga kepada orang yang pernah menyakitinya
sekalipun.
Abu Bakar memiliki banyak sekali keutamaan
dan kebaikan. Di antara keutamaan-keutamaannya adalah:
1. Paling berjasa dalam membela dakwah Rasulullah.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling berjasa
kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh
menjadikan kekasih sejati selain Tuhanku, maka aku akan menjadikan Abu Bakar
sebagai kekasih. Akan tetapi hubunganku dengannya hanyalah sebagai saudara
seiman dan kecintaan kepadanya. Tidaklah terdapat pintu masjid kecuali ditutup,
kecuali pintu Abu Bakar.” (HR.
Al-Bukhari)
Dari Amr bin Al-Ash bahwa Rasulullah
mengutusnya untuk memimpin pasukan dalam Perang Dzatus Salasil, lalu aku
mendatangi beliau dan bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah
orang yang paling engkau cintai?”,
maka beliau menjawab, “Aisyah.” Aku bertanya lagi, “Dari
kalangan lelaki?” Lalu
beliau menjawab, “Bapaknya (Abu Bakar)”, Lalu aku bertanya lagi, “Kemudian
siapa lagi?” beliau bersabda,
“Kemudian Umar bin Al-Khattab.” Dan kemudian beliau menyahut beberapa orang
lagi. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
3. Selalu terdepan dalam setiap kebaikan.
Umar bin Al-Khattab berkata, “Pada
suatu hari, Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk bershadaqah, dan saat
itu kebetulan saya memiliki sejumlah harta. Lalu saya bergumam, ‘Hari ini saya akan mendahului Abu Bakar, kalau suatu hari
saya mampu mendahuluinya. Akhirnya saya mendatangi Rasulullah dengan membawa separuh
hartaku.’ Maka Rasulullah bertanya kepada saya, ‘Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Saya pun menjawab, ‘Separuhnya lagi.’ Lalu datanglah Abu Bakar dengan
membawa semua yang ia miliki, dan berkatalah Rasulullah kepadanya, ‘Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Maka ia
menjawab, ‘Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan
Rasul-Nya.’ Saya pun berkata, ‘Aku tidak akan
pernah bisa mendahuluimu dalam hal apapun’.” (HR. Abu Dawud dihasankan Al-Albani)
Dari riwayat tersebut para ulama tafsir
menyatakan bahwa yang dimaksud dalam firman Allah berikut ini adalah dirinya,
yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq:
وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى
Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka
itu,
QS:Al-Lail | Ayat: 17
QS:Al-Lail | Ayat: 17
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ
yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk
membersihkannya,
QS:Al-Lail | Ayat: 18
QS:Al-Lail | Ayat: 18
4. Sahabat yang dijuluki oleh Rasulullah sebagai Ash-Shiddiq yaitu orang yang paling jujur lagi terpercaya.
Dari Qatadah, bahwa Anas bin Malik
menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah menaiki gunung Uhud bersama Abu
Bakar, Umar, dan Utsman, saat itu tiba-tiba gunung Uhud berguncang, maka beliau
bersabda, “Tenanglah Uhud, karena sesungguhnya yang
berada di atasmu adalah seorang Nabi, Shiddiq, dan dua orang yang syahid.” (HR. Al-Bukhari)
5. Sahabat yang menjadi pendamping Rasulullah saat beliau diburu oleh orang-orang kafir Quraisy.
Allah berfirman:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ
فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ
إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ
مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ
تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ
هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya
Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah)
mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika
keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya:
"Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka
Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan
tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir
itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.
QS:At-Taubah | Ayat: 40
QS:At-Taubah | Ayat: 40
Disebutkan dalam sirah, bahwa sesampainya
mereka berdua di depan gua Tsur, Abu Bakar berkata, “Demi
Allah wahai Rasulullah, janganlah engkau masuk ke dalam gua ini sebelum aku
masuk terlebih dahulu. Jika di dalamnya ada sesuatu yang berbahaya, biarkanlah
saya yang terkena terlebih dahulu, asal tidak ada musibah yang menimpamu”. Lalu Abu Bakar memasuki dengan menyingkirkan
kotoran dan sampah yang menghalanginya. Lalu ia merobek mantel yang ia kenakan
menjadi dua bagian guna menutup lubang dan celah yang ada di dalam gua, karena
ia khawatir akan keluar binatang yang tertentu yang dapat melukai Rasulullah.
