Rabu, 20 November 2013

Filled Under:

Bilal bin Rabah (Penakluk Ketakutan).



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
     Bila disebut nama Abu Bakar , Umar  pasti berkata, “Abu Bakar  adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita.” Maksudnya adalah Bilal .

      Seorang yang diberi gelar oleh Umar  “Pemimpin Kita” tentu bukan orang sembarangan, melainkan sosok berkepribadian besar yang layak memperoleh kehormatan seperti itu! Tetapi, setiap menerima pujian yang ditujukan kepada dirinya, sosok yang digambarkan oleh para ahli riwayat sebagai laki-laki berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat, dan berjambang tipis ini justru menundukkan kepala dan memejamkan mata, serta dengan air mata mengalir membasahi pipinya. Ia justru mengucapkan, “Saya ini hanyalah seorang dari Habasyah (Ethiopia), dan sebelum ini saya seorang budak.

     Nah, siapakah kiranya orang Habasyah yang sebelumnya menjadi budak? Itulah dia Bilal bin Rabah , muazin Islam dan pengguncang berhala yang dipuja oleh orang-orang Quraish sebagai sesembahan. Bilal  merupakan salah satu keajaiban iman dan kebenaran; salah satu mukjizat Islam yang besar.

     Dari setiap sepuluh orang, sejak munculnya agama itu sampai sekarang, bahkan sampai kapan saja dikehendaki Allah, kita akan menemukan sedikitnya tujuh orang mengenal Bilal . Artinya, dalam pergantian kurun dan generasi terdapat jutaan manusia yang mengenal Bilal , hafal namanya dan tahu riwayatnya secara lengkap, sebagaimana mereka mengenal dua Khalifah terbesar dalam Islam; Abu Bakar  dan Umar .

     Sungguh, bila anda menanyakan kepada setiap anak yang masih merangkak pada tahun-tahun pelajaran dasarnya, baik di Mesir, Pakistan, maupun Cina, mereka pasti mengetahui siapa Bilal . Di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, dan Asia, semua kenal Bilal . Di Iraq, Syria, Turki, Iran, Sudan, Tunisia, Aljazair, Maroko, dan di seluruh permukaan bumi yang didiami oleh kaum Muslim, tidak ada yang tidak mengenalnya.

     Anda akan dapat menanyakan kepada setiap remaja Muslim, “Siapakah Bilal  itu, Nak?” mereka pasti akan menjawab, “Ia adalah muazin Rasul. Ia sebelumnya adalah seorang budak, yang disiksa oleh tuannya dengan batu panas, agar ia meninggalkan agamanya, tetapi ia menjawab,’Ahad… Ahad…(Allah Yang Maha Esa… Allah Yang Maha Esa)’.

     Ketika anda mengetahui kenangan abadi yang telah dianugerahkan Islam kepada Bilal  tersebut, ketahuilah bahwa sebelum Islam, Bilal  ini tidak lebih dari seorang budak yang menggembalakan unta milik tuannya dengan imbalan dua genggam kurma. Tanpa Islam, ia tidak akan luput dari kenistaan perbudakan sampai maut datang merenggutnya dan setelah itu orang melupakannya.

     Kebenaran iman dan keagungan agama yang diyakininya telah menempatkan kehidupan sejarah hidupnya pada kedudukan tinggi dalam deretan tokoh-tokoh Islam dan orang-orang suci. Banyak di antara orang-orang terkemuka, baik golongan berpengaruh maupun orang-orang kaya, yang tidak berhasil mendapatkan meski hanya sepersepuluh dari keharuman nama yang diperoleh Bilal , si budak Habasyah ini. Bahkan, tidak sedikit tokoh-tokoh sejarah yang tidak mencapai separuh kemuliaan yang dicapai oleh Bilal !

     Kehitaman warna kulit, kerendahan kasta dan bangsa, serta kehinaan dirinya di antara manusia selama itu sebagai budak, sekali-kali tidaklah menutup pintu baginya untuk menempati kedudukan tinggi yang dirintis oleh kebenaran, keyakinan, kesucian, dan kesungguhannya setelah ia memasuki agama Islam.

     Semua itu terjadi karena dalam neraca penilaian dan penghormatan yang diberikan oleh orang-orang kepadanya, hanyalah kekaguman terhadap kedudukan tinggi yang tidak semestinya. Orang menyangka bahwa seorang hamba seperti Bilal , biasanya asal-usulnya tidak menentu; tidak berdaya dan tidak mempunyai keluarga, serta tidak memiliki suatu hak pun dalam hidupnya. Budak adalah milik tuannya yang telah membeli dengan hartanya, dan kerjanya berada di tengah hewan ternak, pulang balik di antara unta dan domba tuannya. Menurut dugaan mereka, makhluk seperti ini tidak akan mampu melakukan sesuatu, atau menjadi sesuatu yang berarti.

