بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dia diperbincangkan banyak orang karena
memiliki sejarah yang cukup panjang dalam peradaban Islam. Tidak banyak orang
yang mengetahui kemuliaan dirinya. Ia mendapatkan julukan sebagai pamannya
orang-orang mukmin, karena saudara perempuannya merupakan istri Rasulullah. Dia adalah pencetus terbentuknya
armada laut yang berhasil merebut wilayah eropa ke dalam wilayah Islam. Dia
merupakan raja pertama dalam pemerintahan Islam, ialah Mu’awiyah bin Abu
Sufyan.
Mu’awiyah merupakan putra dari seorang
pemuka Quraisy. Ibunya, Hindun binti Utbah dan ayahnya, Abu Sufyan bin Harb
merupakan pasangan yang tercatat ikut memerangi Rasulullah bersama kaum kafir
Quraisy. Namun, di akhir kehidupannya , keduanya mendapatkan hidayah ketika
Rasulullah menaklukkan kota Mekkah sebagai kota orang beriman pada tahun 8 H. Mu’awiyah sendiri tercatat lebih dahulu
memeluk Islam. Peristiwa Hudaibiyah menjadi sejarah yang mengantarkannya pada
Islam. Ketika tahun 6 H
terjadi perjanjian Hudaibiah, saat itu usia Mu’awiyah baru 24 tahun. Dan pada
saat peristwa itu pula dia mengatakan kata-kata yang tulus dari dalam hatinya,
“Saya mulai jatuh cinta kepada Islam.”
Pada tahun 7 H, Rasulullah dan kaum Muslim
datang ke Mekkah untuk melaksanakan umrah yang batal pada tahun sebelumnya. Di
sinilah pintu hatinya terbuka untuk menerima Islam sebagai keyakinan
barunya. Sejak keislamannya, Mu’awiyah
tidak pernah melewatkan waktu untuk belajar kepada Rasulullah. Ia memiliki
sifat terpuji serta kemampuannya yang luar biasa dalam membaca dan menulis.
Kelebihan inilah yang membuat Rasulullah mempercayakannya sebagai salah seorang
pencatat wahyu. Tugas ini merupakan tugas yang paling mulia.
Rasulullah bersabda, “Ya
Allah, jadikanlah Mu’awiyah sebagai pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk,
dan berikanlah petunjuk melalui dirinya.”
Sungguh sangat luar biasa, karena ia mendapatkan petunjuk dari Allah dan orang
yang menjadi penyebab orang lain mendapatkan petunjuk dari Allah. Bukankah
sangat luar biasa? Bukankah kita yang diajari oleh Rasulullah, “siapapun
yang bisa menyadarkan orang sampai orang itu mendapatkan hidayah, itu lebih
baik daripada dunia dan seisinya.”
Pengabdiannya sebagai pembela Islam tetap
ia teruskan meski Rasulullah telah menghembuskan nafas terakhir di tahun 11 H.
Saat munculnya gerakkan murtad di masa kekhalifahan Abu Bakar, Mu’awiyah masuk
ke dalam barisan bersama kaum muslimin lainnya untuk menumpas habis gerakkan
pembelokkan akidah.
Ketika roda kekhalifahan bergulir kepada
Umar bin Al-Khattab, posisi Mu’awiyah pun semakin diperhitungkan. Ia
dipercayakan oleh Amirul Mukminin Umar untuk melanjutkan kepemimpinan
saudaranya, Yazid bin Abu Sufyan sebagai gubernur Syam. Di sinilah Mu’awiyah
mulai memainkan perannya sebagai pemimpin.
Memasuki masa khalifah Utsman bin Affan,
Mu’awiyah semakin dipercaya untuk memimpin wilayah Syam termasuk Suriah, Libanon, Yordania, dan Palestina.
Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh Mu’awiyah untuk semakin memperluas wilayah
Islam. Ia pun meminta izin kepada khalifah Utsman untuk meyeberangi lautan demi
menaklukkan wilayah kependudukan Romawi.