Setelah ia merasa bahwa kondisinya telah aman, Abu Bakar berkata kepada beliau,
“Masuklah!”,
maka beliau pun masuk ke dalam gua. Setelah mengambil tempat di dalam gua,
beliau merebahkan kepalanya di atas pangkuan Abu Bakar dan tertidur. Tiba-tiba
Abu Bakar disengat hewan dari lubang dekat tempat duduknya. Namun ia tidak
berani bergerak, karena takut akan mengganggu tidur Rasulullah. Dengan menahan
sakit, akhirnya air matanya menetes ke wajah beliau. Raasulullah pun terbangun
dan bertanya, “Apa yang terjadi denganmu, wahai Abu
Bakar?” Abu Bakar pun
menjawab, “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Aku digigit
binatang.” Kemudian
Rasulullah meludahi bagian yang digigit tersebut hingga hilanglah rasa
sakitnya.
6. Sahabat yang paling bersemangat dalam mengerjakan amal kebajikan.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah
bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang berpuasa hari
ini?’ Abu Bakar menjawab, ‘Saya.’ Lalu Rasulullah
bertanya kembali, ‘Siapa di antara kalian yang hari ini
telah mengiringi jenazah?’ Abu Bakar menjawab, ‘Saya.’
Rasulullah pun melanjutkan pertanyaannya dan berkata, ‘Siapa
di antara kalian yang telah memberi makan kepada orang miskin?’ Abu
Bakar menjawab lagi, ‘Saya.’ Rasulullah pun
bertanya kembali, ‘Siapa di antara kalian yang telah
menjenguk orang yang sakit?’ Abu Bakar kemudian menjawab, ‘Saya.’ Mendengar itu semua Rasulullah bersabda, ‘Tidaklah semua hal tadi terkumpul dalam diri seseorang, kecuali
ia akan masuk surga’.”
(HR. Muslim)
7. Beliau adalah sahabat Rasulullah yang paling utama.
Dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Dahulu
kami memilih manusia yang terbaik pada zaman nabi, maka kami memilih Abu Bakar,
kamudian Umar bin Al-Khattab, kemudian Utsman bin Affan.” (HR. Al-Bukhari)
Penilaian para sahabat tersebut juga
dibenarkan oleh Ali bin Abu Thalib, khalifah yang keempat. Muhammad
Al-Hanafiyyah berkata, “Saya pernah bertanya kepada ayahku
(Ali bin Abu Thalib), ‘Siapakah manusia terbaik setelah
Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Abu Bakar.’
Saya bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ maka
beliau menjawab, ‘Umar bin Al-Khattab.’ Aku pun
khawatir jika beliau menyebutkan Utsman bin Affan setelah mereka berdua, maka
aku katakan, ‘Kemudian engkau.’ Maka ia pun
menjawab, ‘Aku hanyalah salah seorang dari kaum
Muslimin’.” (HR.
Al-Bukhari)
Keutamaan Abu Bakar juga diakui oleh para
sahabat lain yang hidup sezaman dengannya. Mereka semua memuji dan
mencintainya. Demikian pula para Tabi’in, generasi yang datang setelah para
sahabat, semuanya mencintainya. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’ab
Al-Iman dari Umar bin Al-Khattab bahwa ia
berkata, “Seandainya keimanan Abu Bakar ditimbang dengan
keimanan seluruh penduduk bumi, niscaya akan lebih berat keimanan Abu Bakar
Ash-Shiddiq!”
Ketika Abu Bakar wafat dan telah dikafani, Ali bin Abu Thalib masuk untuk
menengoknya, seraya berkata, “Tidak ada seorang pun yang menghadap
Allah dengan kitab catatan amal yang labih aku sukai dari orang ini.”
Ali bin Abu Thalib juga pernah berkata, “Barang siapa
yang menganggap aku lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar bin Al-Khattab,
maka aku akan mencambuknya seperti orang yang melemparkan tuduhan dusta (yaitu
dicambuk sebanyak 80 kali).”
Asy-Sya’bi (seorang imam di kalangan Tabi’in) berkata, “Allah
telah mengkhususkan Abu Bakar dengan empat perkara yang tidak Dia berikan
kepada siapa pun di antara hamba-hamba-Nya: Dia menyebutnya Ash-Shiddiq dan
tidak ada seorang pun yang diberi gelar Ash-Shiddiq selain dirinya, ialah yang
menemani Rasulullah ketika berada di gua Tsur. Ialah pendampingnya ketika
beliau hijrah, dan ialah yang disuruh oleh Rasulullah untuk mengimami shalat
sementara kaum Muslimin sebagai makmumnya.”