     Ternyata, Bilal  tidak diduga oleh kebanyakan orang. Buktinya, ia mampu mencapai derajat keimanan yang sulit dicapai oleh orang lain. Ia menjadi muazin pertama bagi Rasulullah dan islam, sebuah amal yang menjadi dambaan bagi setiap pemimpin dan pembesar Quraisy yang telah masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah.

     Itulah dia, Bilal bin Rabah !

     Seperti apakah sejatinya kepahlawanan kebesaran yang disandang oleh ketiga kata ini: “Bilal bin Rabah ”?

     Ia seorang Habasyah dari golongan orang berkulit hitam. Takdir telah membawa nasibnya menjadi budak Bani Jumah di kota Mekkah, karena ibundanya salah seorang hamba sahaya mereka. Kehidupannya tidak berbeda dengan budak-budak lainnya. Hari-harinya telah berlalu dalam rutinitas yang gersang, tidak ada satu haripun yang istimewa baginya. Ia tidak menaruh harapan apa pun pada hari esok.

     Pada akhirnya, berita-berita mengenai Muhammad mulai sampai ke telinganya, yakni ketika orang-orang di Mekkah menyampaikan berita itu dari mulut ke mulut. Selain itu, ia juga mendengarkan perbincangan majikannya bersama para tamunya, terutama majikannya, Umayyah bin Khalaf. Salah seorang pemuka Bani Jumah, yaitu kabilah yang menjadi majikan yang dipertuan oleh Bilal .

     Sekian lama, Bilal  mendengarkan ketika Umayyah membicarakan Rasulullah, baik dengan kawan-kawannya maupun sesama anggota sukunya dan mengeluarkan kata-kata berbisa, penuh dengan amarah, tuduhan dan kebencian. Di antara poin yang dapat ditangkap oleh Bilal  dari ucapan kemarahan yang tidak berujung pangkal itu, ialah sifat-sifat yang melukiskan agama yang baru baginya. Menurutnya, sifat-sifat itu merupakan perkara baru bila dipandang dari sudut lingkungan di mana ia tinggal. Selain itu, di antara ucapan-ucapan yang keras penuh ancaman itu, Bilal juga mendengar pengakuan mereka atas kemuliaan Muhammad; tentang kejujuran dan keterpercayaan beliau.

     Begitulah, Bilal  mengetahui bahwa mereka sebenarnya kagum dan tidak habis piker terhadap ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Sebagian mereka mengatakan kepada yang lain, “Tidak pernah Muhammad berdusta atau menjadi tukang sihir. Ia tidak pula sinting atau berubah akal. Namun, kita terpaksa menuduhnnya demikian untuk membendung orang-orang yang berlomba-lomba memasuki agamanya.” Bilal  mendengar mereka memperbincangkan kesetiaan Rasulullah dalam menjaga amanah, tentang kejujuran dan ketulusan beliau; tentang akhlak dan kepribadian beliau.

     Bilal  juga mendengar mereka berbisik-bisik mengenai sebab yang mendorong mereka menentang dan memusuhinya. Pertama, adalah kesetian mereka terhadap kepercayaan yang diwariskan oleh nenek moyangnya, dan kedua adalah kekhawatiran mereka terhadap kedudukan Qurash saat itu. Kedudukan yang mereka peroleh sebagai imbalan kedudukan mereka sebagai pusat keagamaan, kiblat  peribadatan, dan ritual haji di seluruh Jazirah Arab. Alasan selanjutnya adalah kedengkian mereka terhadap Bani Hasyim, mengapa Nabi muncul dari golongan ini dan bukan dari pihak mereka?

     Suatu hari Bilal bin Rabah  melihat cahaya ilahi dan dari lubuk hatinya yang suci murni timbul keinginan untuk menyambut sebuah pilihan utama. Karena itulah, ia menjumppai Rasulullah   dan menyatakan masuk Islam. Tidak lama setelah itu, berita rahasia keislaman Bilal  pun tercium dan beredar di kepala tuan-tuannya dari Bani Jumah, yakni kepala-kepala yang selama ini dikuasai oleh kesombangan dan ditindih oleh kecongkakan. Karena itu tidak aneh bila setan-setan di muka bumi bersarang di dalam Umayyah bin Khalaf, yang menganggap keislaman seorang hambanya sebagai tamparan pahit yang menghina dan menjatuhkan kehormatan mereka semua.

     Kini budak mereka, orang Habasyah itu, masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad. Namun, hati Umayyah mengatakan, “Tidak apa-apa.” “Matahari yang terbit hari ini tidak akan tenggelam dengan keislaman budak durhaka itu.” Katanya. Sekali-kali tidak, bukan saja sang surya itu akan tenggelam dengan Islamnya Bilal , bahkan suatu hari kelak matahari akan tenggelam dengan membawa semua patung-patung dan pembela-pembela berhala itu.