Mu’awiyah pun memerintahkan utusannya
untuk mengantarkan surat kepada khalifah Utsman bin Affan. Maka setelah utusan
itu telah sampai di kota Madinah dan menemui khalifah Utsman bin Affan, ia
berkata, “Ini adalah surat dari Mu’awiyah bahwa ia meminta
izin kepadamu untuk berperang di laut.
”
Khalifah Utsman pun menjawab, “Semoga
Allah merahmati Umar bin Al-Khattab. Apakah Mu’awiyah sudah sangat yakin untuk
berperang melalui laut? Katakanlah kepadanya, ‘berhati-hatilah
ketika mengarungi lautan, sebagaimana diutusnya Rasulullah dengan membawa
kebenaran. Saat itu Umar tidak mengizinkan dibentuknya armada laut karena nyawa
seorang Muslim lebih berharga daripada keayaan Romawi. Aku tahu bahwa dulu Umar
tidak mengizinkanmu untuk berperang di laut. Tetapi, kali ini lakukanlah.
Semoga keselamatan menyertaimu’.”
Suatu saat Rasulullah tidur di siang hari
kemudian beliau terkejut dan beliau bangun. Di saat itu juga, seorang sahabat bertanya
kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah, mengapa engkau
terkejut dan terbangun?” Rasulullah
pun tersenyum dan bersabda setelah terkejut dan bangun dari tidurnya, “Kelak
akan ada dari umatku yang mengarungi lautan. Mereka seperti raja di atas
karpetnya.”
Inilah armada laut pertama dalam peradaban
Islam. Dengan semangat jihad yang tinggi, pasukan tidak kenal takut menghadapi
musuh yang memiliki perlengkapan senjata yang memadai serta memiliki pengalaman
tempur di laut yang lebih banyak. Atas pertolongan dari Allah, pasukan Muslimin
berhasil merebut pulau Cyprus dari pendudukan Romawi.
Prestasi demi prestasi semakin banyak
diperoleh Mu’awiyah. Di bawah kekhalifahan Utsman, ia memerintah secara
bijaksana. Walaupun begitu, ada segelintir orang yang tidak menyukai
kekhalifahan Utsman dan menyebarkan fitnah hingga berhasil memecah belah kaum
Muslimin. Karena ini, kondisi masyarakat semakin kacau balau.
Puncak kekacauan terjadi saat khalifah
Utsman dibunuh oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Setelah kejadian itu,
Ali bin Abu Thalib segera dibaiat untuk menjadi khalifah yang akan menggantikan
kedudukan Utsman bin Affan. Namun, Mu’awiyah yang bersaudara dengan Utsman bin
Affan enggan membaiat Ali bin Abu Thalib. Ia justru menginginkan menuntut bela
atas kematian Utsman dan pengusutan pembunuhan Utsman didahulukan.
Mu’awiyah pun berkata, “Wahai
manusia, Utsman telah dibunuh secara zalim. Utsman telah terbunuh di tangan
ahli fitnah dan dia tidak seharusnya terbunuh karena dia dibunuh di bulan haram
(Dzulhijjah) dan dia dibunuh di negeri haram (Madinah). Dan Allah telah
berfirman :
وَلَا تَقْتُلُوا
النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا
فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ
كَانَ مَنْصُورًا
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah
(membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa
dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada
ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh.
Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.
QS:Al-Israa' | Ayat: 33. Sesungguhnya aku ini keluarga Utsman dan aku menuntut hukum qisas bagi pembunuhnya.”
QS:Al-Israa' | Ayat: 33. Sesungguhnya aku ini keluarga Utsman dan aku menuntut hukum qisas bagi pembunuhnya.”
Khalifah pada saat itu, yakni Ali bin Abu
Thalib sedang berijtihad yang benar dan berkata, “Menyatukan Negara lebih kita dahulukan
dan mari kita satukan karena kita telah tercerai-berai dari kota ke kota dan fitnah pun telah
menyebar. Maka dari itu mari kita satukan. Setelah kita bersatu, mudah bagi
kita untuk menangkap mereka yang memang bersalah karena telah membunuh khalifah
Utsman.”