8. Mendapatkan labar gembira bahwa ia akan memasuki surga dari kedelapan pintunya.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Barang
siapa yang menafkahkan sepasang (yakni sepasang kuda, atau dinar dan dirham,
atau sepasang lainnya) di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu
surga, ‘Wahai hamba-hamba Allah, inilah kebaikan.
Barang siapa termasuk ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Barang
siapa yang termasuk dari ahli jihad, ia akan dipanggil dari pintu jihad. Barang
siapa yang termasuk ahli puasa, ia akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Barang
siapa yang termasuk dari ahli shadaqah, ia akan dipanggil dari pintu shadaqah’.”
Lalu Abu Bakar berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu,
wahai Rasulullah. Cukuplah seseorang dipanggil dari salah satu pintu tersebut,
lalu adakah yang dipanggil dari seluruh pintu?” Rasulullah menjawab, “Ada, dan saya berharap engkau termasuk
orang yang dipanggil dari seluruh pintu tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Itulah semua keutamaan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Tentang kekhalifahan Abu Bakar sendiri, sebenarnya telah diisyaratkan
oleh Rasulullah. Terdapat isyarat bahwa ialah yang layak menjadi khalifah bagi
kaum Muslimin sepeninggal Rasulullah. Isyarat tersebut bisa terlihat dari dua
sisi.
pertama, Rasulullah
pernah berniat untuk menuliskan pesan untuk Abu Bakar saat beliau sakit. Dari
Aisyah ia berkata, “Rasulullah mengatakan kepada saya saat
beliau sakit, ‘Panggillah Abu Bakar dan saudara
lelakimu agar aku menulis sebuah pesan, sebab aku khawatir akan muncul
orang-orang yang menaruh harapan (menjadi pemimpin bagi kaum Muslimin) dan
mengatakan, ‘Aku lebih berhak.’ Sesungguhnya Allah dan kaum Mukminin enggan menerima
kecuali Abu Bakar’.” (HR. Muslim)
kedua, diperintahkannya Abu Bakar untuk
menjadi imam dalam shalat saat Rasulullah sakit. Ini berarti beliau
mengindikasikan isyarat kepemimpinan Abu bakar.
Dari Abu Musa ia berkata, “Ketika Rasulullah sakit dan kondisi
beliau semakin parah, beliau berkata, ‘Suruhlah Abu
Bakar untuk menjadi imam shalat.’ Aisyah berkata, ‘sesungguhnya ia adalah seorang lelaki yang berhati lembut;
jika ia berdiri menggantikan posisimu, ia tidak akan mampu menjadi imam shalat.’
Beliau mengulangi perkataannya, ‘Suruhlah Abu Bakar
untuk menjadi imam shalat.’ Aisyah pun mengulangi ucapannya yang
pertama. Lalu Rasulullah bersabda, ‘Suruhlah Abu Bakar
untuk menjadi imam shalat, sesungguhnya kalian seperti saudari-saudari Yusuf.’
Rasulullah pun akhirnya mendatangi Abu Bakar dan ia menjadi imam dalam shalat
di saat Rasulullah masih hidup.” (HR. Al-Bukhari)
Imam Al-Khaththabi mengomentari hadits riwayat Abu Dawud yang senada
dengan riwayat di atas, “Dalam riwayat-riwayat ini, ada isyarat
akan kekhalifahan Abu Bakar. Hal itu ditunjukkan dengan pernyataan Rasulullah,
‘Allah dan kaum Muslimin menolak itu.’ Yang
dapat dipahami bahwa Rasulullah tidak bermaksud untuk menolak bolehnya kaum
Muslimin untuk shalat di belakang Umar bin Al-Khattab, karena shalat di
belakang Umar dan selainnya dari kaum Muslimin hukumya boleh. Akan tetapi yang
beliau maksudkan adalah kepemimpinan yang merupakan kekhalifahan dan pengganti
Rasulullah dalam memimpin urusan umat setelah beliau.” Dan ini merupakan bukti tentang keabsahan kekhalifahan Abu
bakar.