     Bilal  sendiri bukan saja ia mendapatkan kedudukan yang merupakan kehormatan bagi Islam semata – walau Islam lebih memang lebih berhak untuk itu – melainkan juga merupakan kehormatan bagi kemanusiaan secara umum. Ia telah menjadi sasaran berbagai macam siksaan seperti dialami yang oleh tokoh-tokoh utama lainnya.

     Allah seolah-olah menjadikannya sebagai cermin bagi umat manusia, bahwa hitamnya warna kulit dan perbudakan sekali-kali tidak menjadi penghalang untuk mencapai kebesaran jiwa, asal saja ia beriman dan taat kepada Penciptanya serta memegang teguh hak-hak-Nya.

     Bilal  telah memberikan pelajaran kepada orang-orang yang semasa dengannya, juga bagi orang-orang pada zaman kapan pun, yang seagaman dengannya, bahkan bagi pengikut-pengikut bagi agama lain; sutu pelajaran berharga yang menjelaskan bahwa kemerdekaan jiwa dan kebesaran nurani tidak dapat dibeli dengan emas separuh bumi, atau dengan siksaan bagaimana pun dahsyatnya.

     Dalam keadaan telanjang ia dibaringkan di atas bara, agar ia meninggalkan agamanya atau mencabut pengakuannya. Namun, Bilal  menolak. Karena itu, budak Habasyah yang lemah dan tidak berdaya ini telah dijadikan oleh Rasulullah   dan Islam sebagai guru bagi seluruh kemanusiaan dalam persoalan menghormati hati nurani dan mempertahankan kebebasan serta kemerdekaannya.

     Suatu saat, pada tengah hari bolong, ketika padang pasir berganti rupa menjadi neraka jahannam, orang-orang Quraish membawanya ke luar, lalu melemparkannya ke pasir yang panas bagai api yang menyala dalam keadaan telanjang, kemudian beberapa orang laki-laki mengangkat batu besar yang juga panas laksana bara, dan kenjatuhkannya ke atas tubuh dan dadanya.

     Siksaan kejam dan biadab ini mereka lakukan setip hari, hingga karena dahsyatnya, hati beberapa orang di antara algojo-algojo menaruh kasihan kepadanya dan melunak. Mereka berjanji dan bersedia melepaskannya asal saja ia mau menyebut nama tuhan-tuhan mereka secara baik-baik walau dengan sepatah kata sekali pun, tidak usah lebih, yang akan menjaga nama baik mereka di mata umum, hingga tidak menjadi buah pembicaraan bagi orang-orang Quraish; bahwa meraka telah mengalah dan bertekuk lutut kepada seorang budak yang gigih dan keras kepala.

     Namun, walau sepatah kata yang dapat diucapkan bukan dari lubuk hati, dan yang dapat menebus nyawa dan hidupnya tanpa kehilangan iman dan melepas keyakinannya, Bilal  tidak ingin mengucapkannya. Begitulah, ia menolak mengucapkan hal itu, dan sebagai gantinya ia mengulang-ulang senandungnya yang abadi, “Ahad… Ahad…!” para algojo itu pun memaksanya, “Katakanlah seperti yang kami katakan!” tetapi, dengan ejekan pahit dan menjengkelkan , Bilal menjawab, “Lidahku tidak dapat mengucapkannya.

     Bilal  tetap dapat deraan panas dan tindihan batu, hingga ketika hari petang mereka menegakkan badannya dan mengikatkan tali pada lehernya, lalu mereka suruh anak-anak untuk mengaraknya keliling perbukitan dan jalan-jalan di Mekkah, sedangkan kedua bibir Bilal  terus menerus melagukan senandung sucinya, “Ahad…! Ahad…!

     Bila malam telah tiba, orang-orang itu pun menawarkan kepadanya, “Besok, ucapkanlah kata-kata yang baik terhadap tuhan-tuhan kami, sebutlah: tuhanku Latta dan ‘Uzza. Setelah itu kami lepaskan dan biarkan kamu sesuka hatimu!” namun, dapat dipastikan Bilal  akan menggelengkan kepalanya dan hanya menyebut, “Ahad…! Ahad…!

     Karena tidak dapat menahan gusar dan murka, Umayyah meninju Bilal  sambil berteriak, “Kesialan apa yang menimpa kami disebabkan olehmu, wahai budak celaka? Demi Latta dan ‘Uzza, aku akan menjadikan dirimu sebagai contoh bagi bangsa budak dan majikan-majikan mereka!” dengan keyakinan seorang Mukmin dan kebesaran orang suci, Bilal  menjawab, “Ahad…! Ahad…!