Yang menjadi masalahnya adalah ketika
ijtihad ini melibatkan masyarakat besar. Jika ijtihad ini terjadi antara
Mu’awiyah dan Ali yang keduanya merupakan orang yang mulia, merupakan sahabat
Nabi serta merupakan ahli ilmu, maka masalah tidak akan membesar. Tetapi ketika melibatkan masyarakat besar yang
mereka tidak semuanya tidak memiliki ilmu, kesalehan yang cukup, maka inilah
yang menimbulkan fitnah itu. Intinya adalah bahwa ini berdasarkan ijtihad para
sahabat Rasulullah. Siapa pun yang berijtihad dengan hasil yang benar maka akan
mendapatkan dua pahala. Dan siapa pun yang berijtihad dengan hasil yang salah
maka akan mendapatkan satu pahala.
Namun belum sempat persatuan umat
dilakukan, para penebar fitnah telah membunuh Ali bin Abu Thalib di Kufah.
Bahkan Mu’awiyah tidak luput dari sasaran pembunuhan para penebar fitnah.
Namun, upaya pembunuhan Mu’awiyah ini gagal.
Ali pun mewasiatkan kepemimpinannya kepada
putranya, Hasan bin Ali. Kabar terbunuhnya Ali membuat Mu’awiyah begitu
terkejut. Ia mendengar kabar terbunuhnya Ali dari salah satu orang yang
mengatakan, “Dengarlah wahai Mu’awiyah, aku
mempunyai kabar berita yang akan membuatmu terkejut dan sangat bermanfaat
untukmu jika aku sampaikan padamu.”
Mu’awiyah pun bertanya dengan menaruh rasa
curiga, “Apa itu?”
“Saudaraku
telah berhasil membunuh Ali bin Abu Thalib tadi subuh,” jawab orang tadi. Mendengar perkataan itu
Mu’awiyah pun langsung terkejut dan sangat murka, lalu mengatakan kepada orang
itu, “Semoga Allah membalasmu!!! Semoga Allah
membalasmu!!!”
Meski berbeda pendapat dengan Ali bin Abu
Thalib, Mu’awiyah tidak kuasa menahan kesedihan atas wafatnya sang pemilik
pedang Zulfikar. Ia pun berkata, “Ali bin Abu Thalib telah wafat. Telah
pergi seorang ahli ilmu dengan wafatnya Ali bin Abu Thalib.” Orang yang berada di dekatnya pun menyahutnya,
“Engkau menangisinya? Engkau menangisinya
karena ia telah terbunuh, wahai Mu’awiyah?”
Mu’awiyah pun membalas, “Celakalah
engkau! Engkau tidak mengetahui bahwa orang-orang terbaik sudah pergi. Yang
berilmu dan cerdas. Padahal aku dan Ali bin Abu Thalib belum menemukan jalan
keluar untuk mengusut tuntas atas terbunuhnya Utsman. Tetapi ia telah terbunuh.”
Inilah kata hati yang jujur dari seorang
Mu’awiyah yang menangisi kepergian orang yang mulia dan orang yang hebat, yaitu
Ali bin Abu Thalib. Dan ia mengatakan bahwa perginya Ali adalah perginya
keutamaan dan perginya ilmu.
Kekhalifahan pun berlanjut di tangan Hasan
bin Ali. Namun, perpecahan kaum Muslimin belum juga tersatukan. Mu’awiyah pun
berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kamu mempunyai akhlak
yang sangat mulia, kamu adalah orang bijaksana, tutur katamu baik dan kamu juga
orang yang zuhud. Demi sebuah kebaikan, mengapa kita tidak bermusywarah? Kamu
juga tidak melibatkan masyarakatmu dan mengabarkan mereka.”