Sepeninggal Rasulullah, kaum Anshar sangat membutuhkan seorang Khalifah
yang akan mengatur berbagai urusan mereka di Madinah. Sebab jika tidak, maka
Madinah akan berada dalam ancaman orang-orang kafir yang mengintai setiap saat
dan siap untuk menyerang mereka.
Kaum Anshar mengira bahwa setelah meninggalnya Rasulullah, kaum
Muhajirin akan kembali ke Mekkah. Maka, mereka segera berkumpul di Saqifah Bani
Sa’idah untuk melakukan musyawarah di antara mereka guna membicarakan siapa
yang akan menjadi pemimpin. Dalam musyawarah tersebut, mareka sepakat untuk
memilih Sa’ad bin Ubadah sebagai khalifah sekaligus berniat untuk membaiatnya.
Hal tersebut diketahui oleh kaum Muhajirin; maka Abu Bakar, Umar bin
Al-Khattab, dan Abu Ubaidah datang menemui mereka guna mengklarifikasi masalah
tersebut. Setibanya di tempat itu, Abu Bakar berpidato untuk menyampaikan
pendirian kaum Muhajirin dengan lemah lembut dan argument yang kuat dan bijak.
Inti pidatonya adalah menyampaikan keutamaan kaum Muhajirin sebagai orang-orang
yang mula-mula beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya, membela beliau
dan mengalami penderitaan dalam memperjuangkan Islam bersamanya. Karena itu
kaum Muhajirin lebih berhak untuk memimpin umat ini sesudah Rasulullah wafat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kaum Anshar juga memiliki kemuliaan dalam
Islam, karena tidak ada yang dapat menandingi keutamaan mereka dalam membantu
dan menolong kaum Muhajirin yang berhijrah untuk mempertahankan Islam. Semoga
Allah meridhai kaum Anshar karena mereka telah membela agama dan Rasul-Nya
serta para sahabatnya. Demikianlah inti dari pidato Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Akan tetapi kaum Anshar kemudian mengusulkan pendapat untuk mengangkat
dua pemimpin. Bagi Anshar ada pemimpin dan bagi Muhajirin ada pula seorang
pemimpin. Namun dengan tegas Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya
orang-orang Arab tidak mengakui kekuasaan ini kecuali untuk orang-orang
Quraisy.”
Setelah kaum Anshar mengetahui bahwa kaum Muhajirin akan tetap tinggal
di Madinah dan tidak akan meninggalkannya, maka akhirnya mereka menerima dengan
lapang dada bahwa kaum Muhajirin lebih berhak untuk memegang tampuk
kepemimpinan, dan akhirnya mereka semua sepakat.
Melihat seluruh yang hadir di sana telah sepakat akan kepemimpinan kaum
Muhajirin, Abu Bakar dengan sigap berdiri dan menyalonkan dua sahabatnya yaitu
Umar bin Al-Khattab dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.
Melihat sikap Abu Bakar yang mengajukan dirinya, Umar bin Al-Khattab pun
berkata, “Tidak! Akan tetapi kamilah yang akan
membaiatmu, karena engkau adalah pemimpin kami, sebaik-baik orang di antara
kami, dan engkau lebih dicintai oleh Rasulullah. Lalu Umar bin Al-Khattab
menyebutkan keutamaan-keutamaan Abu Bakar yang lainnya.”
Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “ketika
Rasulullah wafat, orang-orang Anshar berkata, ‘Kami
akan menjadikan seorang pemimpin untuk kami dan kalian menjadikan seorang
pemimpin untuk kalian.’ Lalu Umar bin Al-Khattab mendatangi mereka
seraya berkata, ‘Bukankah kalian telah mengetahui bahwa
Rasulullah telah menyuruh Abu Bakar untuk mengimami shalat ketika beliau sakit?
Maka siapakah di antara kalian yang berani mendahului Abu Bakar?’ Mereka
menjawab, ‘Kami berlindung kepada Allah dari perbuatan
yang mendahului Abu Bakar’.” (HR. An-Nasa’i,
dengan sanad hasan)
Akhirnya Abu Bakar dibaiat secara khusus dan resmi di Saqifah pada hari
Senin, Rabi’ul Awwal tahun 11 H.