     Orang-orang yang diserahi tugas berpura-pura menaruh belas kasihan kepadanya, kembal merujuk dan mengajukan tawaran. Mereka berkata kepada Umayyah, “Biarkanlah dia, wahai Umayyah! Demi Latta, ia tidak akan disiksa lagi setelah hari ini. Bilal  anak buah kita, bukankah ibunya budak kita? Ia tentu tidak akan rela bila dengan keislamannya itu nama kita menjadi ejekan dan cemoohan bangsa Quraish!

    Bilal  menatap tajam wajah-wajah para penipu dan pengatur muslihat licik itu. Tiba-tiba ketegangan itu menjadi kendur oleh senyuman bagai cahaya fajar dari mulut Bilal . Dengan ketenangan yang dapat mengguncang mereka, ia kembali berkata, Ahad…! Ahad…!

     Waktu siang telah tiba dan tepat menjelang zuhur Bilal  pun dibawa orang ke padang pasir lagi. Bilal  tetap sabar an tabah, tenang tidak goyah. Saat mereka menyiksanya, tiba-tiba Abu Bakar Ash-Shiddiq  datang dan berkata, “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki yang mengatakan, ‘Rabbku ialah Allah?” kemudian ia berkata kepada Umayyah bin Khalaf, “Ambillah tebusan yang lebih besar daripada harganya dariku, lalu bebaskan ia.

Abu Bakar hendak membebaskan Bilal
     Umayyah pada saat itu bagai orang yang hampir tenggelam, tiba-tiba diselamatkan oleh sampan penolong. Hatinya lega dan merasa sangat beruntung saat Abu Bakar  hendak menebus budaknya. Dia telah putus asa untuk menundukkan Bilal . Selai itu, mereka adalah para pedagang, sehingga dengan diualnya Bilal , mereka melihat keuntungan yang tidak akan diperoleh dengan jalan membunuhnya. Akhirnya Bilal  dijual kepada Abu Bakar  yang segera membebaskannya, dan dengan demikian Bilal  pun tampil mengambil tempatnya dalam lingkungan orang-orang merdeka. <Lihat: Sirah Ibnu Hisyam: I/317-318>

     Ketika Ash-Shiddiq menggandeng lengan Bilal  dan membawanya ke alam bebas, Umayyah berkata kepadanya, “Bawalah ia! Demi Latta dan ‘Uzza, seandainya harga tebusannya tidak lebih dari 1 uqiyah, pastilah ia akan kulepas juga!

     Abu Bakar  tahu bagaimana keputusasaan dan kepahitan akibat kegagalan yang tersirat dalam ucapan itu, hingga lebih baik tidak melayaninya, tetapi, karena ini menyangkut kehormatan seorang laki-laki yang sekarang telah menjadi saudara yang tidak berbeda dengan dirinya, ia pun membalas kata-kata Umayyah, “Demi Allah, andainya kalian tidak hendak menjualnya kecuali 100 uqiyah, aku pasti akan membayarnya!

     Setelah itu, Abu Bakar  pergi bersama shahabatnya itu menghadap Rasulullah   dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasan Bilal . Saat itu pun bagaikan hari raya besar.

Bilal mengumandangkan adzan untuk pertama kalinya
     Setelah Rasulullah   bersama kaum Muslimin hijrah dan menetap di Madinah, beliau pun mensyari’atkan adzan untuk melakukan shalat. Lantas, siapakah kiranya yang akan menjadi muazin untuk shalat itu sebanyak lima kali dalam sehari semalam, yang suara takbir dan tahlilnya akan berkumandang ke seluruh pelosok? Orang itu ialah Bilal , yang menyerukan, “Ahad…! Ahad…!” ucapan yang selalu ia lantunkan sejak 13 tahun yang lalu, sementara siksaan terus mendera dan menyiksa tubuhnya.

     Pada hari itu pilihan Rasulullah   jatuh pada dirinya sebagai muazin pertama dalam Islam. Dengan suara yang merdu dan empuk, Bilal  mengisi hati dengan keimanan dan telinga dengan keharuan, sementara seruannya menggemakan:

Allahu Akbar… Allahu Akbar
Allahu Akbar… Allahu Akbar
Asyhadu allailaha illallah
Asyhadu allailaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya ‘alas shalah
Hayya ‘alas shalah
Hayya ‘alal falah
Hayya ‘alal falah
Allahu Akbar… Allahu Akbar
La ilaha illallah

     Suatu saat, terjadilah peperangan antara kaum Muslimin dengan tentara Quraish yang datang menyerang Madinah. Pertempuran berkecamuk dengan sangat sengit dan dahsyat. Bilal  maju dan menerjang dalam perang pertama pada masa Islam itu, yaitu Perang Badar, yang sebagai semboyannya yang dititahkan oleh Rasulullah   menggunakan ucapan, “Ahad…! Ahad…!