Hingga di bulan keenam akhirnya Hasan bil
Ali berijtihad menyerahkan kekhalifahan kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Hasan
bin Ali pun berkata, “Wahai manusia, ini adalah urusan yang
aku perselisihkan dengan Mu’awiyah. Tetapi Mu’awiyah lebih berhak dariku atas
jabatan ini dan sesungguhnya perselisihan ini sebaiknya kita tinggalkan demi
persatuan umat Rasulullah. Wahai manusia, sesungguhnya aku akan membaiat
Mu’awiyah sebagai Amirul Mukminin. Maka berdirilah kalian untuk membaiatnya.
Ketahuilah, semoga fitnah itu akan berakhir selamanya.”
Ketika Hasan bin Ali ditanya oleh
orang-orang Muslim, “Mengapa anda serahkan kepemimpinan
kepada Mu’awiyah?”
Hasan bin Ali mengatakan, “Pada
waktu dulu, saat ayahku, Ali bin Abu Thalib dan Mu’awiyah berhadapan, yang ada
di depan mata mereka masing-masing mereka adalah akhirat. Di depan mata ayahku
adalah akhirat dan di depan mata Mu’awiyah adalah akhirat. Tetapi, hari ini
ketika sekarang kita sedang berhadapan dengan Muslim lainnya, di depan kita
masing-masing kita adalah dunia, bukan akhirat.”
Berpindahlah kepemimpinan Hasan bin Ali
kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan di tahun 41 H. Inilah tahun yang kemudian
dikenal sebagai “Tahun Persatuan”. Selama 20 tahun Mu’awiyah memimpin, perluasan
wilayah Islam telah mencapai Afrika dan Rusia. Masyarakatnya pun amat mencintai
kepemimpinan Mu’awiyah.
Rasulullah bersabda, “pemimpin
terbaik kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian.
Kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian.” Mari kita tanyakan kepada sejarah saat itu,
bukankah Mu’awiyah adalah pemimpin yang sangat dicintai rakyatnya dan rakyatnya
begitu dicintai Mu’awiyah? Itu berarti Mu’awiyah adalah pemimpin yang terbaik.
Kebaikan itu hanya ada pada Khalifah,
tetapi kemudian setelah itu pemimpin terhebat adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan.
Dia adalah pemimpin yang luar biasa yang menggabungkan antara kebaikan dan
kepemimpinan.
Keutamaan Mu’awiyah sangat banyak, di
antaranya adalah:
- Ungkapan Ibnu Abbas tentang Mu’awiyah di “Shahih Al-Bukhari” di mana Ibnu Abbas ditanyai oleh seseorang, yang berbunyi, “Apakah engkau mempunyai catatan mengeai Amirul Mukminin Mu’awiyah? Ia telah witir dengan satu rakaat.” Ibnu Abbas menjawab, “Ia benar, ia seorang yang paham agama.” Ibnu Abbas tidak mungkin berbicara bohong. Ia mengerti apa yang ia ucapkan.
- Sabda Rasulullah kepadanya, “Ya Allah, jadikanlah Mu’awiyah sebagai pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk, dan berikanlah petunjuk melalui dirinya.”
- Rasulullah mengangkatnya sebagai penulis wahyu.
- Ucapan jajaran sahabat yang paling mulia, tabiin, dan selain mereka yang berisi pujian terhadap Mu’awiyah.
b. Ali berkata ketika ia kembali dari Shiffin, “Wahai
manusia, janganlah kalian membenci kepemimpinan Mu’awiyah, karena bila kalian
kehilangan dia, kalian akan melihat kepala-kepala lepas dari lehernya bagaikan buah
semangka.”
c. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia berkata, “Aku
tidak mengetahui seseorang setelah Rasulullah yang lebih pandai memimpin
manusia daripada Mu’awiyah.” Ada yang
bertanya kepadanya, “Apakah ayahmu tidak juga?” ia menjawab, “Ayahku, Umar
lebih baik daripada Mu’awiyah, tetapi Mu’awiyah lebih pandai memimpin daripada
ayahku.”
d. Ibnu Abbas berkata, “Aku tidak
mengetahui orang yang memang diciptakan untuk menjadi raja melebihi Mu’awiyah.”