Pada hari berikutnya, Abu Bakar keluar menuju masjid dan orang-orang
yang ada di masjid waktu itu langsung membaiatnya. Dan setelah baiat umum ini,
Abu Bakar memberikan khutbahnya yang terkenal dan tercatat dengan tinta emas
dalam lembaran sejarah:
“Segala puji hanya milik Allah. Wahai kaum
Muslimin semuanya, kalian telah memilihku sebagai khalifah padahal aku bukanlah
orang yang terbaik di antara kalian. Oleh karena itu, jika aku berlaku adil,
maka bantulah aku. Dan jika aku berbuat aniaya, maka nasehati dan luruskanlah
aku. Kejujuran adalah amanah, sedangkan dusta merupakan penghianatan. Orang
yang lemah di antara kalian adalah orang yang kuat menurut pandanganku hingga
aku berikan haknya. Dan orang yang kuat di antara kalian adalah orang yang
lemah dalam pandanganku hingga ia tunaikan kewajibannya. Janganlah kalian
berhenti berjihad, tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad kecuali mereka akan
menerima kehinaan dari Allah. Taatilah aku selama aku berada dalam ketaatan
Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, jika aku bermaksiat kepada Allah dan
Rasul-Nya, maka tidak ada ketaatan atas kalian kepadaku.”
Selain itu, Abu Bakar adalah sosok pribadi yang sangat istimewa yang
ditarbiyah oleh oleh madrasah kenabian. Dalam dirinya terhimpun keimanan yang
kokoh, keteguhan hati bagaikan karang di tengah lautan, kedalaman ilmu,
kelembutan hati, kerendahan hati yang luar biasa, pembelaan Allah terhadap
Rasulullah dengan segenap jiwa dan hartanya, kepedulian terhadap nasib
orang-orang yang lemah dan budak belian, kedermawanan yang tinggi,
kebijaksanaan, keberanian dan sekian banyak lagi akhlak-akhlak terpuji yang
tidak mungkin dapat diungkapkan dengan kata-kata. Karena kepribadiannya yang
istimewa itulah maka kaum Muslimin berselisih pendapat untuk mengangkatnya
sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah.
Setelah Abu Bakar dibaiat oleh kaum Muslimin sebagai khalifah pertama
bagi umat ini, baliaulah yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap seluruh
negeri Islam dan wilayah kekhalifahannya sepeninggal Rasulullah.
Banyak sekali prestasi gemilang yang telah beliau torehkan dalam sejarah
umat ini. Beliau tercatat sebagai seorang khalifah yang bisa dijadikan panutan
oleh para pemegang kekuasaan atau siapapun yang mendapatkan amanat untuk
mengatur urusan kaum Muslimin. Karena hanya para pemimpin yang mampu berbuat
adillah yang akan dapat memasuki surga Allah dan akan mendapatkan naungan di
saat tidak ada naungan lagi kecuali naungan dari-Nya.
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah
bersabda, ‘tujuh orang yang akan Allah naungi dalam
naungan-Nya pada hari tidak ada naungan lagi kecuali naungan-Nya; pertama,
seorang pemimpin yang adil…’.” (HR.
Al-Bukhari)
Bahkan para pemimpin yang adil merupakan orang-orang yang tidak tertolak
doanya.
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah
bersabda, ‘Ada tiga orang yang tidak akan Allah tolak
doanya, yaitu: (1) orang yang banyak berdzikir kepada Allah’ (2) doa orang yang
terzalimi; (3) seorang pemimpin yang adil’.” (HR.Al-Baihaqi, dihasankan oleh Al-Albani)
Di samping hal itu, kaum Muslimin memang diperintahkan untuk mengikuti
sunnah para Khulafa’ur Rasyidin yang salah satu dari mereka adalah Abu Bakar, sebagaimana yang
disabdakan oleh Rasulullah ketika beliau memberikan nasehat kepada para sahabat
dengan nasehat yang telah membuat air mata mengucur dan membuat jiwa bergetar:
“Saya berwasiat kepada kalian agar bertaqwa
kepada Allah, tetap mendengarkan dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah
budak dari Habasyah; karena sesungguhnya barang siapa yang hidup di antara
kalian akan melihat banyak perbedaan. Berhati-hatilah kalian terhadap
perkara-perkara yang diadakan, karena sesungguhnya ia merupakan kesesatan. Barang
siapa yang mendapati itu di antarakalian, maka berpeganglah kepada sunnahku dan
sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk, gigitlah ia dengan
gigi geraham.” (HR. At-Tirmidzi dan ia berkata:
hasan shahih)
Di antara kegemilangan yang paling tinggi yang telah beliau raih dalam
masa kepemimpinannya adalah:
1.