     Dalam peperangan ini Quraish mengerahkan tenaga intinya. Para pemuka Quraish terjun untuk menemukan tempat kematian mereka! Pada mulanya Umayyah bin Khalaf, yang tidak lain merupakan bekas majikan Bilal  yang telah menyiksanya secara kejam dan biadab, tidak hendak ikut dalam peperangan itu.

     Ia sebenarnya enggan untuk berangkat kalau saja rekannya yang bernama Uqbah bin Abu Mu’ith tidak menghampirinya, setelah ia mendengar keengganan dan sifat pengecutnya itu. Uqbah menghampirinya sambil membawa anglo <yang biasanya digunakan oleh wanita untuk mengasapi tubuh mereka dengan wewangian> di tangan kanannya.

     Setelah sampai dan berhadapan muka dengan Umayyah yang ketika itu sedang duduk di tengah-tengah kaumnya, Uqbah meletakkan anglo itu di hadapannya seraya berkata, “Wahai Abu Ali, terimalah dan pergunakanlah anglo ini, karena karena kamu tidak lebih dari seorang wanita!

     “Keparat! Apa yang kau bawa ini?” teriak Umayah geram.

     Akhirnya, tanpa bias mengelak, ia terpaksa ikut berangkat dalam peperangan itu bersama kawan-kawannya.

     Rahasia takdir apakah yang kiranya tersembunyi di balik peristiwa ini? Sebelum itu, Uqbah bin Abu Mu’ith adalah seorang yang paling gigih mendorong Umayyah untuk melakukan penyiksaan terhadap Bilal  dan kaum Muslimin yang tidak berdaya lainnya. Sekarang, ia pulalah yang mendesaknya supaya ikut dalam Perang Badar, tempat ia akan menemui ajalnya, sekaligus tempat kematian Uqbah itu sendiri.

     Sekali lagi, Umayyah pada waktu itu keberatan dan enggan untuk ikut dalam peperangan, dan kalau bukan karena desakan Uqbah dengan cara sebagai kita ketahui itu, ia tidak akan ikut serta di dalamnya. Tetapi, rencana Allah pasti berlaku. Umayyah harus ikut. Ada piutang lama antara dirinya dengan seorang hamba Allah yang kini datang saatnya untuk diseleseikan. Allah tidak pernah tidur. Bagaimana kalian memperlakukan orang maka seperti itu pula kalian akan diperlakukan oleh orang lain.

     Takdir ini memang harus terjadi pada orang sombong! Uqbah yang kata-katanya didengar oleh Umayyah dan kemauannya untuk menyiksa orang-orang Mukmin yang tidak berdosa diturutinya, kini justru menyeret dirinya ke liang kubur. Di tangan siapakah kematiannya? Di tangan Bilal , tidak lain di tangan Bilal  itu sendiri! Tangan yang oleh Umayyah dulu diikat dengan rantai, sedangkan pemilik tangannya sedang didera dan disiksa. Dengan tangan itu pula pada hari itu, yaitu Perang Badar yang merupakan saat yang tepat dan diatur oleh takdir, utang-piutang pun diselesaikan dan perhitungan dengan algojo-algojo Quraish yang telah menimpakan penghinaan dan kezaliman terhadap orang-orang Mukmin pun dilaksanakan. Peristiwa ini terjadi dengan sempurna, tanpa ditambah atau dibumbui.

     Ketika pertempuran di antara dua belah pihak telah dimulai, dan barisan kaum Muslimin maju bergerak dengan semboyannya, “Ahad…! Ahad…!” jantung Umayyah bagai tercabut dari akarnya dan rasa takut menguasai dirinya. Kalimat yang kemarin diulang-ulang oleh hambanya di bawah tekanan siksa dan dera, sekarang telah menjadi semboyan dari suatu agama secara utuh, dan dari suatu umat yang baru secara keseluruhan, “Ahad…! Ahad…!” mengapa secepat itu ucapan tersebut berkembang? Ini adalah pertumbuhan yang sangat cepat.

     Pertempuran telah berkecamuk dan pedang bertemu pedang. Ketika perang telah hampir usai, Umayyah melihat sekilas keberadaan Abdurrahman bin Auf, seorang shahabat Rasulullah  . Dia pun segera berlindung kepadanya, dan meminta agar menjadi tawanannya, dengan harapan dapat menyelamatkan nyawanya. Permintaan itu dikabulkan oleh Abdurrahman dan ia bersedia melindunginya.