e. Abdullah bin Az-Zubair mengatakan, “Alangkah
hebatnya putra Hindun (Mu’awiyah)! Kami dahulu takut kepadanya karena singa
dengan cengkeraman kuku-kukunya tidak lebih berani daripada Mu’awiyah, sehingga
membuat kami takut kepadanya. Tetapi, ternyata kami tertipu oleh penampilannya
itu, karena tidak ada penduduk bumi yang ibadah malamnya tidak lebih khusyuk
daripada dirinya, sehingga kami sudah salah kira terhadapnya. Demi Allah, aku
benar-benar ingin menikmati keadaan dirinya itu selama di gunung itu—sambil
menunjuk ke Gunung Abu Qubais—masih ada batu.”
f.
Qatadah
mengatakan, “Jika pagi hari kalian mengetahui
amalan Mu’awiyah, pasti kebanyakan di antara kalian akan mengatakan, ‘Inilah Imam Mahdi’.”
g. Mujahid mengatakan, “Jika kalian
melihat Mu’awiyah, kalian pasti mengatakan, ‘Inilah
Imam Mahdi’.”
h. Az-Zuhri mengatakan, “Mu’awiyah
bekerja pada pemerintahan Umar bin Al-Khattab bertahun-tahun, tiada cela
sedikit pun darinya.”
i.
Diriwayatkan
dari Al-A’masy bahwa orang-orang menyebut-nyebut Umar bin Abdul Aziz dan
keadilannya, maka ia berkata, “Apa yang kalian katakan seandainya kalian
mengetahui Mu’awiyah?” Mereka
menjawab, “Wahai Abu Muhammad, maksudmu kelembutannya?” ia mengatakan, “Tidak, demi
Allah, tetapi tentang keadilannya.”
j.
Al-Mu’afa
pernah ditanya, “Siapakah yang lebih utama, Mu’awiyah
atau Umar bin Abdul Aziz?” ia
menjawab, “Mu’awiyah lebih utama daripada 600 orang
seperti Umar bin Abdul Aziz.”
k. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan, “Mu’awiyah
adalah paman kaum Muslimin, penulis wahyu Allah, dan salah seorang khalifah
kaum Muslimin. Semoga Allah meridhai mereka.”
l.
Ibnu Katsir
mengomentari biografi Mu’awiyah, “Semua rakyat sepakat untuk berbaiat
kepadanya pada tahun 41 H… Sejak saat itu ia tetap menjadi pemegang tunggal
urusan kekhalifahan sampai pada tahun ia meninggal dunia. Pada masanya jihad
mememrangi musuh ditegakkan, kalimat Allah dijunjung tinggi, ghanimah
dibagi-bagi ke seluruh penjuru wilayah Islam, dan kaum Muslimin hidup
bersamanya dalam ketenangan, keadilan, kelapangan, dan keterbukaan hati.”
m. Ibnu Abil Izz Al-Hanafi berkata, “Raja
pertama kaum Muslimin adalah Mu’awiyah, dan dia adalah sebaik-baiknya raja kaum
Muslimin.”
n. Adz-Dzahabi berkata dalam biografinya, “Ia
adalah Amirul Mukminin, raja Islam.”
Ia juga mengatakan, “Mu’awiyah adalah raja pilihan yang
keadilannya mengalahkan kezaliman.”
Hingga menjelang akhir pemerintahannya di
tahun 60 H, Masyarakatnya mempercayakan agar roda pemerintahan tetap dipegang
oleh Bani Umayah. Mu’awiyah pun menyerahkan kepemimpinan kepada putranya, Yazid
bin Mu’awiyah sebagai penggantinya. Detak jantung Mu’awiyah berhenti di usia 78
tahun. Namun di saat itulah, dinasti Umayah terlahir hingga mencapai usia 90
tahun lamanya. Di bawah Bani Umayah, Islam mencapai puncak kejayaan dengan
perluasan wilayah hingga mencapai wilayah Spanyol dan Asia Tengah. Semoga Allah
meridhai Mu’awiyah bin Abu Sufyan.
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
الحمد لله رب العالمين
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
0 komentar:
Posting Komentar