Instruksinya agar jenazah Rasulullah
diurus hingga selesai dikebumikan.
2.
Melanjutkan misi pasukan yang dipimpin
Usamah bin Zaid yang sebelumnya telah dipersiapkan oleh Rasulullah sebelum
wafat.
3.
Kebijakannya dalam menyatukan persepsi
seluruh sahabat untuk memerangi kaum murtad dengan segala persiapannya ke arah
itu, kemudian instruksinya untuk memerangi seluruh kelompok yang murtad di
wilayah masing-masing.
4.
Perintah beliau agar mengumpulkan
Al-Qur’an.
Ibnu Katsir berkata, “Pada tahun 12 H, Abu Bakar
memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengumpulkan Al-Qur’an dari berbagai tempat
penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun yang dihafal
dalam dada kaum Muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para penghafal
Al-Qur’an banyak yang gugur sebagai syuhada dalam peperangan Yamamah,
sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shahih Al-Bukhari.”
Kegemilangan beliau juga Nampak dari pernyataan Abdullah bin Ja’far yang
berkata, “Saat Abu Bakar memimpin kami, beliau adalah
sebaik-baik khalifah, orang yang paling kasih sayang terhadap kami dan yang
paling lemah lembut terhadap kami.”
Setelah sekian tahun Abu Bakar Ash-Shiddiq memimpin kaum Muslimin
sebagai khalifah, akhirnya beliau menderita selama sakit selama 15 hari.
Setelah sakit, akhirnya beliau dipanggil oleh Allah sang pencipta alam semesta
pada tanggal 21 Jumadil Akhir 13 H (22 Agustus 634 M). Beliau dimakamkan di
samping makam suri teladan dan sahabat tercintanya, Rasulullah.
Alangkah bahagianya Abu Bakar, karena ia termasuk salah seorang yang
telah dikabarkan Rasulullah akan masuk surga. Tidak ada kabar gembira yang
lebih besar dari surga, hunian abadi orang-orang yang bertakwa lagi penuh
dengan gemilang kenikmatan.
Dari Abu Musa dalam sebuah hadits yang cukup panjang, ia berkata, “Sesungguhnya
aku akan menjadi penjaga pintu Rasulullah hari ini.” Lalu datanglah Abu Bakar mendorong pintu. Aku berkata, “Siapa
ini?” Ia menjawab, “Abu
Bakar Ash-Shiddiq.” Lalu aku berkata, “Tunggu
dulu.” Kemudian aku pun pergi menemui
Rasulullah seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ini Abu Bakar
Ash-Shiddiq datang meminta izin (untuk masuk).” Beliau bersabda, “Izinkan ia dan berilah kabar gembira
baginya dengan surga!” Lalu aku menghampiri Abu Bakar
Ash-Shiddiq dan berkata, “Masuklah dan Rasulullah memberi kabar
gembira bagimu dengan surga.” Lalu Abu Bakar
masuk dan duduk di sebelah kanan Rasulullah di tepi sumur. (HR. Al-Bukhari dan
Muslim)
Dari Ali ia berkata, “Rasulullah telah bersabda, ‘Abu Bakar dan Umar adalah penghulu para penghuni sirga dari
kalangan orang tua mulai dari orang-orang yang pertama sampai dengan
orang-orang yang terakhir selain para nabi dan rasul. Janganlah beritahu mereka
berdua—wahai Ali—selama mereka berdua masih hidup’.” (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)
Demikianlah kisah perjalanan Abu Bakar, seorang Ash-Shiddiq
yang telah menghabiskan seluruh umur dan
hartanya untuk membela agama Allah, menolong Rasul-Nya, dan menjayakan
agama-Nya.
Berbahagialah engkau, wahai Abu Bakar dengan derajat yang sangat tinggi
di dalam surga kelak.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah
bersabda, ‘Sesungguhnya penghuni surga pada derajat
yang tinggi dilihat oleh mereka yang berada di bawahnya bagaikan bintang
bercahaya di sebuah ufuk dari ufuk-ufuk langit dan sesungguhnya Abu Bakar
Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab termasuk dari mereka dan lebih (tinggi)
lagi’.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh
Al-Albani)
Semoga Allah merahmatimu dan menempatkanmu di surga Firdaus yang
tertinggi, wahai Ash-Shiddiq, dan semoga Allah menghimpun kami di akhirat kelak
bersamamu.
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
0 komentar:
Posting Komentar