     Ditengah-tengah hiruk-pikuknya perang, Abdurrahman membawa Umayyah ke tempat para tawanan. Namun, di tengah Bilal  sepintas melihatnya dan langsung berteriak, “Ini dia, gembong kekafiran, Umayyah bin Khalaf! Biarkanlah aku mati daripada dia selamat.

     Seiring dengan teriakan itu, Bilal  mengangkat pedangnya hendak memenggal kepala yang selama ini menjadi besar disebabkan kecongkakan dan kesombongan. Namun, Abdurrahman berkata kepadanya, “Wahai Bilal , ini tawananku!

     “Tawanan? Bukankah pertempuran masih berkobar dan roda peperangan masih berputar?” Tanya Bilal  keheranan. Bagaimana mungkin ia menjadi tawanan, sedangkan belum lama berselang senjatanya menghujam di tubuh kaum Muslimin yang sampai sekarang masih meneteskan darahnya?

     Tidak! Bagi Bilal  itu artinya ejekan dan penindasan. Cukuplah selama ini Umayyah mengolok-olok dan melakukan penindasan. Ia telah menindas sedemikian rupa, hingga hari ini tidak ada lagi kesempatan tersisa, dalam keadaan segawat ini; dalam momen yang menentukan ini!

     Bilal  melihat bahwa dirinya tidak akan mampu mematahkan perlindungan saudaranya seiman, Abdurrahman bin Auf. Karena itulah, dia berteriak dengan suara sekeras-kerasnya kepada kaum Muslimin, “Wahai para penolong agama Allah! Inilah gembong kekafiran, Umayyah bin Khalaf. Lebih baik aku mati daripada dia dibiarkan lolos!

     Seketika itu pula serombongan kaum Muslimin berdatangan dengan pedang penyebar maut di tangan mereka dan mengepung Umayyah bersama putranya. Abdurrahman bin Auf tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan ia tidak mampu melindungi bajunya yang telah terkoyak-koyak oleh desakan orang banyak.<Lihat: Zadul Ma’ad, Ibnu Qayyim: II/89—edt.>

     Bilal  memandangi tubuh Umayyaah yang telah rubuh oleh tebasan pedang-pedang itu lama sekali, kemudian ia bergegas meninggalkan tempat itu, sementara suaranya yang nyaring mengumandangkan, “Ahad…! Ahad…!

     Saya pikir, kita tidak perlu membahas keutamaan toleransi dari pihak Bilal  dalam suasana seperti itu. Namun, seandainya pertemuan antara Bilal  dengan Umayyah terjadi pada suasana lain, bolehlah kita meminta kepadanya agar member maaf, yang tidak mungkin ditolak oleh Bilal , sosok yang keimanan dan ketakwaannya sangat tinggi.

     Sebagaimana kita ketahui, mereka bertemu di medan laga, tiap-tiap pihak datang ke arena pertempuran itu dengan tujuan menghancurkan pihak lawannya. Pedang dan tombak berkelabat, para korban berguguran, dan maut merajalela berseliweran! Tiba-tiba, pada saat seperti itu, Bilal  melihat Umayyah,  yang tidak sejengkal pun tubuhnya luput dari bekas kekejaman dan siksaan Umayyah.

     Sekali lagi, di manakah Bilal  melihat Umayyah dan dalam suasana seperti apa? Bilal  melihatnya dalam kancah pertempuran. Umayyah memenggal kepala kaum Muslimin yang ditemuinya, dan seandainya ia mendapat kesempatan untuk memenggal kepala Bilal  pada saat itu, tentu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu!  Itulah keadaan yang terjadi saat kedua laki-laki itu berhadapan muka! Dengan demikian, tidaklah adil menurut logika bila kita bertanya kepada Bilal , mengapa ia tidak member maaf sebaik-baiknya.

     Hari demi hari terus berganti hingga tibalah saatnya Mekkah untuk dibebaskan. Dengan mengomandoi 10.000 pasukan kaum Muslimin, Rasulullah   memasuki Mekkah sambil mengucapkan syukur dan takbir. Beliau langsung menuju ke Ka’bah yang telah dipadati berhala oleh Quraish dengan jumlah bilangan hari dalam setahun, yakni tidak kurang dari 360 buah berhala.

     Kebenaran telah datang, dan kebathilan pun telah hancur lebur. Mulai hari ini tidak ada lagi ‘Uzza, Latta, atau Hubal. Sejak saat itu, manusia tidak lagi menundukkan kepalanya ke batu atau burhala, dan tidak ada lagi yang mereka puja sepenuh hati kecuali Allah yang tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Dialah Rabb Yang Maha Tunggal lagi Maha Esa; Maha Tinggi lagi Maha Besar.

     Rasulullah   memasuki Ka’bah dengan membawa Bilal  sebagai teman! Baru saja masuk, beliau telah berhadapan dengan sebuah patung pahatan, menggambarka Ibrahim sedang berjudi dengan anak panah. Rasulullah   sangat murka. Beliau bersabda, “Semoga mereka dihancurkan oleh Allah! Nenek moyang kita tidak pernah melakukan perjudian seperti ini. Dan Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi, atau pun seorang Nasrani, melainkan seorang yang beragama suci dan seorang Muslim, dan sekali-kali bukan dari golongan musyrik.

     Rasulullah   memerintahkan Bilal  naik ke bagian atas Ka’bah untuk mengumandangkan adzan. Bilal  pun mengumandangkan suara adzan. Alangkah mengharukan saat itu. Denyut nadi di kota Mekkah terhenti, dan dengan jiwa yang satu, ribuan kaum Muslimin dengan hati khusyuk dan secara berbisik mengulangi kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Bilal .

     Orang-orang musyrik di rumahnya masing-masing hampir tidak percaya dan bertanya-tanya di dalam hatinya:

     “Inikah dia Muhammad dengan orang-orang miskinnya yang kemarin terusir meninggalkan kampung halamannya?

     Benarkah itu dia yang mereka usir, mereka perangi, dan mereka bunuh keluarga yang paling dicintainya serta kerabat yang paling dekat dengan kepadanya?

     Betulkah itu dia yang beberapa saat lalu nyawa mereka berada di tangannya, memaklumkan kepada mereka, “Pergilah kalian, karena kalian semua bebas”?

     Tiga orang bangsawan Quraish sedang duduk-duduk di pekarangan Ka’bah. Mereka tampak terpukul menyaksikan pemandangan itu, yaitu ketika Bilal  menginjak-injak berhala-berhala mereka dengan kedua telapak kakinya, kemudian di atas reruntuhannya yang telah hancur luluh, Bilal  menyenandungkan suara adzan yang berkumandang di seluruh pelosok Mekkah, tidak ubahnya bagai tiupan angin di musim semi. Ketiga orang itu ialah Abu Sufyan bin Harb  yang telah masuk Islam beberapa saat yang lalu, Attab bin Usaid , dan Al-Harits bin Hisyam , kedua orang ini belum masuk Islam.

     Attab  berkata sambil memandangi Bilal  yang sedang menyuarakan adzan, “Sungguh Usaid (ayahnya yang telah mati) telah dimuliakan Allah, karena ia tidak mendengar sesuatu yang sangat dibencinya!

     Al-Harits  menyahut, “Demi Allah, seandainya aku tahu bahwa Muhammad itu di pihak yang benar, aku pasti mengikutinya!

     Abu Sufyan  yang memang cerdas itu memukas pembicaraan kedua shahabatnya dengan ungkapam, “Aku tidak akan mengatakan sesuatu, karena seandainya aku berkata, kerikil-kerikil ini pasti akan mengabarkannya!

     Ketika Nabi meninggalkan Ka’bah, beliau melihat mereka, lalu dalam sekejap waktu beliau membaca wajah-wajah mereka. Kemudian, dengan kedua cahaya yang bersinar dengan cahaya ilahi, beliau  bersabda kepada mereka, “Aku tahu apa yang telah katakana tadi.

     Beliau lalu menceritakan apa yang mereka katakan sebelumnya. Al-Harits dan Attab pun berseru, “Kami menyaksikan bahwa engkau adalah utusan Allah. Demi Allah, tidak seorang pun mendengarkan pembicaraan kami, hingga kami dapat menuduh bahwa ia telah menyampaikannya kepada engkau.<Ar-Rahiq Al-Makhtum, Al-Mubarakfuri, hlm. 405 (cet. Qatar 1428H/2008M)—edt.>

     Sekarang, mereka menghadapi Bilal  dengan pandangan baru. Dalam lubuk hati mereka bergema kembali kalimat-kalimat yang mereka dengar dalam pidato Rasulullah   pada awal memasuki Mekkah, “Wahai orang-orang Quraish, Allah telah melenyapka diri kalian dari kesombongan jahiliyyah dan kebanggaan terhadap nenek moyang. Manusia itu bermula dari Adam, sedangkan Adam diciptakan dari tanah.

     Bilal  melanjutkan hidupnya bersama Rasulullah   dan ikut mengambil bagian dalam semua perjuangan bersenjata pada masa hidupnya. Ia tetap menjadi muazin, menjaga serta menghidupkan syiar agama besar ini, yang telah membebaskan dirinya dari kegelapan menuju cahaya, dari perbudakan kepada kemerdekaan.

     Kedudukan Islam semakin tinggi, demikian pula kaum Muslimin, taraf dan derajat mereka ikut naik, dan Bilal  semakin lama semakin dekat di hati Rasulullah  . Beliau pernah menyatakan dirinya sebagai seorang laki-laki penduduk surga.

     Tetapi, sikapnya tidak berubah, tetap seperti biasa; mulia dan besar hati, yang selalu memandang dirinya tidak lebih daripada seorang Habasyah yang kemarin menjadi budak. Suatu hari, ia pergi meminang dua orang wanita untuk calon istrinya sendiri dan saudaranya. Ia berkata kepada orang tua kedua wanita itu, “Saya ini Bilal , dan ini saudaraku. Kami berasal dari bangsa budak Habasyah. Pada mulanya kami berada dalam kesesatan kemudian diberi petunjuk oleh Allah. Kami sebelumnya adalah budak-budak belian lalu dimerdekakan oleh Allah. Jika pinangan kami diterima, segala puji bagi Allah, namun bila anda tolak, Allah Maha Besar.

     Rasulullah   kembali ke hadirat ilahi dalam keadaan ridha dan diridhai. Penanggung jawab kaum Muslimin sepeninggal beliau dibebankan di atas pundak Khalifahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq .

     Suatu saat, Bilal  menjumpai Khalifah Rasulullah tersebut untuk menyampaikan isi hatinya. Ia berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘AMAL YANG PALING UTAMA BAGI ORANG BERIMAN ADALAH BERJIHAD FI SABILILLAH.

     “Jadi, apa maksudmu, wahai Bilal ?” Tanya Abu Bakar .

     “Saya ingin berjihad di jalan Allah sampai saya meninggal dunia.” Jawab Bilal .

     “Siapa lagi yang akan menjadi muazin bagi kami nanti?” Tanya Abu Bakar . Dengan air mata berlinang Bilal  menjawab, “Saya tidak akan menjadi muazin lagi bagi orang lain selain Rasulullah.

     “Tidak, tetaplah tinggal di sini hai Bilal , dan menjadi muazin bagi kami!

     “Seandainya anda memerdekakan saya dulu adalah untuk kepentingan anda, baiklah saya terima permintaan itu. Tetapi, bila anda memerdekakan saya karena Allah, biarkanlah diri saya untuk Allah sesuai dengan maksud baik anda itu!

     “Saya memerdekakanmu itu semata-,ata karena Allah, wahai Bilal .
     Mengenai kehidupan Bilal  selanjutnya, ada perbedaan pendapat di antara para ahli riwayat. Sebagian meriwayatkan bahwa ia pergi ke Syria dan menetap di sana sebagai mujahid dan penjaga perbatasan wilayah Islam. Menurut pendapat lain, ia menerima permintaan Abu Bakar  untuk tinggak bersamanya di Madinah. Kemudian, setelah Abu Bakar  wafat dan Umar  diangkat menjadi khalifah, Bilal  meminta izin untuk mohon diri kepadanya, lalu berangkat ke Syria.

     Bagaimanapun juga, Bilal  telah mendedikasikan sisa hidup dan usianya untuk berjuang menjaga benteng-benteng Islam di perbatasan, dan membulatkan tekadnya untuk dapat menjumpai (wafat) Allah dan Rasul-Nya, dalam keadaan sedang melakukan amal yang paling disukai oleh keduanya. Suaranya yang merdu, tulus dan penuh wibawa itu, tidak lagi mengumandangkan adzan seperti biasa. Itu karena setiap kali ia membaca “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, kenangan lamanya bangkit kembali, dan suaranya tertelan oleh kesedihan, digantikan oleh cucuran air mata.

     Azannya yang terakhir ialah ketika Umar  sebagai Amirul Mukminin datang ke Syria. Orang-orang menggunakan kesempatan tersebut dengan memohon kepada khalifah agar meminta Bilal  menjadi muazin untuk satu shalat saja. Amirul Mukminin memanggil Bilal  dan ketika waktu shalat telah tiba, ia meminta dirinya agar menjadi muazin.

     Bilal  pun menaiki menara dan mengumandangkan adzan. Para shahabat yang pernah mendapati Rasulullah waktu Bilal  menjadi muazinnya menangis dan mencucurkan air mata. Mereka menangis seolah-olah tidak pernah menangis sebelumnya dan yang paling keras tangisnya di antara mereka adalah Umar .

     Bilal  berpulang ke Rahmatullah di Syria sebagai pejuang di jalan Allah seperti keinginannya. Di perut bumi Damaskus sekarang terpendam kerangka dan tulang-belulang milik pribadi yang besar di antara manusia, yang sangat teguh dan tangguh pendiriannya dalam mempertahankan keyakinan dan keimanan.

Semoga Allah merahmatimu wahai sang penakluk ketakutan,

Semoga sifatmu yang pemberani membekas di hati kami.





  ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

9 komentar:

Copyright @ 2014 Rotibayn.

Design Dan Modifikasi SEO by Pendalaman Tokoh | SEOblogaf